Keutamaan Saling Memaafkan

Bismillahirrahmanirrahim. Tiada untaian kata yang pantas diucapkan seorang hamba dan syukur kehadirat Allah subhanahu wa ta'ala, semoga rahmat dan karunia-Nya selalu menyertai setiaplangkah-langkah kita dalam penghambaan kepada-Nya. 

Tak lupa pula, shalawat serta salam tetap tercurahkan kepada manusia paling mulia, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, keluarga, para sahabat, dan para pengikutnya yang selalu istiqamah dalam menjalankan risalahnya hingga akhir zaman.

Sudah menjadi kodrat sebagai manusia tidak terlepas dari kesalahan dan ketidaksempurnaan dalam perbuatan. 

Namun demikian manusia diciptakan juga dibekali dengan sifat-sifat untuk memperbaiki kesalahannya. 

Salah satu sifat yang dianjurkan untuk kita miliki adalah sifat pemaaf. Sifat pemaaf merupakan sifat yang mulia, karena tidak semua manusia dapat berbesar hati dengan mudah untuk memaafkan kesalahan orang lain.

Hal-hal yang tidak disadari semua orang dalam pergaulan dengan sesama adalah melakukan sesuatu, baik secara lisan maupun perbuatan yang tidak disadarinya telah melukai hati atau perasaan orang lain meskipun hal tersebut dilakukan dengan tidak kesengajaan. 

Tapi kalau hal tersebut dibiarkan akan berakibat buruk terhadap hubungan antar individu yang bersangkutan. 

Untuk itu ketika merasa ada yang melukai hati dan perasaan kita maka sebaiknya kita tidak langsung marah terhadapnya, tetapi cari kebenarannya dahulu agar sikap yang akan kita ambil jangan sampai salah. 

Sehingga merugikan diri kita sendiri, dan kalau hal tersebut dibiarkan akan merusak hati kita menjadi seorang yang pendendam dan berfikiran negatif.

Beberapa perbuatan yang menimbulkan kesalahpahaman antara seseorang dengan orang lain:

1. Tidak terjaganya lisan

Seringkali kita mengucapkan kata kata yang tidak baik atau menyakiti orang lain. Kata kata seperti mencela orang lain, memaki-maki, menerangkan keburukan orang lain atau berghibah (membicarakan keburukan orang lain, mencari kesalahan dan kelemahan orang lain, mencari keburukan dan kekurangan orang lain, membicarakan aib orang lain),  membentak orang lain, berkata dengan nada yang kasar, menyinggung perasaan orang lain. 

Apabila kita membiarkan keadaan tersebut tentu akan menjadi kebiasaan yang sangat merugikan bagi kehidupan kita saat ini dan kedepannya. Ucapan yang sudah keluar sulit untuk dapat diralat kembali apabila sudah didengarkan oleh banyak orang. 

Kadang kita menyadari bahwa apa yang telah kita ucapkan tadi ternyata salah, namun bagaimana kita akan mendatangi satu per satu orang yang sudah mendengar ucapan kita untuk meralatnya. 

Bisa jadi mereka sudah menyampaikan ke orang lain juga sehingga bisa berkali lipat kesalahan kita gara gara ucapan yang sudah terlanjur keluar. Tentu saja akibatnya akan bertambah banyak pula orang memberikan penilaian buruk terhadap kita. 

Maka menjaga lisan adalah hal yang seharusnya kita lakukan, dengan cara berkata kata yang baik dan memberikan banyak manfaat. Sebelum mengeluarkan kata kata atau ucapan ada baiknya kita memikirkan konsekuensi yang akan kita terima dari orang lain  agar tidak menyesal dikemudian hari.

2. Tidak terjaganya perilaku diri

Dalam kehidupan bersosial dan bermasyarakat tentulah kita selalu berkontak dan berhubungan langsung dengan orang lain. Perilaku yang kita tunjukkan akan mempengaruhi penilaian orang lain terhadap kita. 

Tanpa disadari kita menunjukkan perilaku yang kurang menyenangkan bagi orang lain. Kadang seseorang menjadi sombong terhadap apa yang dimilikinya seperti harta benda atau kekayaan, dan dengan mudahnya menganggap orang lain berada dibawahnya. 

Padalah harta benda yang dimilikinya itu adalah titipan dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang sewaktu-waktu dapat diambil lagi oleh pemiliknya. 

Selain itu, ada juga perilaku yang tidak disadari telah menjerumuskan kita yaitu menuruti hawa nafsu, tidak berfikir panjang dalam bertindak, suka marah, berlaku kikir dengan tidak memberikan bantuan kepada orang lain yang membutuhkan,  melakukan pekerjaan-pekerjaan yang tidak penting seperti kemaksiatan dan bangga dengan dirinya sendiri seakan-akan orang lain tidak berarti. Perilaku-perilaku tersebut yang harus kita hindari mulai dari sekarang. 

Karena kalau dibiarkan perilaku buruk tersebut akan menjadi kebiasaan yang mendarah daging yang sulit untuk dihilangkan yang akan mengakibatkan kerugian besar bagi kita dan hubungan sosial kita terhadap orang lain. Selain itu perilaku buruk juga akan merusak amalan kita sehingga akan menjadikan kita orang yang merugi.

3. Tidak punya kepedulian terhadap orang lain

Keseharian kita tentu tidak lepas dari interaksi dengan orang lain. Karena dalam hidup kita tidak bisa sendiri dan selalu butuh kehadiran orang lain, bisa keluarga, tetangga, teman atau sahabat dan masyarakat luas yang lain dalam segala aspek kehidupan.

Tentu saja banyak hal yang harus kita perhatikan dalam hubungan keseharian kita. Kita dituntut untuk selalu memperhatikan dan menjaga hubungan baik itu. 

Kadang karena kesibukan, kita jarang bertegur sapa sekedar menanyakan keadaan atau kabar orang-orang di sekeliling kita. Tidak jarang kita hanya mementingkan kebutuhan dan kepentingan diri kita sendiri. 

Kita melakukan pemborosan dengan membeli barang-barang atau sesuatu yang sebenarnya kita tidak membutuhkannya tetapi hanya karena keinginan saja untuk memilikinya. 

Sementara ada orang lain atau tetangga kita yang lebih membutuhkan itu tetapi mereka tidak bisa mendapatkannya karena tidak memiliki uang untuk membelinya. Terkadang pula ada yang berfoya foya menghambur hamburkan hartanya untuk hal-hal yang tidak terlalu penting. 

Atau kita menampakkan kesenangan kita secara berlebihan sementara ada orang lain disekitar kita yang tanpa kita ketahui dan tanpa kita sadari ternyata sedang mengalami kesedihan. 

Untuk itu sikap peduli atau empati harus kita pupuk sedari sekarang agar menjadi kebiasaan yang baik bagi kehidupan kita sehari-harinya.

Yang harus kita lakukan untuk memperbaiki diri agar lebih baik adalah:

1. Menyadari kesalahan dan bersegera meminta maaf

Dari perilaku-perilaku yang menimbulkan kesalahpahaman di atas tentulah hal itu bisa terjadi pada siapa saja. Bisa jadi kita yang diposisi sebagai orang yang melakukan perbuatan tidak baik, atau kita justru diposisi yang diperlakukan tidak baik. 

Kalau kita diposisi yang melakukan perbuatan yang tidak baik tentulah harus bersegera memperbaikinya. Merenungkan apa yang telah kita lakukan, akan menemukan kesalahan-kesalahan yang telah kita lakukan. 

Butuh waktu untuk mencerna dan memahami kenapa kita bisa melakukan kesalahan tersebut. Bisa jadi kita menyadarinya bahwa kita telah melakukan kesalahan setelah ada pihak-pihak yang protes merasa tersakiti. 

Justru dengan adanya pihak yang protes karena merasa dirugikan oleh perbuatan kita, menjadikan lebih mudah bagi kita untuk menelusur atas kesalahan kita, sehingga bisa menjadi pedoman untuk kita memperbaiki diri. 

Sulit memang bagi kita untuk berbesar hati mendatangi pihak yang kita sakiti untuk meminta maaf. Namun hal tersebut harus kita lakukan agar diri kita tidak selalu dihantui rasa bersalah.

Selain kita meminta maaf secara langsung, yang harus kita lakukan adalah memperbaiki diri untuk tidak melakukan kesalahan yang sama di masa mendatang. 

Kita juga harus menjalin silaturahmi dan komunikasi yang baik untuk menunjukkan bahwa kita serius dalam meminta maaf. 

Pemberian maaf dari orang yang kita sakiti sangatlah penting bagi kita, namun tentu saja tidak mudah bagi seseorang untuk memaafkan begitu saja atas apa yang dideritanya. 

Tetapi kita berkeyakinan kalau kita bersungguh sungguh pastilah hati orang yang kita sakiti akan luluh untuk memaafkan kita.

2. Memberikan maaf kalau ada yang meminta maaf pada kita

Kita juga kadang dihadapkan oleh keadaan dimana diri kitalah yang mendapat perlakukan tidak baik atau disakiti perasaan oleh orang lain. 

Namun yang mesti kita lakukan adalah tetap introspeksi diri sebelum balik menyalahkan orang lain. 

Bisa jadi orang lain memperlakukan kita yang tidak sesuai dengan harapan kita karena ada alasan tersendiri. 

Mungkin mereka pernah kita sakiti atau bisa jadi termakan oleh informasi yang tidak benar. Untuk itu kita perlu berhati-hati dalam menyikapinya. 

Yang pertama kita lakukan adalah berjiwa besar untuk tidak langsung marah atau jangan sampai berusaha membalasnya. 

Karena kalau kita tidak bisa mengendalikan diri dan cepat marah maka itu akan merugikan diri kita sendiri. 

Hal yang sangat baik adalah kalau kita bisa memaafkannya tanpa menunggu orang yang menurut perasaan kita telah menyakiti hati meminta maaf terlebih dahulu. 

Sungguh kalau itu yang kita lakukan merupakan perbuatan yang mulia. Sulit memang tetapi harus berusaha memulainya. 

Karena kita berkeyakinan kalau kita mudah memaafkan orang lain, pastilah orang lain juga akan dengan mudah dapat memaafkan kesalahan kita.

Tuntunan dalam Al-Qur’an yang mengajarkan kita untuk saling memaafkan adalah:

Surat an Nisa [4]: ayat 149

Ø¥ِن تُبْدُوا۟ Ø®َيْرًا Ø£َوْ تُØ®ْفُوهُ Ø£َوْ تَعْفُوا۟ عَن سُوٓØ¡ٍ فَØ¥ِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَفُوًّا قَدِيرًا

“Jika kamu menyatakan sesuatu kebajikan, menyembunyikannya atau memaafkan suatu kesalahan (orang lain), maka sungguh, Allah Maha Pemaaf, Mahakuasa.”

Surat Al-A’raf [7]: ayat 199

Ø®ُØ°ِ الْعَفْوَ وَØ£ْمُرْ بِالْعُرْفِ وَاَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِيْنَ

“Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh.”

Surat Asy-Syura [42]: ayat 40

وَجَزَٰٓؤُا۟ سَيِّئَØ©ٍ سَيِّئَØ©ٌ مِّØ«ْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَØ£َصْلَØ­َ فَØ£َجْرُهُÛ¥ عَلَى ٱللَّهِ ۚ Ø¥ِنَّهُÛ¥ لَا يُØ­ِبُّ ٱلظَّٰلِمِينَ

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal, tetapi barangsiapa memaafkan dan berbuat baik (kepada orang yang berbuat jahat) maka pahalanya dari Allah. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang zalim.”

Surat Asy-Syura [42]: ayat 43

وَلَمَن صَبَرَ وَغَفَرَ Ø¥ِنَّ Ø°َٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ ٱلْØ£ُمُورِ

“Tetapi barangsiapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia.”

Surat Ali Imran [3]: ayat 133-134

وَسَارِعُوٓا۟ Ø¥ِلَىٰ مَغْفِرَØ©ٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّØ©ٍ عَرْضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْØ£َرْضُ Ø£ُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,

ٱلَّØ°ِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآØ¡ِ وَٱلضَّرَّآØ¡ِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُØ­ِبُّ ٱلْمُØ­ْسِنِينَ

“(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.”

Demikianlah agama telah mengajarkan kita untuk berbuat saling memaafkan dengan orang lain. Kita menjadi lebih nyaman ketika bergaul dengan orang lain tanpa ada perasaan bersalah dan tanpa merasa ada orang lain yang berbuat salah terhadap kita. 

Hidup akan menjadi lebih bermakna dan bersemangat karena tidak ada lagi rasa kebencian dan kecurigaan, sehingga ketika kita akan mengambil keputusan atau sikap menjadi lebih terarah dan lebih obyektif. 

Yang perlu disadari adalah bahwa setiap orang tidak pernah lepas dari yang namanya berbuat salah. Akan tetapi ketika bersalah kita langsung menyadari dan berusaha memperbaiki itulah yang terbaik.

0 Response to " Keutamaan Saling Memaafkan"

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak