Faktor Penyebab Munculnya Lesbian dan Gay

Anne Krabill Hersberger menjelaskan bahwa sampai saat ini, fakor penyebab timbulnya homoseksualitas (gay dan lesbian) belum dapat diketahui dengan pasti.

Ada beberapa teori yang yang mencoba menjelaskannya. Beberapa orang percaya bahwa perilaku orientasi seks sejenis terjadi karena adanya perkembangan yang terhambat selama pubertas. 

Ada juga yang mengatakan bahwa hal tersebut disebabkan oleh adanya hormon abnormal dalam tubuh seseorang yang belum teridentifikasikan.

Ada juga yang mengatakan bahwa hal itu disebabkan oleh faktor keturunan. Dan ada juga yang mengatakan bahwa hal itu disebabkan oleh lingkungan, misalnya kekacauan dalam rumah tangga.

Secara garis besar, terdapat tiga kemungkinan faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya homoseksual sebagai berikut:

1. Faktor Biologis

Kombinasi atau rangkaian tertentu di dalam genetik (kromosom), otak, hormon, dan susunan saraf diperkirakan mempengaruhi terbentuknya homoseksual.

Deti Riyanti dan Sinly Evan Putra mengemukakan bahwa berdasarkan kajian ilmiah, beberapa faktor penyebab orang menjadi homoseksual dapat dilihat dari:

1. Susunan Kromosom

Perbedaan homoseksual dan heteroseksual dapat dilihat dari susunan kromosomnya yang berbeda.

Seorang wanita akan mendapatkan satu kromosom x dari ibu dan satu kromosom x dari ayah. Sedangkan pada pria mendapatkan satu kromosom x dari ibu dan satu kromosom y dari ayah.

Kromosom y adalah penentu seks pria. Jika terdapat kromosom y, sebanyak apapun kromosom x, dia tetap berkelamin pria. 

Seperti yang terjadi pada pria penderita sindrom Klinefelter yang memiliki tiga kromosom seks yaitu xxy. Dan hal ini dapat terjadi pada 1 diantara 700 kelahiran bayi. 

Misalnya pada pria yang mempunyai kromosom 48xxy. Orang tersebut tetap berjenis kelamin pria, namun pada pria tersebut mengalami kelainan pada alat kelaminnya.

2. Ketidakseimbangan Hormon

Seorang pria memiliki hormon testosteron, tetapi juga mempunyai hormon yang dimiliki oleh wanita yaitu estrogen dan progesteron. Namun kadar hormon wanita ini sangat sedikit. 

Tetapi bila seorang pria mempunyai kadar hormon esterogen dan progesteron yang cukup tinggi pada tubuhnya, maka hal inilah yang menyebabkan perkembangan seksual seorang pria mendekati karakteristik wanita.

3. Struktur Otak

Struktur otak pada straight females dan straight males serta gay females dan gay males terdapat perbedaan. 

Otak bagian kiri dan kanan dari straight males sangat jelas terpisah dengan membran yang cukup tebal dan tegas. Straight females, otak antara bagian kiri dan kanan tidak begitu tegas dan tebal. 

Dan pada gay males, struktur otaknya sama dengan straight females, serta pada gay females struktur otaknya sama dengan straight males, dan gay females ini biasa disebut lesbian.

4. Kelainan susunan saraf

Berdasarkan hasil penelitian terakhir, diketahui bahwa kelainan susunan saraf otak dapat mempengaruhi prilaku seks heteroseksual maupun homoseksual. Kelainan susunan saraf otak ini disebabkan oleh radang atau patah tulang dasar tengkorak. 

Kaum homoseksual pada umumnya merasa lebih nyaman menerima penjelasan bahwa faktor biologislah yang mempengaruhi mereka dibandingkan menerima bahwa faktor lingkunganlah yang mempengaruhi.

Dengan menerima bahwa faktor biologislah yang berperan dalam membentuk homoseksual maka dapat dinyatakan bahwa kaum homoseksual memang terlahir sebagai homoseksual, mereka dipilih sebagai homoseksual dan bukannya memilih menjadi homoseksual. 

Walaupun demikian, faktor-faktor biologis yang mempengaruhi terbentuknya homoseksual ini masih terus menerus diteliti dan dikaji lebih lanjut oleh para pakar di bidangnya.

2. Faktor Lingkungan

Lingkungan diperkirakan turut mempengaruhi terbentuknya homoseksual. Faktor lingkungan yang diperkirakan dapat mempengaruhi terbentuknya homoseksual terdiri atas:

1. Faktor Budaya (adat istiadat)

Dalam budaya dan adat istiadat masyarakat tertentu terdapat ritualritual yang mengandung unsur homoseksualitas. 

Karena pada dasarnya budaya dan adat istiadat yang berlaku dalam suatu kelompok masyarakat tertentu sedikit banyak mempengaruhi pribadi masing-masing orang dalam kelompok masyarakat tersebut.

Maka demikian pula budaya dan adat istiadat yang mengandung unsur homoseksualitas dapat mempengaruhi seseorang. 

Mulai dari cara berinteraksi dengan lingkungan, nilai-nilai yang dianut, sikap, pandangan, maupun pola pemikiran tertentu terutama yang berkaitan dengan orientasi, tindakan, dan identitas seksual seseorang.

2. Faktor Pola asuh

Cara mengasuh seorang anak juga dapat mempengaruhi terbentuknya homoseksual. Sejak dini seorang anak telah dikenalkan pada identitas mereka sebagai seorang pria atau perempuan. 

Dan pengenalan identitas diri ini tidak hanya sebatas pada sebutan namun juga pada makna di balik sebutan pria atau perempuan tersebutmeliputi:

1. Kriteria penampilan fisik seperti pemakaian baju, penataan rambut, perawatan tubuh yang sesuai, dan sebagainya.

2. Karakteristik fisik yakni perbedaan alat kelamin pria dan wanita, misalkan pria pada umumnya memiliki kondisi fisik yang lebih kuat dibandingkan dengan wanita, 

Pria pada umumnya tertarik dengan kegiatan-kegiatan yang mengandalkan otot kasar sementara wanita pada umumnya lebih tertarik pada kegiatan-kegiatan yang mengandalkan otot halus.

3. Karakteristik sifat misalkan pria pada umumnya lebih menggunakan logika sementara wanita pada umumnya cenderung lebih menggunakan perasaan atau emosi, 

Pria pada umumnya lebih menyukai kegiatan-kegiatan yang membangkitkan adrenalin, menuntut kekuatan dan kecepatan, sementara wanita lebih menyukai kegiatan-kegiatan yang bersifat halus, menuntut kesabaran dan ketelitian.

4. Karakteristik tuntutan dan harapan. Untuk masyarakat yang menganut sistem paternalistik maka tuntutan bagi para pria adalah untuk menjadi kepala keluarga dan bertanggung jawab atas kelangsungan hidup keluarganya.

Dengan demikian pria dituntut untuk menjadi figur yang kuat, tegar, tegas, berani, dan siap melindungi yang lebih lemah (seperti istri, dan anak-anak). 

Sementara untuk masyarakat yang menganut sistem maternalistik maka berlaku sebaliknya bahwa wanita dituntut untuk menjadi kepala keluarga.

5. Figur orang yang berjenis kelamin sama dan relasinya dengan lawan jenis.

Dalam proses pembentukan identitas seksual, seorang anak pertama-tama akan melihat pada orang tua mereka sendiri yang berjenis kelamin sama dengannya, 

Anak laki-laki melihat pada ayahnya, dan anak perempuan melihat pada ibunya dan kemudian mereka juga melihat pada teman bermain yang berjenis kelamin sama dengannya.

Homoseksual terbentuk ketika anak-anak ini gagal mengidentifikasi dan mengasimilasi apa, siapa, dan bagaimana menjadi dan menjalani peranan sesuai dengan identitas seksual mereka berdasarkan nilai-nilai universal pria dan wanita.

Kegagalan mengidentifikasi dan mengasimilasi identitas seksual ini dapat dikarenakan figur yang dilihat dan menjadi contoh untuknya tidak memerankan peranan identitas seksual mereka sesuai dengan nilai-nilai universal yang berlaku.

Seperti ibu yang terlalu mendominasi dan ayah yang tidak memiliki ikatan emosional dengan anak-anaknya, ayah tampil sebagai figur yang lemah atau orang tua yang homoseksual. 

Namun tidak semua anak yang dihadapkan pada situasi demikian akan terbentuk sebagai homoseksual karena masih ada faktor lain yang juga dapat mempengaruhi dan tentunya juga karena kepribadian dan karakter setiap orang berbeda-beda.

Sedangkan pendapat yang lain mengatakan seseorang menjadi homoseksual dan lesbian dapat terjadi karena adanya “pembelokan” sejak masa balita yang jika dibiarkan akan sampai ke orientasi seksual. Beberapa pembelokan tersebut disebabkan oleh :

1. Salah Panutan

Seorang anak salah mengambil panutan karena dipaksa oleh situasi dan kondisi keluarga. Misalnya seorang anak laki-laki mengambil peran panutan dari ibunya atau sebaliknya. 

Pemaksaan ini disebabkan oleh beberapa hal seperti broken home, ketidakharmonisan keluarga, dominasi ibu, dominasi ayah, kekerasan rumah tangga, dan lain-lain. Selain itu beberapa anak dibiarkan mengambil panutan secara demokratis.

Berbeda dengan salah panutan yang terjadi karena situasi dan kondisi, maka poin ini terjadi karena seorang anak salah mengambil panutan disebabkan kebebasan (demokratis) dari orang tuanya. 

Biasanya pemicu ketiga ini terjadi di negara-negara Eropa atau Amerika.Namun sekarang sudah mulai terjadi di Indonesia juga.

2. Over Protective (perlindungan yang berlebihan)

Misalnya anak laki-laki terlalu dimanja atau dilindungi sehingga membunuh karakter kelaki-lakiannya. Hal ini biasanya terjadi pada anak bungsu, tunggal, satu-satunya jenis kelamin dalam keluarga, atau anak yang diistimewakan.

Banyak teori yang pernah dikemukakan terus digali dan diteliti ulang karena banyak kritik yang menyusul, tetapi penyebab belum pasti juga diketahui. 

Hal ini disebabkan keunikan jiwa manusia dan hubungan timbal balik dengan latarbelakangnya, dan lingkungannya serta perkembangan sosialnya. Namun pada umumnya orang meninjau penyebab dari beberapa segi kehidupan antara lain adalah:

1. Pengaruh keadaan keluarga dan kondisi hubungan keluarga

Keadaan keluarga yang tidak harmonis dapat menjadi salah satu faktor penyebab seorang anak menjadi berperilaku menyimpang. 

Hal ini dikarenakan hubungan antara ayah dan ibu yang sering cekcok, antara orangtua dengan anak-anak yang tidak harmonis atau bermasalah, juga ibu yang terlalu domain didalam hubungan keluarga (sehingga meminimalis peran ayah).

2. Pengalaman seksual buruk pada masa kanak-kanak

Ada yang mengatakan bahwa pelecehan seksual dan kekerasan yang dialami seorang perempuan pada masa kanak-kanak akan menyebabkan anak tersebut menjadi seorang lesbian pada waktu dewasanya.

3. Pengaruh lingkungan

Karakter seseorang dapat dikenali dari siapa teman-temannya atau pengaruh lingkungan yang buruk dapat mempengaruhi seseorang bertingkah laku seperti orang-orang dimana ia berada. Peristiwa salah bentuk (perverse) homoseksual itu akan mengarah pada bentuk yang patologis.

0 Response to "Faktor Penyebab Munculnya Lesbian dan Gay"

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak