Perbedaan Ulama’ tentang kemustaq-an Lafadz Allah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa ta’ala, kita memuji-Nya, memohon pertolongan dari-Nya, dan meminta ampunan-Nya.

Kita berlindung kepada-Nya dari keburukan-keburukan jiwa kita, dan kejelekan-kejelekan perbuatan kita. 

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah atas diri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, keluarganya, para sahabatnya, dan orang orang yang setia meniti jalan petunjuknya hingga hari kiamat.

Makna Penafsiran Tasawuf

1. Perbedaan Ulama’ tentang kemustaq-an Lafadz Allah

Perbedaan pendapat ulama‟ bahwa lafadz Allah adalah isim Musytaq, melahirkan beberapa cabang permasalahan :

Sesungguhnya yang namanya tuhan itu pasti adalah yang disembah, baik disembah dengan haq atau disembah dengan bathil. Tetapi kemudian dalam istilah syara‟ bahwa tuhan adalah yang disembah dengan haq. 

Namun dalam islam, Allah adalah dzat yang berhak untuk disembah, karena dia adalah pemberi nikmat, baik nikmat yang besar maupun yang kecil. 

Segala sesuatu yang ada, ada yang mungkin adanya, dan ada yang wajib adanya. Yang wajib adanya hanyalah Allah semata. 

Sementara selain daripada Allah adalah Makhluk yang Allah adakan, baik Allah adakan dari awal permulaannya atau melalui perantara Makhluk itu sendiri. 

Semua yang dirasa oleh segenap makhluknya tak akan pernah ada kecuali dengan Izin-Nya. Sehingga dzat yang paling pantas dan layak untuk disembah hanyalah Allah saja, tidak ada yang lain. 

Sungguh sebagaian daripada manusia ada yang menyembah Allah hanya karena mencari pahala, dan ini merupakan kebodohan dan kurang sempurnanya akal dengan beberapa alasan :

Barang siapa yang menyembah Allah, yang dalam penyembahannya, hanya untuk mengantarkannya pada sesuatu selain-Nya, maka pada hakikatnya yang di sembah adalah sesuatu itu, bukan Allah. 

Begitupun juga ketika seseorang beribadah kepada Allah untuk mendapatkan pahala-Nya, maka yang ia sembah bukan Allah tapi pahala itu. Allah hanya menjadi perantara untuk mensukseskan apa yang menjadi keinginannya. Bukankah ini kebodohan yang besar.

Andaikan ada orang yang sholat dan niatnya seperti ini : “ Saya berniat Sholat untuk mencari Pahala atau Karena takut akan Siksa “ Maka sholatnya tidak sah.

Sesungguhnya apabila seseorang mengerjakan suatu Amal untuk sesuatu yang bukan Allah, dan sesuatu itu berhasil ia dapatkan jalan yang lain, maka sudah pasti dia akan meninggalkan wasilah amal itu. 

Apabila seseorang dapat mendapatkan pahala tanpa harus ibadah kepada Allah, maka ia akan memilih untuk tidak ibadah kepada Allah. 

Dan barang siapa seperti itu maka ia bukan cinta kepada allah dan bukan karena senang beribadah kepadaNya, tetapi justru kebodohan yang nyata.

Ada sebagian orang yang beribadah kepada Allah, karena tujuan yang lebih mulia dari yang semula, semula ia hanya karena kewajiban saja melaksanakan Sholat, tetapi semua itu ia lakukan dengan penuh pengabdian dan penghormatan, akhirnya ia menjadi orang yang benar benar ikhlas dan karena Allah saja, maka dia inilah yang akan mendapatkan kemuliaan yang agung dan tinggi.

Ada sebagian ulama yang mencela terhadap orang yang mengatakan bahwa lafadz  الاله (Tuhan) itu bermakna المعبود (yang disembah), dengan beberapa Alasan berikut :

1. Berhala itu disembah tapi dia bukan tuhan

2. Allah itu adalah Tuhan dari hewan dan Tumbuh-tumbuhan, tapi tak akan ada hewan dan Tumbuh-tumbuhan yang menyembah Allah layaknya Manusia

3. Allah juga tuhan daripada orang-orang gila dan anak kecil, tetapi

mereka tidak menyembah Allah layaknya orang-orang yang

berakal dan sudah mukallaf.

2. Pembahasan Tentang Ar-Rahman Dan Ar-Rahim

Sebelum jauh membahas tentang Ar-Rahman Dan Ar-Rahim, maka perlu diketahui bahwa segala sesuatu itu terbagi menjadi empat Bagian :

1. Pertama : Sesuatu yang penting dan Bermanfaat

2. Kedua : Sesuatu yang tidak penting tetapi bermanfaat

3. Ketiga : Sesuatu yang penting tapi tidak bermanfaat

4. Keempat : Sesuatu yang tidak penting dan juga tidak bermanfaat

Kemudian penjelasan tentang empat bagian adalah sebagai berikut :

1. Sesuatu yang penting dan Bermanfaat baik didunia seperti Nyawa seorang Manusia, karena apabila nyawa tersebut hilang dalam sekejap saja maka kematianlah yang menjadi jawabnya, dan begitupula Ma‟rifat kepada Allah Diakhirat, apabila sirna dari dari diri manusia, maka matilah hatinya dan nerakalah tempatnya.

2. Sesuatu yang tidak penting tetapi bermanfaat seperti harta didunia dan seperti Ilmu dan pengetahuan Di Akhirat.

3. Sesuatu yang penting tapi tidak bermanfaat seperti sakit, mati,dan pikun didunia. Adapun di akhirat tidak ada kecuali hanya kemanfaatan bagi orang orang yang selamat.

4. Sesuatu yang tidak penting dan juga tidak bermanfaat seperti fakir di dunia dan disiksa di akhirat.

Ketika sudah menjelaskan segala sesuatu diatas, maka ketahuilah bahwa kematian seseorang didunia dengan kematian hatinya di akhirat memiliki pengaruh yang berbeda, kematian didunia hanyalah rasa sakit sementara dan sebentar saja, namun kematian hati di akhirat akan menyebabkan seseorang tersebut hinadina dan akan mengalami siksaan dalam waktu yang panjang.

Dari penjelasan diatas setelah kita ketahui bahwa segala sesuatu itu semua masih sebagian atau sedikit atau di cotohkan itu baru setetes dari air laut kasih sayang Allah yang diberikan karena betapa luasnya sifat ar-Rahman dan ar-Rahim, dan ibaratkan juga mendapatkan kemudahan dan selamat dari marah bahaya. 

Jika ingin mengetahui lebih detail tentang dari Sifat Rahman dan Rahim Allah maka ketahuilah bahwa kita atau Manusia adalah mutiara yang tersusun dari ruh, jasad dan badan, dengan ini akan terbuka hati manusia untuk mengetahui Allah yang mempunyai sifat Rahmaniyah dan Rahimiyah.

Kemudian, Ketika di tanyakan, apakah selain Allah itu memiliki Rahmat ? Maka jawabannya adalah ada dua maqom sebagaimana berikut :

1. Pembahasan Pertama

Bahwa tidak ada yang memiliki Rahmat, kecuali Allah Swt, dengan beberapa alasan sebagai berikut :

1. Semua yang terjadi di dunia ini adalah semata-mata karena Rahmat daripda Allah Subhanahu wa ta'ala, 

Adapun manusia juga mempunyai rahmat maka itu adalah pemberian Allah Subhanahu wa ta'ala, Rahmat Allah di dunia berbentuk kasih sayang diantara Sekian Makhluknya, 

Ada orang tua yang mengasihi anaknya, ada hewan menyusui anaknya, semua itu adalah karena Rahmat daripada Allah Subhanahu wa ta'ala, ketika akan berbicara Rahmat atau kasih sayang Allah maka tak akan pernah selesai, karena kasih sayang Allah begitu besar kepada Makhluknya.

2. Allah adalah dzat yang Maha Ada, dan yang ada selain Allah, juga mendapatkan Rahmat dari yang meng-Adakan.

3. Dalam diri manusia itu ada dua pilihan, melakukan ibadah atau meninggalkannya. Ketika manusia memilih untuk beribadah, maka pilihannya itu tidak lepas dari hatinya yang menggerakkan, Allah-lah yang menggerakkan hatinya untuk beribadah. Maka disinilah Allah sebagai yang Maha Rahim.

4. Seseorang yang memiliki gandum belum tentu bisa menikmatinya, dan seseorang yang memiliki kebun juga belum tentu bisa menikmati kebunnya, karena alasan sakit dan sebagainya. Allah yang bisa memberi sekaligus yang bisa memberikan kenikmatan pada yang diberinya itu. Sehingga harus dikatakan bahwa hanya Allah yang maha Rahim dan maha

Pemberi. Ada orang yang diberi tapi Allah tidak memberikan kesempatan untuk menikmati apa yang Allah berikan.

2. Pembahasan Kedua

Jika memang sekiranya ada Rahmat dari selain Allah, maka sudah tentu bahwa Rahmat Allah lebih Agung dan lebih besar, dengan beberapa alasan sebagai berikut :

1. Kenikmatan yang didapat manusia, maka berarti yang memberi nikmat lebih tinggi derajatnya, sehingga manusia layak untuk merendahkan dirinya dihadapan pemberi nikmat itu, ketika perendahan diri tersebut dilakukan dihadapan Allah maka itu sudah barang tentu akan mendapatkan hasil, tetapi kalau perendahan diri tersebut dilakukan di hadapan Manusia, maka justru sebaliknya.

2. Ketika Allah memberikan nikmat kepada manusia, dan manusia dituntut untuk beribadah kepada-Nya, maka justru ibadah tersebut adalah semata-mata untuk keselamatannya kelak di Akhirat.

Tetapi apabila tuntutan tersebut datang dari selain Allah, maka tidak ada jaminan untuk keselamatannya kelak di akhirat.

3. Manusia akan menjadi budak pemberi nikmat yaitu Allah. dan lebih baik menjadi budaknya Allah ketimbang menjadi budaknya manusia.

4. Pemberian dari Allah jauh lebih terhormat daripada hanya sekedar pemberian manusia.

Maka dengan semua bahasan nyatalah bahwa Allah adalah satusatunya yang maha Rahman dan Rahim. Adapun selain Allah juga bisa memberi nikmat, maka sudah pasti bahwa apa yang Allah kasih jauh lebih mulia dan lebih besar daripada apa yang dikasih dan diberi oleh manusia

Manusia.

0 Response to "Perbedaan Ulama’ tentang kemustaq-an Lafadz Allah"

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak