Hal-Hal Yang Merusak Keimanan

Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah Subhanahu wa ta'ala, karena Dialah Tuhan yang menurunkan agama melalui wahyu yang disampaikan kepada Rasul pilihan-Nya, Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam. 

Melalui agama ini terbentang luas jalan lurus yang dapat mengantarkan manusia kepada kehidupan bahagia di dunia dan di akhirat.

Kufur 

Pengertian Kufur

Penggunaan kata al-Kufr (lawan katanya iman) disebut pengertiannya tertutup atau tersembunyi, pengertian ini mengalami perluasan makna ingkar/tidak percaya atau ketidakpercayaan pada Tuhan. 

Kata ini mengandung pengertian yang lebih keras dan tajam daripada kata “unbelief” yang digunakan di kalangan barat, tidak seperti kata un belief yang mengandung pengertian ketidakpercayaan secara pasif. 

Kata kufr di sini mengisyaratkan usaha keras untuk menolak bukti-bukti kebenaran Tuhan yakni sebuah kehendak untuk mengingkari Tuhan, kesengajaan tidak mensyukuri kehidupan dan mengingkari wahyu-Nya termasuk di dalamnya adalah orang-orang yang ateis (tidak percaya pada Tuhan). 

Kemudian dari kata al-kufr inilah kata itu secara ajektif (sikapnya orang kufr) membentuk kata kafir. Dan orang kafir itu dikatakan orang yang mengingkari kebenaran yakni orang yang menyangkal bukti kebenaran wahyu Tuhan yang terdapat dalam ajaran Nabi Muhammad atau yang diajarkan oleh nabi-nabi sebelumnya, termasuk mereka yang tidak bersyukur atas nikmat Allah. 

Kata-kata kafir dalam jamaknya disebut kafirun, kuffar, kafarah dan kifar yang mempunyai pengertian yang sama yaitu tertutup atau ingkar.

Pengungkapan kata kafir menurut bahasa adalah seseorang yang menolak atau mengingkari sesuatu lantaran tertutup . 

Dalam arti teologis (secara istilah), sebutan kafir diberikan oleh masyarakat suatu agama kepada orang lain yang menolak atau tidak mempercayai seruan pembawa agama itu. 

Dalam teologi Islam, sebutan kafir tersebut diberikan kepada siapa saja yang mengingkari atau tidak percaya kepada kerasulan Nabi Muhammad (570-632 M) atau dengan kata lain tidak percaya bahwa agama yang diajarkan olehnya berasal dari Allah, pencipta alam. 

Kendati orang Yahudi atau Kristen meyakini adanya Tuhan,mengakui adanya wahyu, membenarkan adanya hari akhirat, dan lain-lain mereka dalam teologi Islam tetap saja dapat diberi predikat kafir, karena mereka menolak kerasulan Nabi Muhammad atau agama wahyu yang dibawanya.

Pembagian Kufur Menurut Pandangan Ulama

Golongan kafir itu dapat saja dibagi bermacam-macam, seperti:

  1. Kafir ahlul kitab yakni kafir yang memiliki kitab suci seperti orang yang beragama Yahudi, Kristen, Majusi, Hindu dan lain-lain.
  2. Kafir musyrik yakni kafir yang mempersekutukan Tuhan atau menyembah banyak Tuhan atau dewa.
  3. Kafir ateis yakni kafir yang berkeyakinan bahwa Tuhan itu tidak ada dan lain sebagainya.

Sebagian ulama membagi golongan kufur dilihat dari segi syara’ dan dilihat dari segi sikapnya (Daudy: 33-35) maka jika dilihat dari segi syara’ pembagian kufur itu adalah:

1. Kufur akidah mengingkari akan apa yang wajib diimani yang disebut dengan rukun iman (QS An-Nisa’ [4]: 136).

2. Kufur amaliyah tidak mensyukuri nikmat Allah yang telah diberikan kepadanya, hal ini dianggap yang paling berbahaya karena dapat merusak akidah seseorang (QS Al-Luqman [31]: 12). 

Kufur amaliyah ini mempunyai wujud dalam bentuknya yaitu mengingkari bahwa nikmat itu bukan karunia Allah (QS Al-Qashash [28]: 78) 

dan mengakui bahwa nikmat atau karunia itu pemberian Allah, tetapi penggunaannya tidak pada apa yang telah digariskan dalam ajaran Islam seperti berjudi dan lain sebagainya sebagaimana disebutkan dalam surat Ibrahim (14): 7, yaitu:

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu mema’lumkan “Sesungguhya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmatKu), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.

Sedangkan kufur dari segi sikapnya dapat dibagi kepada:

1. Kufur asli: seseorang yang belum pernah beriman dan ia menganut ajaran atau kepercayaan selain Islam (QS AlQashash [28]: 56).

2. Kufur akidah: orang yang telah beriman dengan agama Islam lalu ia keluar dari iman dengan memeluk agama lain (murtad) (QS Al-Baqarah [2]: 217).

3. Kufur hakiki: orang yang hatinya telah terikat sepenuhnya dengan kekufuran serta merasa puas dan yakin akan kebenaran atau kepercayaan yang dianutnya (QS An-Nahl [16]: 106).

Ada juga yang membagi jenis kufur ini yaitu kufur besar dan kufur kecil. 

Golongan yang termasuk pada kufur besar adalah: 

  • kufur yang bisa mengeluarkan seseorang dari agama Islam seperti kufur karena mendustakan (QS Al-Ankabut [29]: 68), 
  • kufur karena enggan dan sombong (QS Al-Baqarah [2]: 34), 
  • kufur karena ragu (QS Al-Kahfi [18]: 35-38), kufur karena berpaling (QS Al-Ahqaf [46]: 3), 
  • kufur karena nifaq (QS Al-Munafiqun [63]: 3). 
Sedangkan golongan kafir kecil yaitu kufur yang tidak menjadikan pelakunya keluar dari agama Islam dan ia adalah kufur amali yang tingkat dosa kufurnya tidak mencapai derajat kufur besar (Shalih: 15-18).

Tidak ada halangan bagi umat Islam untuk membina hubungan sosial yang baik dengan golongan kafir, sehingga terlaksana kerja sama, gotong royong, saling membantu, dan lain sebagainya, asal saja pihak kafir tidak menghalangi umat Islam untuk hidup dan beribadat menurut tuntutan Islam. 

Islam melarang penganutnya melakukan pemaksaan terhadap orang kafir agar menganut Islam kendati ia berada dalam kekuasaan penguasa Islam, memiliki hak dan kewajiban seperti yang dimiliki umat Islam. 

Islam menyuruh umatnya agar menghargai dan membiarkan kaum kafir itu hidup dan beribadah menurut keyakinan mereka. 

Toleransi Islam terhadap non Muslim, cukup jelas dalam ajaran dan cukup terbukti dalam praktik sejarah umat Islam. 

Permusuhan terhadap kafir dapat dibenarkan bila pihak kafir lebih dulu memulai permusuhan terhadap umat Islam.

Perbedaan kufur besar dan kufur kecil adalah:

1. Kufur besar mengeluarkan pelakunya dari agama Islam dan menghapuskan (pahala) amalnya, sedangkan kufur kecil tidak menjadikan pelakunya keluar dari agama Islam, juga tidak menghapuskan (pahala) amalnya, tetapi bisa mengurangi pahalanya sesuai dengan kadar kekufurannya dan pelakunya dihadapkan dengan ancaman.

2. Kufur besar menjadi pelakunya kekal di dalam neraka, sedangkan kufur kecil jika pelakunya masuk neraka maka ia tidak kekal di dalamnya, dan bisa saja Allah memberi ampunan kepada pelakunya sehingga ia tidak masuk neraka sama sekali.

3. Kufur besar menjadi halal darah dan harta pelakunya sedangkan kufur kecil tidak demikian.

4. Kufur besar mengharuskan adanya permusuhan yangsesungguhnya antara pelakunya dengan orang-orang mukmin tidak boleh mencintai dan setia kepadanya, betapapun ia adalah keluarga terdekatnya. 

Adapun kufur kecil mereka tidak melarang secara mutlak adanya kesetiaan terhadap pelakunya dicintai dan diberi kesetiaan sesuai dengan kadar keimanannya dan dibenci serta dimusuhi sesuai dengan kadar kemaksiatannya.

Bahaya dari Perbuatan Kufur dan Ucapan Kufur

Seseorang yang sudah menjadi kufur maka dalam ajaran Islam jika ia ingin kembali kepada Islam maka ia harus terlebih dahulu mengucapkan syahadat dalam hal ini tentunya berlaku pada kufur besar sedangkan pada kufur kecil seseorang cukup bertobat dan meminta ampun pada Allah Subhanahu wa ta'ala. 

Perbuatan kufur dapat berdampak bagi seseorang untuk melupakan akidah yang telah dianut bahkan seseorang itu dapat kehilangan kepercayaan terhadap apa yang diyakini sehingga nilai-nilai dari ajaran Islam itu sendiri dapat luntur.

Manusia juga dengan perbuatan kufur yang dilakukan bisa tidak meyakini akan takdir Tuhan yang telah ditetapkan Tuhan padanya bahkan cenderung mengingkari takdir Tuhan. 

Oleh karena itu, manusia yang memiliki sikap kufur perlu ditanamkan padanya keyakinan yang kuat dan harus dihindari karena perbuatan ini dianggap dapat merusak akidah diri sendiri dan orang di sekitarnya.

Nifaq

Pengertian Nifaq

Nifaq secara bahasa berasal dari kata الناققاء, yaitu salah satu lubang tempat keluarnya yarbu (hewan sejenis tikus dari sarangnya di mana jika dicari dari lubang yang satu maka akan keluar dari lubang yang lain). Dikatakan pula berasal dari kata الناققاء, yaitu lubang tempat bersembunyi. 

Nifaq menurut syara’ yaitu menampakkan Islam dan kebaikan tetapi menyembunyikan kekufuran dan kejahatan (Shalih: 20). 

Ada juga yang memberi ungkapan bahwa nifaq secara bahasa adalah kepalsuan sedangkan secara istilah tingkah laku yang menunjukkan kepalsuan pada keimanan seseorang. Orang yang menjadi nifaq atau pelakunya disebut dengan munafik (Ahmad: 43).

Munafik adalah seseorang yang lahiriyahnya menampakkansesuatu (ucapan, perbuatan atau sikap) yang sesungguhnya bertentangan dengan apa yang tersembunyi dalam hatinya. 

Seperti orang-orang yang pura-pura memeluk agama Islam padahal dalam hatinya ia masih tetap kafir, atau seperti orang yang menyimpan sikap permusuhannya yang berlagak bersahabat. 

Jamak dari kata Munafik adalah Munafiqun yang artinya golongan orang-orang yang melakukan kemunafikan terhadap ajaran Islam.

Pengungkapan kata-kata nifaq, munafiqun dalam teks AlQur’an disebutkan ada kurang lebih 13 Surat dan  kurang lebih 52 ayat dan surat yang paling populer dalam pengungkapan orang-orang munafiq adalah pada surat Al-Munafiqun (63): 1, sebagaimana isi suratnya di bawah ini.

اِذَا جَاۤءَكَ الْمُنٰفِقُوْنَ قَالُوْا نَشْهَدُ اِنَّكَ لَرَسُوْلُ اللّٰهِ ۘوَاللّٰهُ يَعْلَمُ اِنَّكَ لَرَسُوْلُهٗ ۗوَاللّٰهُ يَشْهَدُ اِنَّ الْمُنٰفِقِيْنَ لَكٰذِبُوْنَۚ

Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah. 

Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya, dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.

Ciri-ciri Munafik Menurut Al-Qur’an dan Hadis

Jenis-jenis nifaq adalah:

1. Nifaq I’tiqadi (keyakinan atau aqidah, yaitu nifaq besar di mana pelakunya menampakkan keislaman, tetapi menyembunyikan kekufuran. 

Jenis ini seseorang akan keluar dari agama dan masuk dalam neraka. Jenis nifaq ini muncul ketika pada zaman Nabi Muhammad ada segolongan masyarakat di Madinah yang secara lahiriyah memerhatikan sikap simpatik pada Nabi Muhammad dan kepada Islam. Namun sesungguhnya mereka mendukung pihak kafir Quraisy Mekkah. 

Maka dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa orang-orang seperti ini seperti orang-orang yang bersandar pada ranting pohon yang lapuk dan sebagai orang-orang yang hatinya terserang penyakit.

Pemimpin golongan munafik itu disebutkan adalah Abdullah ibn Ubay yang menarik mundur 300 pasukan berkudanya dari barisan pasukan Muslim dalam perang Uhud. 

Ia termasuk pemuka masyarakat di Madinah sebelum kedatangan Nabi Muhammad, hampir menjelang hayatnya ia senantiasa iri kepada nabi dan menyimpan dendam atas kepemimpinan Nabi Muhammad.

Nifaq ini terbagi pada empat macam, yaitu:

  1. Mendustakan Rasulullah dan mendustakan sebagian dari apa yang beliau bawa.
  2. Membenci Rasulullah/membenci sebagian dari apa yang beliau bawa.
  3. Merasa gembira dengan kemunduran agama Rasulullah.
  4. Tidak senang dengan kemenangan agama Rasulullah.

2. Nifaq amali (perbuatan), yaitu nifaq kecil di mana melakukan

sesuatu yang merupakan perbuatan orang-orang munafiq tetapi masih tetap ada iman di dalam hati.  Nifaq jenis ini tidak mengeluarkan dari agama tetapi merupakan wasilah kepada yang demikian.

Perbedaan antara nifaq besar dengan nifaq kecil tersebut adalah:

  1. Nifaq besar mengeluarkan pelakunya dari agama, sedangkan nifaq kecil tidak mengeluarkannya dari agama.
  2. Nifaq besar adalah berbedanya yang lahir dengan yang batin dalam hal perbuatan, bukan dalam hal keyakinan.
  3. Nifaq besar tidak terjadi dari seorang mukmin, sedangkan nifaq kecil bisa terjadi dari seorang mukmin.
  4. Pada ghalibnya pelaku nifaq besar tidak bertaubat, seandainyapun bertaubat, maka ada perbedaan pendapat tentang diterimanya taubatnya di hadapan hakim, lain halnya dengan nifaq kecil, pelakunya terkadang bertaubat kepada Allah sehingga Allah menerima taubatnya.

Dalam sebagian hadis, Rasulullah menyebutkan empat macam ciri khas orang Munafik, yaitu:

  1. Suka berdusta dalam bercerita atau berbicara.
  2. Suka ingkar bila berjanji.
  3. Suka khianat bila diberi kepercayaan (amanat).
  4. Suka mengucapkan kata-kata kotor.

Baik Al-Qur’an maupun Al-Hadis sangat membenci perilaku nifaq dan mengecap dan mengancam orang-orang munafik.

Mereka seperti diisyaratkan Al-Qur’an sangat berbahaya bagi agama Islam dan umat pemeluknya. Itulah sebabnya mengapa Al-Qur’an menyebutkan kata-kata munafik kurang lebih dari 32 kata semuanya dalam bentuk jamak yakni al-munafiqun dan almunafiqat (kaum laki-laki dan kaum perempuan yang munafiq).

Hal ini mengingatkan umat Islam supaya selalu berhati-hati dan waspada terhadap kaum munafik atau hipokrit sebagaimana dalam surat Al-Qur’an surat Munafiqun (63): 4, yaitu: 

اِذَا جَآءَكَ الۡمُنٰفِقُوۡنَ قَالُوۡا نَشۡهَدُ اِنَّكَ لَرَسُوۡلُ اللّٰهِ ‌ۘ وَاللّٰهُ يَعۡلَمُ اِنَّكَ لَرَسُوۡلُهٗ ؕ وَاللّٰهُ يَشۡهَدُ اِنَّ الۡمُنٰفِقِيۡنَ لَـكٰذِبُوۡنَ‌

Dan apabila kaum melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum, dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. 

Mereka itulah musuh (yang sebenarnya). Maka waspadalah terhadap mereka: semoga Allah membinasakan mereka. 

Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran).

Al-Qur’an (QS Al-Ahzab [33]: 1 dan 48) juga menerangkan tentang pelarangan umat Islam dalam mematuhi orang-orang munafik, bahkan memerintahkan supaya bersikap tegas kepada mereka dan memeranginya dengan berbagai cara (QS At-Taubah [9]: 73 dan QS At-Tahrim [66]: 9) serta memerintahkan umat Islam agar selalu bersatu padu dalam menghadapi orang-orang munafiq (QS An-Nisa’ [4]: 88).

Al-Qur’an juga menyebutkan beberapa karakteristik orangorang munafik, di antaranya suka berdusta (QS Al-Munafiqun [63]: 2), suka menipu Allah dan orang-orang mukmin (QS AlBaqarah [2]: 9), gemar bersikap riya’ (QS An-Nisqa’ [4]: 142), plin-plan atau bermuka dua (QS An-Nisqa’ [4]: 143), menyuruh melakukan munkar dan melarang berbuat baik, kikir, atau fasik (QS At-Taubah [9]: 67) dan menghalangi orang yang mencintai Nabi Muhammad (QS An-Nisa’: 61). 

Kemudian Al-Qur’an sendiri mengancam orang-orang munafiq dengan siksaan yang amat berat (QS An-Nisa’ [4]: 138 dan QS Al-Ahzab [33]: 24) yang memasukkannya ke dalam neraka jahannam di lapisan yang paling dasar (QS An-Nisa [4]’: 140 dan 145).

Bahaya dari Sifat Munafiq

Usaha-usaha orang munafik adalah:

  1. Menghalangi-halangi manusia beriman untuk taat kepada Allah dan Rasulnya (QS An-Nisa’: 61).
  2. Mengajak kepada kekafiran (QS An-Nisa’ [4]: 89).
  3. Melakukan amar mungkar (memerintahkan yang jelek dan Nahi Makruf (mencegah yang baik) (QS At-Taubah [9]: 67).

Imam Asy-Syanqiti (Muhammad al-Amin bin Muhammad Mukhtar al-Jakani asy-Syanqiti) seorang ahl tafsir dalam kitabnya Adwa’ al-Bayan (cahaya penerang) menggambarkan bahwa orangorang munafik adalah orang tuli, bisu, dan buta karena mereka sengat menutup telinga, mengunci mulut dan menutup mata dari kebenaran, terlebih dahulu menutup hati mereka dari petunjuk Allah Subhanahu wa ta'ala. dan Rasulnya. 

Orang munafik yang jikalau ada di sektiar kita harus terus diberi nasihat agar tidak memberikan mudharat bagi lingkungan sekitarnya. 

Karena orang munafik tersebut sangat berbahaya bagi persatuan dan kesatuan umat Islam sehingga Allah memberikan ultimatum yang keras bagi orang-orang yang bersifat munafiq.

Cara-cara menghadapi orang adalah sebagai berikut:

  1. Tidak menjadikan orang munafik sebagai pelindung, penolong, dan pemimpin.
  2. Bersikap tegas dan memerangi mereka (QS An-Nisa’ [2]: 89 dan QS At-Taubah [9]: 73).
  3. Waspada dan tidak mudah tergoda dengan ajakan mereka, karena orang-orang munafik itu suka berolok-olok dan menertawakan orang-orang yang mendapat petunjuk Allah Subhanahu wa ta'ala.

Balasan bagi orang-orang munafik adalah:

  1. Mendapat siksaan dua kali sebelum menerima azab yang besar (QS At-Taubah [9]: 101).
  2. Dimasukkan ke dalam neraka jahanam dan dilaknat Allah selama-lamanya (QS At-Taubah [9]: 68).
  3. Allah akan melupakan mereka sebagaimana dalam surat AtTaubah (9): 67. 

Syirik 

Pengertian dan Pembagian Syirik

Syirik arti katanya dari segi bahasa adalah sekutu persekutuan, dalam istilah ilmu tauhid, syirik digunakan dalam arti mempersekutukan Tuhan lain dengan Allah, baik persekutuan Tuhan lain dengan Allah, baik persekutuan itu mengenai zat-Nya, sifat-Nya, af’al-Nya, maupun mengenai ketaatan yang seharusnya ditunjukkan hanya kepada-Nya. 

Syirik adalah lawan kata tauhid, yang berarti mengesakan Allah dan mensucikan-Nya dari segala jenis persekutuan. Orang yang mempersekutukan Allah Subhanahu wa ta'ala. disebut musyrik.

Dalam Al-Qur’an, ada tiga puluh enam bentuk kata yang berasal dari akar kata syirik, kata musyrikin ada 11 surat dengan 21 ayat, kemudian kata musyrik 14 surat dengan 46 ayat, sedangkan dengan kata dasar syirik disebutkan 12 surat dengan 21 ayat dan hanya beberapa akar kata yang diungkapkan di tulisan ini yaitu 

  • asyraka (QS Al-A’raf [7]: 173); (QS Az-Zumar [39]: 65), 
  • asyraktum (QS Al-An’am [6]: 81); 
  • asyraktumuni (QS Ibrahim [14]: 22); 
  • asyrakna (QS Al-An’am [6]: 148); 
  • asyraku (QS Al-Baqarah [2]: 96; QS Al-Imran [3]: 151, 186; QS Al-Maidah [5]: 82; QS Al-An’am [6]: 22, 88, 107, 148; QS Yunus [10]: 28; QS An-Nahl [16]: 354, 86; QS Al-Hajj [22]: 17), 
  • syarikhum (QS Isra’ [17]: 64), 
  • usyrik/a/u (QS Ar-Ra’d [13]: 36; QS Al-Kahfi [18]: 38, 42; QS Mu’min [23]: 42; QS Al-Jin [72]: 20) dan lain sebagainya. contoh ayatnya dalam kata asraku (QS Ali-Imran [3]: 151). 
سَنُلْقِيْ فِيْ قُلُوْبِ الَّذِيْنَ كَفَرُوا الرُّعْبَ بِمَٓا اَشْرَكُوْا بِاللّٰهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهٖ سُلْطٰنًا ۚ وَمَأْوٰىهُمُ النَّارُ ۗ وَبِئْسَ مَثْوَى الظّٰلِمِيْنَ

Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu.  Tempat kembali mereka ialah neraka, dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang yang zalim.

Maka kata asrak/isyrak (menyekutukan) dalam ayat itu adalah menyepadankan Allah dengan yang lain. 

Dan siapa yang menyepadankan Allah dengan makhluk-Nya, maka ia telah musyrik, karena Allah itu satu tidak ada sekutu, tidak ada hubungan maupun bandingannya.

Dengan demikian, menambahkan atau membandingkan sesuatu terhadap Tuhan sebagai yang nyata adalah tingkat dosa syirik. 

Pengistilahan terhadap dosa syirik ini disebutkan bagi orang paganisme (penyembah berhala) yang juga disebut musyrikin (orang yang mempersekutukan tuhan). 

Bahkan syirik merupakan perlawanan terhadap Tuhan yang bersifat fundamental dengan tidak mengabaikan orang-orang yang berkeyakinan kepada Tuhantuhan selain Allah, termasuk di dalamnya ada kalangan ateis (meyakini sesuatu yang nisbi sebagai Tuhan). 

Syirik merupakan lawan dari kepasrahan diri kepada Tuhan (Islam), yang merupakan sikap pengakuan dan kepasrahan diri kepada Tuhan (Islam), yang merupakan sikap pengakuan dan penerimaan akan realitasnya pada pengetahuan Tuhan atau Islam. Sebab Islam adalah pengetahuan yang diyakini melalui syahadah (penyaksian).

Menurut Imam al-Raghib al-Ishfahani, bahwa definisi syirik secara istilah itu adalah menetapkan adanya sekutu bagi Allah, sedangkan Imam al-Minawi syirik adalah menyandarkan perbuatan yang hanya zat Yang Maha Esa semata berhak melakukannya kepada makhluk yang bukan haknya melakukan perbuatan itu (dikutip dari ungkapan M. Bin Abdurrahman al-Khumais: 18-19).

Sebagian diungkapkan bahwa syirik itu berasal dari kata Syirkun yaitu bercampur maksudnya orang yang mencampurkan keyakinannya kepada selain Allah, tingkatan ini disebut pada syrik aqidah sedangkan yang mencampurkan niatnya dalam ibadah semata tidak mencari ridha Allah disebut sebagai syirik ibadah (Sazaly Effendi: Macam-macam Syirik, Harian Global Jumat 2 Februari 2007).

Dengan demikian, syirik selain dianggap mempersekutukan Allah juga mencampurkan keyakinan dengan sesuatu yang lain sehingga ia merupakan perbuatan dosa yang paling berat (QS Al-Luqman [31]: 13) yang tidak dapat diampuni (QS An-Nisa’ [4]: 48), bukan karena Allah iri hati namun karena hal itu dapat merusak akhlak manusia dan adalah mustahil bagi-Nya. 

Demikian kejinya perbuatan syirik itu sehingga orang yang melaksanakannya (musyrik) dianggap najis dan diharamkan mendekati masjidil haram (QS At-Taubah [9]: 28). 

Manusia diberi mandat untuk menjadi khalifah Allah di muka bumi (QS Al-Baqarah [2]: 30), hal ini menunjukkan bahwa manusia diberi kekuasaan dan kepercayaan untuk memimpin seluruh makhluk Allah yang ada di bumi. 

Allah telah menciptakan seluruh yang ada di langit dan di bumi untuk tunduk kepada manusia (QS Al-Jaatsiyah [45]: 12,13), karena manusia diciptakan untuk memimpin jagat raya, serta diberi kekuatan dan kekuasaan untuk menaklukkan dan menguasai segala sesuatu demi kesejahteraan dan kemakmuran umat manusia di bumi, agar tugas kekhalifahannya yang diberi mandat oleh Allah dapat berhasil, bahkan termasuk malaikat pun diperintahkan untuk bersujud kepada manusia (QS Al-Baqarah [2]: 34), sebagai bukti manusia mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki oleh malaikat dalam mengatur dunia ini. 

Dengan demikian, manusia mempunyai kedudukan yang sangat tinggi di atas sekalian makhluk. Namun kenapa ia harus menyembah makhluk juga yang sama-sama makhluk atau lebih rendah darinya. 

Hal ini tentu akan menurunkan derajatnya sendiri jika ia mengambil makhluk lain sebagai Tuhan, dan bersujud kepada benda-benda yang seharusnya ia perintah dan ia taklukkan (QS Al-An’am [6]: 165, QS Al-A’raf [7]: 140). 

Itulah sebabkan syirik dikategorikan sebagai perbuatan dosa yang paling besar dan tak dapat diampuni, karena syirik menurunkan derajat manusia, dan membuat manusia tak pantas lagi menempati kedudukan tinggi yang telah ditentukan Allah untuknya.

Penggolongan dari Perbuatan Syirik Dilihat dari Berbagai Segi

Berdasarkan ayat Al-Qur’an dapat disimpulkan ada dua bentuk syirik, yaitu:

Pertama, bentuk yang paling menyolok, ialah penyembah sesuatu selain Allah, misalnya batu, pohon, binatang, patung, kuburan, benda-benda langit, kekuatan alam, manusia yang dianggap setengah dewa, dewa penjelmaan Tuhan, anak laki-laki atau anak perempuan tuhan bentuk pertama ini disebut dengan Zahirun Jaliyun (Tampak nyata).

Kedua, bentuk syirik yang kurang menyolok atau sama ialah menyekutukan sesuatu dengan Allah, dengan menganggap benda-benda itu mempunyai sifat-sifat yang sama seperti sifat Allah. Kepercayaan ada dua Tuhan, Tuhan pencipta kebaikan dan Tuhan pencipta kejahatan, meminta pengabulan doa lewat perantara khususnya orang-orang yang sudah meninggal, bentuknya disebut juga dengan Bathinun Khafiyun (tersembunyi) (Harun Nasution, dkk: 1119).

Sebagian ulama ada yang menyebutkan bahwa syirik yang dilakukan manusia dalam agama itu ada dua macam. 

Pertama: Syirik besar yaitu menetapkan adanya sekutu bagi Allah, dan ini merupakan kekafiran yang terbesar. 

Adapun syirik besar termasuk kepada syirik doa yaitu 

  • di samping ia berdoa kepada Allah ia juga berdoa kepada selainnya (QS Al-Ankabut [29]: 65), 
  • syirik niat keinginan dan tujuan yaitu ia menunjukkan suatu bentuk ibadah untuk selain Allah (QS Huud [11]: 15-16), 
  • syirik ketaatan yaitu mentaati selain Allah hal maksiat kepada Allah (QS At-Taubah [9]: 3), 
  • syirik mahabbah yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal kecintaan (QS Al-Baqarah [2]: 165) (Shalih: 8-10).

Hal ini tergolong syirik yang mencolok maupun syirik yang samar.

Kedua adalah syirik kecil yang termasuk pada syirik yang samara (tidak jelas) dan mengandung kemunafikan. 

Yang termasuk pada syirik kecil adalah bersumpah dengan selain Allah, memakai zimat, menggunakan mantra-mantra untuk menolak kejahatan dan pengobatan, ramalan atau perbintangan, bernazar kepada selain Allah, menyembelih binatang atau mempersembahkan korban bukan kepada Allah dan memiliki sifat riya. 

Pada syirik kecil ini dapat mengurangi nilai tauhid dan merupakan wasilah kepada syirik besar yang termasuk pada syirik kecil ini adalah syirik zhahir (nyata) dan syirik kahfi (tersembunyi). 

Syirik zhahir adalah yang dilakukan dalam bentuk ucapan dan perbuatan. Bentuk ucapan misalnya bersumpah dengan nama selain Allah. Sebagaimana hadis di bawah ini: 

“Barangsiapa bersumpah dengan nama selain Allah, maka ia telah berbuat kufur (syirik)”. (HR At-Tirmizi dan dihasankannya, serta dishahihkan al-Hakim)

Dan dalam bentuk perbuatan seperti memakai kalung/ benang sebagai pengusir/penangkal marabahaya yang atau menggantungkan tamimah (sejenis jimat yang biasanya dikalungkan di leher anak-anak). 

Sedangkan syirik kahfi (tersembunyi), yaitu syirik dalam hal keinginan dan niat, seperti

  • riya’ (ingin dipuji orang) dan 
  • sum’ah (ingin didengar orang) (QS Al-Kahfi [18]: 110) (Shalih: 12-13).

Sedangkan al-Allamah Ali as-Suwaidi asy-Syafi’i sebagai yang dikutip pada buku M. bin Abdurrahman al-Khumais, beliau berkata bahwa syirik itu adakalanya terjadi di Rububiyah dan adakalanya terjadi di Uluhiyah. 

Yang kedua ini dapat terjadi di dalam I’tiqad (keyakinan), dan juga dapat terjadi di dalam muamalat khususnya dengan Tuhan. 

Pada syirik yang kedua ini, di mana kemudian timbul syirik ibadah, terbagi menjadi ucapan dan perbuatan. 

Dan masing-masing dari dua ini terdapat syirik besar (syirik akbar) yang tidak terampuni. Dengan demikian, ada dua macam syirik menurut beliau yaitu syirik Rububiyah yaitu keyakinan bahwa Allah ada Tuhan lain yang mencipta dan mengatur alam raya ini. 

Dan syirik Uluhiyah yaitu berdoa kepada selain Allah, baik doa itu merupakan doa ibadah maupun doa permintaan.

Macam-macam syirik itu ada sebagian para ulama yang lebih memperincikan lagi bahwa syirik besar disebut syirik jail. 

Dengan sasaran pada aqidah dan kepercayaan yang termasuk di dalamnya, pertama syirik istiqlal, yaitu ada keyakinan adanya dua tuhan yang merdeka dan berkehendak, kedua syirik tab’idh berasal dari kata ba’dhun artinya terbagi, maksudnya ada keyakinan bahwa tuhan bisa dibagi dalam satu keyakinan bahwa tuhan bisa dibagi dalam satu kehendak, dan ketiga syirik taqrib yaitu satu keyakinan lewat pendekatan kepada sesuatu benda yang diduga punya kekuatan magis yang dapat menjadi mediator dalam meminta dan menolak.

Kemudian syirik kecil yang disebut sirik khufi yaitu syirik yang ringan dibedakan pada; pertama, syirik asbab yaitu menyebab akibatkan sesuatu (prima kausa) tidak disandarkan mutlak pada Allah 

Contoh seseorang sedang berkecimpung membangun mesjid lalu dia berkeyakinan kalau tidak karena dia tidak akan selesai pembangunan tersebut, kedua, syirik a’radh yakni orang yang melakukan ibadah niatnya bergeser kepada selain Allah misalnya karena riya’, ketiga, syirik taqlid yaitu melakukan ibadah tidak berdasarkan ilmu melainkan hanya ikut-ikutan.

Macam-macam Syirik, Harian Global, Medan).

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa ada berbagai macam dalam syirik tersebut menurut Al-Qur’an, dapat dilihat pada surat Ali-Imran (3): 64 yang disimpulkan sebagai berikut:

  1. Menyembah sesuatu selain Allah (menyembah batu dan lainlain).
  2. Menyekutukan Allah dengan sesuatu (kepercayaan pada jimat dan benda sakti).
  3. Wujud adanya sebagian manusia yang mempertuhankan sebagian yang lain.
  4. Memperturutkan hawa nafsu yang berakibat dapat membawa durhaka kepada Allah.

Bahaya dari Perbuatan Syirik

Bahaya dari orang-orang yang melaksanakan kemusyrikatan, yaitu: 

  1. Pelecehan martabat manusia.
  2. Membenarkan khurafat.
  3. Syirik adalah kezhaliman yang terbesar.
  4. Syirik menimbulkan rasa takut.
  5. Menyebarkan hal-hal yang negatif dalam kehidupan manusia.
  6. Perbuatan syirik pasti masuk neraka karena dianggap dosa besar.

Khurafat dan Tahayul 

Pengertian Khurafat dan Tahayul

Khurafat adalah kata yang mengacu kepada dongeng, legenda, kisah, cerita, asumsi, dugaan, kepercayaan, keyakinan, atau akidah yang tidak benar. 

Khurafat adalah kebathilan dan lawannya adalah kebenaran. Bagi umat Islam apa saja pengajaran atau keyakinan, yang dapat dipastikan ketidakbenarannya atau yang jelas-jelas bertentangan dengan ajaran Al-Qur’an dan Al-Hadis Nabi dimasukkan ke dalam kategori khurafat. 

Khurafat yang banyak sekali berkembang dalam masyarakat manusia, merupakan jawaban yang tidak benar atas pernyataan tentang sesuatu, yang muncul dalam kesadaran manusia, setiap pertanyaan tentang sesuatu dapat melahirkan sejumlah jawaban yang tidak benar dan itu dianggap khurafat. 

Dapat dibayangkan khurafat itu banyak sekali dalam masyarakat primitif atau dalam masyarakat yang tidak memiliki atau masih sedikit memiliki ilmu pengetahuan.

Jawaban-jawaban mereka terhadap berbagai pertanyaan yang muncul di hati mereka, baru alam taraf sangkaan atau khayalan yang masih dangkal.

Sedangkan tahayul adalah suatu keyakinan akan adanya suatu kekuatan dari hal yang terlihat maupun yang tidak terlihat, dan hal itu tidak masuk akal atau cerita yang tidak masuk akal dihubungkan dengan keyakinan akidah.

Contoh: percaya pada hari-hari baik, percaya pada bendabenda keramat dan lain-lain. 

Tahayul pada masa sekarang berupa lambang-lambang atau semboyan-semboyan baru yang diyakini memiliki kekuatan tertentu atau pengaruh bagi manusia yang mana ucapan-ucapan atau semboyan-semboyan tersebut dijadikan mantera, jimat dan jika diucapkan akan langsung terlaksana, tanpa kerja keras dan usaha.

Ada juga yang mengungkapkan bahwa tahayul yaitu suatu cerita bohong tidak masuk akal dan dihubungkan dengan akidah 

Contohnya ada cerita tentang rumah tua yang sudah dikosongkan terdengar suara anak-anak berlari tetapi jika dilihat anak-anak itu tidak ada atau kadang-kadang di suatu tempat tampak oleh orang di malam hari seperti kain kafan dan lama kelamaan tinggi setinggi pohon kelapa lalu meniarap ke bumi dan menghilang 

Inilah cerita yang dianggap tidak masuk akal namun dihubungkan dengan akidah, di mana orang mempercayainya sehingga meminta kekuatan kepada hal-hal kejadian tersebut supaya dilindungi padahal yang memberi perlindungan itu hanya Allah semata. 

Cerita-cerita seperti ini terkadang berasal dari peninggalan agama lama khususnya agama animis dari zaman purba, terutama cerita-cerita yang mengada-ada yang tidak bersumber dari kitab suci agama dan juga akal pikiran.

Dalam pengertian di atas tahayul itu adalah cerita dongeng sedangkan khurafat itu tentang kepercayaan kepada yang gaib yang tidak bersumber kepada Al-Qur’an dan hadis, contohnya tentang kepercayaan kepada dewa-dewa yang dalam ajaran Islam hal tersebut tidak ada. Hal ini bisa mengakibatkan penyelewengan akidah.

Kepercayaan-kepercayaan ini muncul dari sisa-sisa agama lama, juga bisa muncul dari agama lain ada juga yang muncul di kalangan umat Islam itu sendiri contohnya, tentang kisah pendeta-pendeta nasrani yang masuk Islam yang mengatakan orang beriman dan beramal tidak ada diterangkan lewat Al-Qur’an maupun Hadis, begitu juga cerita-cerita israiliat yang membanjiri pikiran kaum Muslim banyak bercampur baur antara Al-Qur’an dan Hadis dari kisah-kisah hikayat.

Perbedaan Khurafat dan Tahayul

Berbagai bentuk dan corak khurafat bisa dijumpai dalam semua bidang kehidupan manusia. Di antara contoh khurafat yang disebutkan oleh agama yakni dalam hadis riwayat Ahmad yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad pernah meminta kepada seseorang laki-laki untuk menanggalkan (rantai) yang ada di tangannya karena laki-laki tersebut setelah ditanya oleh Nabi menjelaskan bahwa giwang itu dipakainya untuk mendapatkan kekuatan (fisik) bahkan hal ini bisa tergolong menjadi perbuatan syirik. 

Khurafat dapat merasuk ke dalam semua bidang kehidupan manusia, baik yang ada hubugannnya dengan benda, perbuatan, maupun dengan keyakinan. 

Misalnya, khurafat telah masuk ke dalam ibadah shalat, haji, puasa dan ke dalam benda-benda di sekeliling manusia yang dianggap memiliki kekuatan magis.

Khurafat itu mengarah pada perbuatan yang diyakini menjadi tameng dari ajaran Islam padahal itu bukan ajaran Islam.

Begitu juga halnya dengan tahayul bentuk coraknya adalah perbuatan dari sebuah cerita yang diyakini tentang kegiatan amalan-amalan yang hal itu belum tentu bersumber dari ajaranajaran Islam. 

Seperti cerita tentang Mungkar Nangkir yang di dalam kubur akan datang dan bertanya kepada setiap mayat yang ada di dalamnya tentang siapa tuhanmu, apa agamamu dan siapa nabimu. 

Hal itu dianggap tidak benar karena ini cerita seorang pendeta nasrani yang masuk Islam bernama Wahab bin Munabih yang dilebih-lebihkan dalam memberi isyarah terhadap sesuatu hadis, padahal itu tidak bersumber dari ajaran Islam hal ini dikutip Halimuddin dalam buku Tazkirah oleh Imam al-Qurtubi. 

Keyakinan ini dianggap sebagai mana dapat memberikan kekuatan dan keyakinan bagi yang menjalankannya dan terkadang perbuatan itu tidak masuk akal.

Hal ini dianggap sebagai seseorang yang melakukan peribadatan dengan tidak cukupnya ilmu pengetahuan sehingga segala sesuatu dari kegiatan dalam ibadah dianggap amalan yang benar dengan hanya mendengar dari seseorang tanpa merujuk cerita informasi yang benar. 

Dengan demikian, tahayul itu mengarah pada cerita yang diyakini kebenarannya sehingga cerita itu disebarluaskan menjadi sesuatu yang benar adanya dari ajaran Islam padahal bukan ajaran Islam.

Kebenaran ungkapan Halimuddin ini perlu dilakukan pengkajian serius terhadap hadis ini dan melakukan metode penelitian hadis karena kebenaran hadis ini sudah populer.

Namun keduanya khurafat dan tahayul sama-sama perbuatan yang tidak bersumber dari ajaran Islam oleh karena itu keduanya dianggap penyelewengan dari ajaran Islam. 

Maka jika ada sebuah cerita yang mengaitkan dengan amalan maupun segala perbuatan yang dicerminkan menjadi amalan yang jika hal itu tidak logis dan tidak bersumber dari ajaran Islam kiranya perlu melakukanpengkajian terlebih dahulu.

Dengan masuknya khurafat dan tahayul ke dalam Islam telah menjauhkan umat Islam itu sendiri dari akidahnya yang asli, bahkan dikatakan cara berpikir umat Islam mundur dalam ilmu pengetahuan bahkan menjadi jiwa yang materialistis modern.

Khurafat dan tahayul pada awalnya hanya difokuskan kepada semua hal atau kepercayaan yang bertentangan dengan akidah Islamiyah yang benar. 

Namun mengalami perkembangan bahwa khurafat dan tahayul dimaksudkan untuk semua praktik atau kegiatan muamalah yang bertentangan dengan tuntutan syariat. 

Dengan demikian, akan meliputi bidang akidah maupun muamalah atau bidang-bidang lainnya yang menjadi lapangan berlakunya tuntutan syariat padanya.

Pengkategorian dari Pekerjaan Khurafat dan Tahayul

Pengkategorian dari jenis perbuatan khurafat dan tahayul ini berangkat dari hal-hal magis yang ada di sekitar manusia itu kemudian berkembang menjadi hal-hal magis yang di luar masuk akal mengarah kepada akidah. 

Contoh yang dapat diambil adalah pekerjaan khurafat yang berkaitan dengan sesuatu benda yang diyakini bisa memberi manfaat padanya padahal benda itu tidak mempunyai kekuatan apa-apa. Pada tahayul contohnya adalah pola

pelaksanaan yang dikerjakan manusia terlaksana berkat informasi yang didapat tidak jelas dan dianggap pekerjaan tersebut tidak memberi manfaat karena pekerjaan yang dilakukan didapatkan dari informasi yang tidak masuk akal. 

Contoh seseorang yang mengamalkan suatu bacaan dan dianggap bacaan itu dapat menjadikannya lebih kharismatik dan ditakuti siapa saja, padahal semua itu tidak dapat memberi manfaat pada diri seseorang tersebut.

Tidak diragukan lagi bahwa kerja keras dalam penelitian ilmiah dapat dipandang sebagai upaya menghilangkan khurafat dan menggantinya dengan kebenaran. 

Melalui penelitian yang terus-menerus terhadap dunia empiris menunjukkan titik terang sesuatu yang tidak logis dapat tampak lebih terang. 

Dunia ilmiah semakin banyak menghasilkan jawaban atau keterangan yang sudah pasti kebenarannya atas pertanyaan yang muncul. Dunia ilmiah telah berjasa besar dalam menghilangkan banyak khurafat.

Namun karena dunia ilmiah membatasi penelitian pada alam empiris, tentulah dunia ilmiah tidak akan mampu mengikis habis khurafat, sejauh khurafat itu berkaitan dengan atau terbatas pada kenyataan empiris. 

Salah satu upaya Islam untuk mengikis khurafat adalah mendorong umat Islam agar memerhatikan dan meneliti fenomena-fenomena alam dengan penelitian yang cermat, serta mendorong agar terus-menerus menuntut ilmu.

Khurafat dan tahayul yang oleh pelakunya diyakini sebagai sesuatu yang dibenarkan oleh agama mungkin saja bisa memberi ketenangan dan kemantapan jiwa bagi yang melakukannya akan tetapi karena perbuatan itu pada dasarnya penyimpangan dari tuntunan agama yang benar ketenangan dan kemantapan jiwa tadi bersifat semu tidak langgeng. 

Begitu pula karena perbuatan tersebut bertentangan dengan akal sehat pada akhir khurafat dirasakan sebagai hal yang berlawanan dengan fitrah kejadian manusia karena dianggap penyelewengan terhadap akidah.

Orang-orang ahli khurafat ini sering disebutkan sebagai orang Khurafiyun .

Apabila agama Islam memusatkan segala bentuk pengabdian hanya kepada Allah Subhanahu wa ta'ala, maka khurafat dan tahayul menyelewengkan dari pemusatan yang demikian. 

Bila agama melapangkan bidang muamalah bagi manusia maka khurafat dan tahayul cenderung menyempitkannya. 

Perbuatan-perbuatan khurafat dan tahayul yang dilakukan bisa karena disengaja ataupun tanpa disengaja, disadari atau tanpa disadari. 

Khurafat dan tahayul yang dilakukan dengan sengaja atau disadari karena lemahnya orang yang bersangkutan untuk menolak godaan khurafat dan tahayul itu sendiri dan juga karena maksud tertentu, dengan demikian tanggung jawab terhadap Allah Subhanahu wa ta'ala. jauh lebih berat dan besar dibandingkan dengan pelanggaran-pelanggaran lainnya yang dilakukan dengan sengaja. 

Adapun perbuatan-perbuatan khurafat dan tahayul yang dilakukan tanpa sengaja dan tanpa disadari biasanya disebabkan oleh ketidaktahuan pelakunya bahwa hal itu tidak dibenarkan oleh agama dan akal sehatnya. 

Mudah-mudahan kita dapat terhindar dari perbuatan khurafat dan tahayul dengan cara berusaha mencari kebenaran-kebenaran yang hakiki sesuai dengan tuntutan syariat Islam. 


0 Response to " Hal-Hal Yang Merusak Keimanan"

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak