Makna Harfiah dari kalimat Bismillahirrahmanirrahim

Bismillahirrahmanirrahim
Bismillahirrahmanirrahim
Segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan sallam atas Rasulillah Shallallahu 'Alaihi Wa sallam, keluarga, dan para sahabatnya, serta pengikutnya yang selalu istiqomah

Dalam permulaan Al-Qur'an, Allah Subhanahu wata'ala berfirman, “Bismilahirahmanirrahim.” Basmalah termasuk ayat yang dibaca pada tiap-tiap permulaan surat untuk memisahkan surat berikutnya. 

Basmalah adalah ayat Al-Qur‟an, bukan termasuk bagian dari ayat setiap surat dalam Al-Qur'an. Kecuali dalam surat an-Naml dimana basmalah termasuk bagian surat ini, sebagaimana tampak dalam ayat:

إِنَّهُۥ مِن سُلَيْمَٰنَ وَإِنَّهُۥ بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

 “Sesungguhnya surat itu, dari Sulaiman dan sesunguhnya (isinya), „Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (an-Naml: 30) 

Sementara itu, Basmalah tidak termasuk bagian dari surat al-Bara‟ah (at-Taubah). Kata bismillah merupakan doa dalam mengawali sesuatu yang baik. 

Misalnya pada setiap awal surah dalam kitab suci Al-Qur’an selalu diawali dengan bismillah, kecuali dalam surah At Taubah.

“Bismillah dijelaskan dalam 3 frasa yang terbentuk dari 3 kata yaitu kalimat bi, ismi atau asma dan Allah. 

Dalam kaidah penulisan Bahasa Arab maka ditulis menjadi bismillahi dan kalau berhenti cukup dibaca bismillah.

Arti masing-masing kata adalah bi artinya dengan, Ismi atau Asma artinya nama Allah. Jadi bismillah artinya dengan nama Allah, ini adalah makna asalnya. Tetapi dalam penggunaannya, bismillah diterjemahkan dengan menyebut Nama Allah.

Kemudian Arrahmani yang kata dasarnya adalah rahima yang berarti pengasih. Apabila diterjemahkan secara mendalam arti dari bismillah adalah dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih baik di dunia amaupun di akhirat. 

Sementara arti yang sederhana hanya dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang

Al-Qur'an dimulai dengan Basmalah. Basmalah termasuk anugerah Allah Subhanahu wata'ala  paling utama yang diberikan kepada orang mukmin, secara umum, dari golongan pengikut Nabi Shalallahu alaihi wassallam. Sebab, dengan Basmalah segala kebaikan dapat diperoleh. Allah Mahatahu atas segala sesuatu.

Tafsir Bismillah

Secara umum, tafsir “Bismillahirrahmanirrahim” adalah orang yang membaca Al-Qur'an seolah-olah berkata, Aku membaca Al-Qur'an dan memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wata'ala, sesembahanku yang benar, seraya menyebut asma-Nya. Dialah Zat yang sempurna kasih sayang-Nya dan mulia sifat-Nya. 

Jadi, selain membaca Al-Qur‟an, seseorang juga memohon pertolongan kepada Allah seraya menyebut asma-Nya.

Jika pengetahuan seseorang tentang asma dan sifat-sifat Allah yang luhur semakin dalam, niscaya ia akan dapat memaknai dan meresapi maknanya dalam hati ketika mengucapkannya. 

Lalu dampak apa yang muncul saat mengucapkan asma Allah itu? Dampak yang muncul adalah seseorang akan merasakan Keagungan Allah. 

Jika demikian, Allah Subhanahu wata'ala akan memenuhi hatinya dengan sejumlah ilmu pengetahuan, kasih sayang, prasangka yang baik kepada Allah Subhanahu wata'ala, dan sikap tawakal kepada-Nya. Semua ini sesuai dengan maksut Basmalah yang nilainya begitu tinggi.

Apabila pertamakali membaca Al-Qur'an seseorang mengucapkan bismillah, sebenarnya ia mengucapkan sebagaimana ketika pertamakali ayat Al-Qur'an diturunkan “Iqra‟bismi rabbikalladzi khalaq”. 

Maka, “iqra‟ bismillah” sama saja dengan “atlu bismillah” yang berarti aku membaca dan memohon pertolongan kepada Allah seraya menyebut asma-Nya.

Basmalah ini adalah sesuatu yang telah Allah Subhanahu wata'ala turunkan di dalam Al-Qur'an, khusus untuk umat ini saja. Dia tidak menurunkannya pada kitab terdahulu, maupun pada umat yang lain. 

Ayat ini mencakup seluruh seluruh ilmu syar‟I secara global, karena dia merupakan dalil akan zat Allah Subhanahu wata'ala dan sifat-sifat-Nya yang mulia.

Menurut sebagian ulama, bismillah bermakna billahi. Pemahaman seperti ini tidaklah benar. Yang benar adalah bahwa penyebutan bismillah mencakup semua asma Allah. Sebab asma Allah di sini bersifat mubham. 

Jadi, jika seseorang mengatakan bismilahi, sebenarnya dia menyebut semua Asma'ul-Husna. Dengan begitu, tentu hal ini bisa memmpengaruhi jiwa seseorang ketika membaca Al-Qur‟an.

Sebagian orang misalnya, hatinya akan khusyuk bila mengucapkan sebagian asma Allah Subhanahu wata'ala. Sebagian orang hatinya akan khusyuk bila mengucapkan asma Allah tapi sekhusyuk orang yang peratama tadi. 

Semua ini seharusnya bisa membuka mata hati seseorang untuk mengerjakan sejumlah amal ibadah. Meskipun berbeda-beda golongan, tetapi ketika membaca asma Allah Subhanahu wata'ala, sebenarnya maksud dan keberadaan mereka sama saja. 

Misalnya, seseorang membaca Al-Qur'an sementara dirinya dalam keadaan serba susah maka boleh jadi dia turut menyertakan Asma Allah Subhanahu wata'ala yang dibaca dengan khusuk sehingga akhirnya Allah Subhanahu wata'ala menghapus kesusahannya. Padahal dalam pikirannya tidak ada maksud demikian.

Anda akan menjumpai seseorang yang beribadah kepada Allah Subhanahu wata'ala sekaligus mengharapkan rahmatnya dengan membaca asma Allah Subhanahu wata'ala. Demikian juga orang yang berbuat dosa juga sama-sama bisa menyebut asma Allah dengan segala sifat-Nya. 

Jadi, pendapat yang benar adalah bahwa bismillahi tidak untuk menyebut nama secara khusus, hal ini berarti serupa dengan billahi. Kata bismi bukan berarti tambahan untuk menguatkan kalam.

Jadi, makna yang benar adalah “aku membaca dan memohon pertolongan kepada Allah seraya menyebut asma-Nya”

Dalam tafsir bismillahi, lafal Allahu disandarkan pada penyebutan pada asma sehingga menimbulkan perbedaan di antara para ulama. Pada tulisan berikut ini hendak menjelaskannya secara mendetail. 

Mengingat pentingnya lafal jalalah bagi akidah. Sebab para ulama telah menguraiakan lafal jalalah dan akhirnya berkesimpulan bahwa Allahu adalah asma Allah yang paling luhur dan mulia.

Dengan kata lain, Allahu adalah nama untuk Tuhan yang patut disembah. Oleh karena itu, tuhan yang disembah seraya menyekutukan Allah, bukan temasuk Tuhan yang patut disembah. Jadi, Tuhan yang patut disembah hanyalah Allah Subhanahu wata'ala bukan tuhan selain diri-Nya.

Jika demikian, lafal jalalah adalah nama yang patut disandang oleh Allah Subhanahu wata'ala. Yang benar adalah bahwa Allahu termasuk isim musytaq, bukan isim jamid. Pada dasarnya Allahu berasal dari al-llahu kemudian hamzanya dibaca ringan maka jadilah Allahu.

Ini disebabkan oleh penggunaan lafalul jallah pada awal kehidupan manusia. Setelah itu dianggap perbuatan syirik apabila menyebutkan Allah Subhanahu wata'ala dengan Tuhan lain yang baru.

Jika Allahu berasal dari al llahu maka ia mengikuti wazan fi‟alun bermakna maf‟ulun. Jika demikian Allahu sama dengan ma‟luhun. Misalnya kata firasyun sama dengan mafrusyun  dan withaun sama dengan mauthu-un. 

Adapun wazan fi‟alun bermakna maf‟ulun banyak berlaku dalam tata bahasa Arab, dan ini sudah lazim dipakai.

Ma‟luhun adalah nama bagi Tuhan yang patut disembah. Ma‟luhun sebenarnya berasal dari uluhatun – aliha – ya‟lahu – ilahatun, di mana Tuhan disembah dengan rasa cinta, kasih sayang, dan penuh pengharapan. Demikian pengertian ilahatun secara bahasa.

Alalahatun bermakna ibadah, bukan bermakna ketuhanan. Alalahatun bisa pula bermana berbuat sesuatu. 

Dalam berbagai riwayat, terdapat penafsiran yang menunjukkan kebenaran makna Alalahatun dimana penafsiran ini cenderung mengikuti pendapat Ibnu Abbas.

Hal ini dapat dilihat dalam surat al-A‟raf ayat 127, “wa yadzaraka wa alihataka”, dimana lafal alihataka ditafsiri Tuhan-tuhanmu. Karena Tuhan seperti ini cuma disembah tapi tak bisa berbuat apa-apa. 

Hal ini sama dengan Tuhan yang digambarka oleh Allah Subhanahu wata'ala“…(berkata Fir‟aun), „Aku tidak mengetahui tuhan (ilah) bagiku selain aku….” (al-Qashash:38)

Jadi, alalahatun bermakna ibadah bisa dijumpai dalam syair terkenal yang digubah oleh seorang penyair.

Hanya Allah Subhanahu wata'ala yang memiliki
Tempat kaya raya dan pujian
Berjalan dan diraih sebab sesembahanku
“Ta‟lihi” di sini berarti “sesembahanku”.

Jadi, lafal allahu dipahami oleh orang mukmin sebagai “Tuhan yang berhak disembah bagi orang yang berhak menyembah-Nya”. 

Dan Allahu tidak bermakna tuhan dengan dengan posisi yang bertingkat-tingkat. Namun, Allahu adalah Tuhan yang berhak disembah tidak seperti tuhan-tuhan lain.

Lagi pula tidak diragukan lagi bahwa Allah memiliki sejumlah sifat ketuhanan dan Dia memang berhak memiliki sifat-sifat ketuhanan tersebut. 

Hanya Allah Subhanahu wata'ala semata yang berhak disembah, bukan tuhan selain Dia. Dialah Tuhan yang ditangan-Nya menguasai segala sesuatu. 

Dalam Al-Qur‟an, Anda akan menjumpai banyak dalil tentang orang musyrik yang mengingkari keesaan Allah sebab mereka lebih mengakui sifat-sifat ketuhanan.

Jadi, jika seseorang mengucapkan bismilahi maka bisa disimpulkan bahwa asma itu berhak disandang Allah. 

Dengan demikian, segala asma yang tak pantas bagi Allah Subhanahu wata'ala akan lepas dari hati sesorang yang membaca bismillahi itu. 

Hati pun jadi tulus saat beribadah kepada Allah Subhanahu wata'ala. Sebab, ketika pertamakali membaca Al-Qur'an, dia menyebut asma Allah semata.

Ar-rahmanirrahim adalah dua sifat Allah. Ar-rahman adalah sifat pertama, sedang Arrahim adalah sifat kedua. 

Terkadang Ar-rahim menjadi sifat bagi Ar-rahman, dengan alasan bahwa Ar-rahman menunjukkan Zat Yang Maha penyayang.

Ar-rahmanirrahim” adalah dua asma di antara Asma‟ul-Husna. Kedua-duanya mengandung arti rahmat Allah. Meski demikian, Ar-rahman memiliki makna lebih umum dan lebih luas cakupannya daripada Ar-rahim.

Ar-rahman adalah bentuk sighat mubalaghah dari Ar-Rahman. Ini menunjukkan bahwa Ar-Rahman maknanya melebi-lebihkan, cakupannya amat luas, dan amat jauh jangkauannya daripada Ar-Rahim.

Karena itu, sebagian ulama mengatakan, “sesungguhnya Ar-Rahman adalah kasih sayang Allah di dunia dan di akhirat. Adapun Ar-Rahim adalah kasih sayang Allah di akhirat.

Adapun pendapat yang benar adalah antara Ar-Rahman dan Ar-Rahim terdapat perbedaan. Sesungguhnya Ar-Rahman bermakna umum dan luas cakupannya, sedangkan ArRahim bermakna khusus. 

Jika demikian, rahmat Allah Subhanahu wata'ala yang bersifat khusus itu hanya diberikan kepada orang-orang mukmin. Adapun rahmat Allah Subhanahu wata'ala yang bersifat umum itu diberikan kepada segala sesuatu.

Hal ini seperti tampak dalam fiman Allah Subhanahu wata'ala dalam surat al-A‟raf ayat 156 yang artinya sebagai berikut: “…dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu…” (al-A’raf: 156)

Jadi, segala sesuatu pasti mendapat rahmat dari Allah, hal ini ditegaskan dalam surat Ghafir ayat 7 yang artinya sebagai berikut: “…ya Tuhan kami, „rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu…” (ghafir:7)

Jika seseorang membaca Bismillahirrahmanirrahim, sebenarnya dia menyatakan sifat dan pujian kepada Allah Subhanahu wata'ala. 

Bacaan ini mencakup rahmat-Nya yang agung dan meliputi segala sesuatu. Ini sekaligus menunjukkan bahwa manusia juga mendapat rahmat-Nya yang luas cakupannya itu. 

Bersamaan dengan itu, manusia juga membutuhkan rahmat Allah yang sifatnya khusus. Oleh sebab itu, Allah disifati dengan Ar-Rahim.

Jelas ini merupakan ajaran Allah Subhanahu wata'ala yang diberikan kepada hambanya. Semua ini merupakan rahmat Allah bagi hamba-Nya. Jika demikian, memulai membaca Al-Qur‟an dengan Basmalah merupakan kebutuhan seorang hamba. 

Meskipun Allah Zat Yang Mahakaya atas pujian itu, tapi dia senang apabila seorang hamba memuji-Nya. Apalagi kalau lisan dan perbuatannya turut memuji Allah, Zat Yang Mahasuci.

Faedah Bismillahirrahmanirrahim

Sebagimana penjelasan sebelumnya, jika Anda berulangkali membaca Basmalah, maka mata hati anda akan terbuka untuk mengerjakan ibadah semata-mata karena Allah Subhanahu wata'ala. 

Selain itu, anda mendapat tambahan ilmu dari asma Allah serta rahasia yang terkandung dalam bacaan Basmalah tersebut.

Jika sesudah membaca Ta'awudz seseorang membaca Basmalah, maka jiwanya akan terjaga dari ketakutan. 

Jika seseorang membaca basmalah, pintu jiwanya akan terbuka dan selalu berharap kepada Allah Subhanahu wata'ala, mencintai Allah, dan menyerahkan segala urusannya hanya kepada Allah Subhanahu wata'ala.

Selanjutnya, dia berkeyakinan bahwa hanya Allah Subhanahu wata'ala yang dapat memberikan pertolongan, hidayah, dan berkah ketika dia sedang membaca Al-Qur'an, makan, minum, dan segala aktifitas yang dia kerjakan.

Jika demikian, dalam hati manusia terdapat dua pintu; pertama, pintu takut. Kedua, pintu pengharapan, bertawakal kepada Allah Subhanahu wata'ala dengan sebaik-baiknya tawakal, dan menyerahkan segala urusan kepada Allah

Demikian Makna Harfiah dari kalimat Bismillahirrahmanirrahim semoga bermanfaat dan dapat menambah wawasan kita. Terima kasih atas kunjungannya.

0 Response to "Makna Harfiah dari kalimat Bismillahirrahmanirrahim"

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak