Nilai Pendidikan Akhlak Dalam Shalat Menurut Al- Qur’an Surat Al-Ankabut: 45, Thaha: 132, Dan An-Nisa’: 103

Bismillahirrahmanirrahim
Segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah Shallallahu 'Alaihi Wassallam, keluarga, dan para sahabatnya, serta pengikutnya yang selalu setia dan Istiqomah.

Adapun nilai-nilai pendidikan akhlak dalam shalat menurut Al- Qur'an surat Al-Ankabut: 45, Thaha: 132, dan An-Nisa’: 103 yaitu:

Dapat Mencegah Dari Perbuatan Keji Dan Munkar

Shalat adalah melakukan sesuatu yang suci. Maka, sebelum shalat harus melakukan bersuci dahulu dari berbagai kotoran yang menempel pada tubuh kita, hadas kecil ataupun besar. 

Ini menunjukkan bahwa shalat benar- benar tindakan yang suci. Tujuan utama shalat adalah membuka kepekaan hati manusia yang menjalankannya. 

Orang yang shalatnya baik, maka akan memiliki kepekaan hati untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang akan memberikan manfaat dan mana yang akanmemberikan madharat. 

Siapa pun yang telah melakukan shalat, tentulah ia harus mampu mengendalikan diri dari berbuat keji dan munkar, serta menghindar dari berbuat aniaya dan kesia-siaan yang lain. 

Semestinya shalat dijadikan sebagai penyadaran diri, bahwa apapun yang kita lakukan dan dimanapun kita melakukan itu Allah Subhanahu wata'ala senantiasa mengetahui. 

Sehingga, manusia enggan untuk melakukan kemaksiatan dan dosa; manusia akan berjalan di atas kebenaran dan ke’arifan. Shalat merupakan bentuk dzikrullah (mengingat Allah Subhanahu wata'ala) yang hakiki dan sejati, maksud dari dzikrullah adalah menghadirkan hati untuk senantiasa mengingat Allah Subhanahu wata'ala.

Kehadiran hati adalah dimana seseorang mengosongkan hati dari segala sesuatu demi menyibukkan diri pada suatu amal perbuatan yang tengah ia kerjakan. 

Sehingga ia mengetahui apa yang tengah ia kerjakan dan apa yang tengah ia ucapkan serta memusatkan pemikiran pada shalat, inilah yang disebut dengan hati yang khusyu’. 

Yakni seluruh indra diusahakan untuk berkonsentrasi pada shalat, dan dalam hatinya tidak ada sesuatu yang lain selain Allah Subhanahu wata'ala yang patut untuk disembah, sedangkan yang lain adalah ketenangan anggota tubuh dimana hal ini merupakan aktifitas lahiriah shalat.

Kehadiran hati adalah beribadah kepada Allah Subhanahu wata'ala seakan- akan kita melihat-Nya dan hati kita merupakan tempat-Nya bersemayam. 

Derajat terendah dari kehadiran hati adalah ketika kita menyadari bahwa jika kita tidak mampu untuk melihat-Nya maka dia melihat kita. 

Oleh karena itu shalat seseorang yang dikerjakan tanpa kehadiran hati, sekalipun diterima Allah Subhanahu wata'ala, dan ia telah melunasi beban kewajiban, tetapi shalat semacam ini tidak akan mengantarkan manusia dekat dengan Allah Subhanahu wata'ala. 

Yakni jika seseorang melakukan shalat tanpa kehadiran hati, ia telah melaksanakan kewajibannya, dan ia tidak akan mendapatkan siksaan bagi orang yang meninggalkan shalat, dan secara fiqih shalatnya adalah sah.

Namun shalat ini sekedar membedakan antara orang yang melakukan shalat dengan orang yang meninggalkan shalat.

Maka dari itu, jika shalat kita ingin bermakna, maka kita harus menghadirkan Allah Subhanahu wata'ala dalam setiap kalimat dan gerakan di dalam shalat. 

Ketika kita dalam shalat justru mengingat selain Allah Subhanahu wata'ala, maka tujuan utama shalat kita kurang sempurna dan tidak tercapai. 

Dengan demikian, agar shalat yang kita lakukan itu bermakna bagi kehidupan kita, dan dapat mencegah dari perbuatan keji dan munkar, maka kita harus melakukan shalat dengan sungguh-sungguh, dengan melengkapi syarat dan rukunnya. 

Dan yang paling penting dalam hal ini adalah adanya kehadiran hati, dan rasa khusyu’ di dalam shalat melalui pemahaman baik terhadap ucapan maupun gerakan-gerakan dalam shalat. 

Sebab yang dilakukan secara demikian maka akan timbul dalam diri pelaku shalat suatu potensi yang mampu mencegah dari perbuatan keji dan munkar. Adapun cara untuk memperoleh potensi yang baik yaitu diantaranya :

Ketika mengucapkan takbir hatinya benar-benar mengakuikeagungan dan kemuliaan Allah Subhanahu wata'ala serta menafikan seluruh sekutu atas-Nya.

  1. Merasa rendah diri dan hina dihadapannya ketika melaksanakan shalat.
  2. Menghadirkan hati yaitu mengosongkan hati dari segala sesuatu demi menyibukkan diri pada perbuatan yang tengah ia kerjakan. Sehingga ia tau apa yang ia ucapkan dan apa yang ia lakukan.
  3. Menghadirkan rasa kekhusyu’an dalam shalat yakni tenang dalam hati dan perbuatan.
  4. Memahami makna-makna yang terkandung didalam shalat baik itu berupa gerakan maupun ucapan-ucapan dalam shalat.
  5. Adanya rasa keikhlasan ketika menjalankan ibadah shalat.

Jadi tidak adanya pengaruh pada diri si pelaku shalat untuk mencegah dari perbuatan keji dan munkar, karena adanya berbagai halangan dan rintangan yang menghalangi pengaruh tersebut. 

Oleh karena itu, tatkala shalat yang senantiasa dikerjakan oleh seseorang tidak memberikan pengaruh dan hasil, maka tidak diragukan lagi bahwa dalam diri si pelaku shalat masih terdapat banyak halangan dan rintangan yang pada awalnya ia harus mengetahui rintangan tersebut kemudian berusaha untuk menghilangkannya. 

Adapun berbagai perkara yang menghalangi dan merintangi pengaruh shalat, diantaranya yaitu:

1. Perhatian Hanya Pada Bentuk Lahiriah Shalat 

Hanya memperhatikan bentuk lahiriah shalat dan tidak adanya pengetahuan rasional dan hati terhadap zikir dan bacaan yang ada dalam shalat, merupakan satu faktor penting yang menjadikan shalat tidak memiliki pengaruh. 

Karena hakikat shalat tidak hanya pada bentuk lahiriah saja, namun juga pada bentuk batinnya. Pengaruh shalat terikat dan bergantung erat pada jiwa dan batin shalat, dan untuk dapat meraih hasil, manfaat, serta pengaruhnya, tidak ada cara lain selain menyalami batin shalat. Pada hakikatnya inilah yang dimaksudkan bahwa shalat itu adalah dzikir.

Maka dari itu seseorang yang berharap shalatnya dapat menjadikan batin dan hatinya bersih, jauh dari berbagai akhlak yang hina, tetapi ia hanya memperhatikan sisi lahiriah saja, sesungguhnya harapannya merupakan suatu harapan yang sia-sia. 

Dengan demikian hakikat shalat bukanlah sekedar aktivitas dan ucapan lahiriah saja, tetapi jiwa shalat itulah yang mampu memberikan kesempurnaan dan ketinggian pada si pelakunya.

2. Tidak Adanya Keikhlasan dan Kehadiran Hati.

Faktor lain yang menyebabkan shalat tidak memberikan pengaruh pada pelaku shalat dan tidak menjadikan ia berjalan menuju ketinggian maknawi adalah tidak adanya rasa ikhlas (kemurnian dan ketulusan hati), kehadiran hati, dan ketenangan batin. 

Ketika shalat disebut dengan dzikrullah maksudnya adalah menghadirkan hati untuk senantiasa mengingat Allah Subhanahu wata'ala, yang hal ini merupakan kesempurnaan dan kebahagiaan di dua kehidupan serta kunci dari kemenangan. 

Tolak ukur bagi diterimanya suatu amal ibadah adalah keikhlasan dan kehadiran hati. Maka dari itu ketika kita melaksanakan ibadah shalat, hendaknya dilakukan dengan ikhlas dan menghadirkan hati.

3. Menganggap Ringan dan Meremehkan Shalat

Dalam ajaran Islam shalat merupakan ibadah yang memiliki posisi yang amat tinggi dibandingkan dengan amal ibadah lain.

Dalam melaksanakan ibadah apapun, harus sesuai dengan tuntutan yang telah ditetapkan oleh syari’at, sehingga jangan sampai terkesan meringankan dan menganggap kecil amal ibadah tersebut. 

Bentuk dari menganggap ringan amal ibadah dengan tidak mengerjakan pada waktu khususnya, tidak mengerjakan bagian dari shalat secara sempurna, dan lain sebagainya. 

Kesemuanya ini dapat dianggap sebagai meremehkan dan menganggap ringan syari’at Ilahi. Dan segala bentuk peremehan terhadap syari’at Ilahi akan meniadakan berkah dan pengaruh syari’at tersebut dalam diri manusia. 

Dalam hal ini ada beberapa nilai akhlak yang termuat di dalamnya yaitu :

1. Shalat Sebagai Kontrol Perbuatan

Berbagai bentuk perangai tak bermoral dan tindakantindakan tercela bisa tumbuh karena memperturutkan hawa nafsu. 

Walau demikian, menurut para kaum sufi, hal yang demikian ini juga merupakan ujian yang diciptakan oleh Allah Subhanahu wata'ala untuk manusia yang diharapkan mampu melihat kedalam dirinya melalui jalan spiritual. 

Lalu dengan cara apa sehingga seseorang dapat menguasai nafsunya, dalam hal ini, kita tidak dapat mengabaikan tawaran Allah Subhanahu wata'ala untuk menyempurnakan akhlak melalui ibadah shalat. 

Karena ibadah shalat yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wata'ala berisi muatan muraqabah kepada Allah Subhanahu wata'ala, sehingga ia akan selalu takut kepada Allah Subhanahu wata'ala dan enggan untuk melakukan segala kemaksiatan.

Hal ini terjadi karena ia merasa bahwa apa-apa yang dilakukan selalu diketahui atau ditatap oleh Allah Subhanahu wata'ala.

Dalam firman Allah Subhanahu wata'ala surat Al-Ankabut ayat 45

 اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ

Artinya: Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan)keji dan munkar. (QS. Al-Ankabut: 45)

2. Shalat Melatih Kejujuran

Jujur adalah berlaku benar dan baik dalam perkataan maupun dalam perbuatan.Bersifat dan bersikap jujur ini diperintahkan dalam Al-Qur’an:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ

Artinya: Hai sekalian orang yang beriman, berbaktilah kepada Allah Subhanahu wata'ala dan jadilah kamu termasuk orang-orang yang benar.(Q.S.At-taubah:119)

Kejujuran yang harus diterapkan bukanlah suatau hal yang mudah diperlukan kesadaran dan latihan agar sifat tersebut benar-benar benar menjadi prinsip hidup. 

Kesadaran bermula dari pengetahuan, seseorang harus diberi pengetahuan mengenai pentingnya jujur dan apa akibat tidak jujur. 

Sementara latihan jujur itu sendiri bisa dilakukan secara personal. Kesadaran akan pentingnya jujur dalam hidup harus ditumbuhkan sejak kecil. 

Pendidikan dari keluarga dan sekolah harus mementingkan kejujuran seorang anak. Sebisa mungkin diupayakan agar anak senantiasa senang berbuat jujur. 

Sistem pemberian reward dan punishment harus senantiasa diterapkan. Ketika si anak berani berbuat jujur maka diberikan hadiah dan jika berbohong diberi hukuman.

Dalam hal ini ketika seseorang melakukan shalat maka sebisa mungkin ia harus jujur pada dirinya maupun kepada Allah Subhanahu wata'ala, dengan memenuhi raka’at shalat berarti ia telah jujur baik pada diri sendiri maupun pada Allah Subhanahu wata'ala, karena ia tidak mengurangi raka’at shalat. 

Kesadaran ini bisa ditumbuhkan melalui pemahaman bahwa ketika ia mengurangi raka’at shalat maka ia akan mendapat hukuman dari Allah Subhanahu wata'ala, dan ketika ia melengkapi raka’at shalat maka ia akan mendapat ganjaran dari Allah Subhanahu wata'ala. 

Pemahaman seperti ini akan mampu membantu pada seseorang untuk senantiasa berbuat jujur dalam shalat.

Adapun jujur itu terbagi ke dalam beberapa bagian, yaitu:

1. Jujur dalam perkataan. 

Kejujuran dalam perkataan dapat diketahui ketika ia memberikan suatu berita, baik yang berkaitan dengan masa lalu maupun yang akan datang. Dalam hal ini setiap orang berkewajiban untuk menjaga lidahnya selain mengatakan yang benar. 

Barang siapa yang menjaga lidah dari perkataan bohong ketika memberikan kabar atau berbicara, maka ia disebut sebagai orang yang jujur.

2. Jujur dalam niat dan keinginan. 

Hal ini berkaitan dengan masalah ikhlas, yaitu setiap perbuatan dan ibadah dilakukan hanya semata- mata karena Allah Subhanahu wata'ala. 

Akan tetapi ketika perbuatannya dinodai dengan keinginan selain Allah Subhanahu wata'ala, maka ia disebut sebagai pembohong.

3. Jujur dalam perbuatan, bersungguh-sungguh dalam mengerjakan sesuatu sesuai dengan apa yang ada dalam hatinya. 

Hatinya harus mendorong anggota tubuh untuk melakukan apa yang diingini hati. Shalat harus dijadikan sebagai media pelatihan diri untuk melakukan kejujuran. 

Baik itu shalat sendiri maupun berjamaah tetap raka’at harus tetap sama, tidak ada pengurangan maupun penambahan. 

Mungkin kita terkadang bisa jujur ketika kita melakukan sesuatu kesalahan kemudian terlihat oleh orang lain, namun kita juga terkadang tidak jujur ketika melakukan kesalahan yang tidak dilihat oleh orang lain. 

Kejujuran yang dibangun lewat shalat ini terletak pada jumlah raka’atnya. Jujur itu adalah melakukan ataupun mengatakan hal yang sebenarnya.

Jadi dalam hal ini kita harus memulai jujur pada diri sendiri, melalui pelaksanakan shalat sendirian, maka tidak mengurangi jumlah raka’at yang ada pada shalat. Jujur merupakan hal penting dalam kehidupan kita semua.

Orang tidak akan merasakan kenikmatan hidup jika ia tidak pernah jujur, karena orang yang melakukan kesalahan, lalu dia tidak mengakuinya. Maka ia akan disalahkan oleh hati nuraninya sendiri dan terus-menerus dikejar rasa bersalah.

Kejatuhan manusia adalah ketika sudah tidak lagi memiliki kejujuran, yang ia miliki hanyalah dusta.

Oleh karena itu kita harus berpegang teguh pada kejujuran. Jujur akan menuntun kita pada kebaikan, bahkan kebahagiaan. Sedangkan kebaikan akan menuntun kita ke surga. 

Sedangkan nilai kejujuran dalam spiritual shalat adalah menimbulkan perasaan dalam hati atas kemahatahun Allah Subhanahu wata'ala. 

Jika hal yang demikian ini sudah tertanam dalam hati kita, maka dengan rasa takut kepada Allah Subhanahu wata'ala, kita akan jujur dalam segala hal, baik itu jujur dalam perkataan maupun perbuatan.

3. Shalat Mencegah Kesombongan

Sombong adalah berbangga diri dan kecenderungan memandang diri berada di atas orang yang disombonginya.Ada beberapa tingkat kesombongan, yaitu:

1. Sombong kepada Allah Subhanahu wata'ala. Ini merupakan kesombongan yang paling buruk dan ini dilakukan hanya oleh orang-orang yang bodoh dan membangkang, seperti kisah raja Fir’aun yang mengaku dirinya Tuhan.

2. Sombong kepada Rasul. Merasa dirinya mulia, sehingga tidak pantas untuk mengikuti para Rasul yang mereka anggap seperti manusia biasa. 

Kesombongan seperti ini terkadang memalingkan pikirannya yang jernih sehingga terpuruk kepada gelapnya kebodohan, hingga mereka menolak seruan para Rasul dengan mengira bahwa mereka lebih berhak menjadi Nabi dan Rasul daripada mereka yang telah diangkat oleh Allah Subhanahu wata'ala sebagai Rasul. 

Selain itu, terkadang mengakui kenabian para Rasul yang telah diangkat oleh Allah Subhanahu wata'ala, akan tetapi enggan untuk mengikutinya.

3. Sombong terhadap manusia. Seseorang yang memuliakan dirinya sendiri dan menganggap orang lain hina, tidak mau mematuhi orang lain, ingin selalu di atas orang lain, meremehkan dan merendahkan orang lain.

Terapi untuk mengatasi sikap sombong ini ada dua yaitu terapi secara global dan terapi secara terperinci. 

Pertama, Terapi yang bersifat global atau umum juga ada dua, yakni bersifat pengetahuan atau teoritis dan bersifat amaliyah atau praktis. Terapi yang bersifat teoritis adalah dengan cara

mendalami dan merenungkan dalil-dalil naqliyah (Al-Qur’an dan Hadits) maupun ‘aqliyah (rasional) yang memaparkan tentang rendahnya sifat sombong tersebut. 

Sedangkan terapi yang bersifat amaliyah atau praktis adalah dengan cara bergaul dengan orang-orang yang rendah hati dan mengambil pelajaran atas sikap hidup mereka.

Kedua, Terapi yang bersifat terperinci adalah dengan cara merenungkan tentang betapa hinanya nafsu dan tentang sesuatu yang membuatnya merasa sombong. 

Jika sesuatu itu berupa harta benda, maka ingatlah bahwa harta benda itu tidak akan bertahan lama, karena akan segera diambil kembali oleh “Pemiliknya yang sejati”. 

Ketahuilah, bahwa kemuliaan itu hanya bagi orang yang sanggup membebaskan diri dari kekayaannya, dan bukan bagi orang yang sangat tergantung dengan kekayaannya, karena orang yang sangat tergantung dengan kekayaannya, sebenarnya dia adalah orang yang miskin.

Jika sesuatu yang membuat dirinya sombong adalah berupa ilmu pengetahuan, maka sadarlah bahwa masih banyak orang lain yang lebih luas ilmunya daripada dirinya. 

Ilmu yang dimilikinya itu seharusnya bisa mencegah dirinya dari bersikap sombong. Ilmunya harus bisa berfungsi sebagai panduan hidupnya, sehingga jika dia melaksanakan sesuatu dia mengetahui secara pasti kekurangan-kekurangannya.

Kesombongan merupakan puncak dari membanggakan diri sendiri yang mengakibatkan merendahkan diri orang lain. 

Salah satu peran shalat dalam mencegah perbuatan keji dan munkar adalah menghilangkan kesombongan pada setiap manusia.

Jika seseorang telah mendalami makna shalat, maka ia akan jauh dari rasa sombong. Bagaimana ia akan sombong, sementara di dalam shalat merupakan bentuk ketidakberdayaan hamba Allah Subhanahu wata'ala. Apa yang perlu kita sombongkan? sementara Allah Subhanahu wata'ala Maha segalanya. 

Shalat yang dalam bentuk ritualnya ada ruku’ dan sujud adalah melambangkan bahwa semua manusia sama-sama tidak berdaya dihadapan Allah Subhanahu wata'ala. Semua manusia setara dihadapan Allah Subhanahu wata'ala, tidak ada yang kuat dan sama.

Maka itu ketika kita shalat senantiasa mengingat Allah Subhanahu wata'ala, termasuk mengingat kebesaran-Nya, agar sifat kesombongan yang ada pada diri kita bisa hilang. Sebagaimana firman-Nya:

 وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ

Artinya: Dan dirikanlah shalat untuk mengingat aku. (QS. Thaha: 14)

Kita tidak berdaya apa-apa jika dihadapkan pada kemahakuasaan Allah Subhanahu wata'ala. Katakanlah, jika kita sombong pada materi, tidak sedikit orang yang dahulunya kaya sekarang jatuh miskin. 

Sombong terhadap segala kemampuan kita, tidak sedikit pula orang yang pintar, memiliki berbagai kelebihan, namun tetap tidak berdaya dihadapkan pada kekuasaan Allah Subhanahu wata'ala ketika ajal telah tiba. 

Dengan demikian marilah kita melatih diri untuk tidak sombong dengan mengambil hikmah yang tersimpan dalam shalat. 

Yakni dengan memahami makna-makna yang terkandung dalam shalat, seperti makna takbir, rukuk dan sujud. 

Sebab di dalam gerakan- gerakan shalat yang demikian ini, terdapat makna-makna yang agung. Sungguh tidak perlu ada kesombongan dalam diri kita.

Sebab, sebesar apapun yang kita sombongkan, tidak akan berarti apa-apa dibanding dengan kekuasaan Allah Subhanahu wata'ala yang Maha Agung dan Mulia. 

Secara etimologi, sabar (ash-sabr) berarti menahan dan mengekang.  Adapun secara terminologi sabar berarti menahan diri dari segala sesuatu yang tidak disukai karena mengharap ridha Allah Subhanahu wata'ala. 

Hal yang tidak disukai itu tidak selamanya terdiri dari hal-hal yang tidak disenangi seperti musibah kematian, sakit, kelaparan, dan sebagainya, tetapi bisa juga berupa hal-hal yang disenangi misalnya segala kenikmatan duniawi yang disukai oleh hawa nafsu. 

Sabar dalam hal ini berarti menahan dan mengekang diri dari memperturutkan hawa nafsu.Sifat sabar juga bisa dijadikan sarana untuk meminta tolong kepada Allah Subhanahu wata'ala, sebagaimana firman-Nya:

وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ وَاِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى الْخٰشِعِيْنَۙ

Artinya: Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Dan (salat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk,'. (QS. Al-Baqarah: 45)

Terdapat cara-cara untuk melatih kesabaran, di antaranya adalah sebagai berikut: 

1. Memperhatikan betul manfaat dan keindahan bersabar. 

2. Merugikan kerugian-kerugian ketidaksabaran yang membekas dalam kehidupan manusia.

Ketidak sabaran tidak mampu menyelamatkan kita dari ketentuan-ketentuan Allah Subhanahu wata'ala atau mengubah suatau realitas. Ketidaksabaran hanya mampu mengakibatkan kerugian. 

3. Mau tidak mau harus mengakui kenyataan kehidupan ini yang penuh dengan kesulitan dan keprihatinan. 

Sesungguhnya dunia ini bukanlah tempat untuk bersenang- senang. Dunia ini adalah fana yang merupakan ujian bagi orang-orang yang beriman. 

Seperti para pelajar yang berusaha keras mengikuti ujian-ujian untuk meraih jenjang-jenjang yang tinggi, maka demikian pula orang beriman dunia ini dituju untuk mengenal 

4. Lingkup keimanan dan keyakinan mereka. 

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wata'ala:

أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ(٢) وَلَقَدْ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ وَلَيَعْلَمَنَّ ٱلْكَٰذِبِينَ(٣)

Artinya: Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS. Al-Ankabut: 2-3).

Demikian Pembahasan Nilai Pendidikan Akhlak Dalam Shalat Menurut Al- Qur’an Surat Al-Ankabut: 45, Thaha: 132, Dan An-Nisa’: 103. Semoga bermanfaat. Terima kasih atas kunjungannya.

0 Response to "Nilai Pendidikan Akhlak Dalam Shalat Menurut Al- Qur’an Surat Al-Ankabut: 45, Thaha: 132, Dan An-Nisa’: 103"

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak