Catatan Kelam Sufisme dan Tarekat

Bismillahirrahmanirrahim. Tiada untaian kata yang pantas diucapkan seorang hamba dan syukur kehadirat Allah subhanahu wa ta'ala, semoga rahmat dan karunia-Nya selalu menyertai setiaplangkah-langkah kita dalam penghambaan kepada-Nya. 

Tak lupa pula, shalawat serta salam tetap tercurahkan kepada manusia paling mulia, Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, keluarga, para sahabat, dan para pengikutnya yang selalu istiqamah dalam menjalankan risalahnya hingga akhir zaman.

Pertanyaan:

Bagaimana hukumnya berthoriqoh (tarekat) ?? Di tempat saya saat ini banyak anak muda yang ikut thoriqoh. 

Jawab:

Berbicara mengenai tarekat tidak bisa lepas dari pembicaraan tentang sufi. Tarekat (thoriqoh) adalah salah satu ajaran tasawwuf (sufi).

Shufiyah (sufisme) tidak pernah dikenal pada masa salaf. Tidak ada di zaman Rosululloh shollallohu ’alaihi wasallam dan para shahabatnya, tidak pula dikenal pada masa tabi’in, dan tabi’it tabi’in. Ajaran tasawwuf, baru muncul setelah berlalunya masa tiga generasi utama.

Syeikhul Islam rohimahulloh menyebutkan bahwa awal mula munculnya shufiyah adalah di Bashrah, Irak. (Majmu Fatawa, (11/5))

Asy-Syaikh Muqbil Al Wadi’i rahimahulloh berkata: “Bid’ah tasawuf muncul setelah tahun 200 H. Tasawuf tidak ada di zaman Nabi shollallohu ’alaihi wasallam, di zaman sahabat maupun tabi’in.” (Mushara’ah hal. 376)

Sebagai ajaran yang baru dalam agama ini, tasawwuf atau shufiyah membawa berbagai macam penyimpangan-penyimpangan diantaranya:

1. Shufiyah terpecah menjadi kelompok-kelompok atau tarekat-tarekat).

Diantara nama tarekat yang terkenal adalah: Tijaniyah, Qadiriyah, Naqsyabandiyah, Syadziliyah, Rifaiyah, Syahrawardiyyah, Jistiyyah dan lainnya.

Tarekat-tatekat sufi Bukan hanya berbeda nama, namun keyakinan dan amaliyah masing masing tarekat berbeda-beda sesuai dengan olah pikir dan hawa nafsu setiap penganutnya.

Demikianlah mereka kaum shufi berpecah-belah, padahal Islam melarang perpecahan dan hanya mengenal satu jalan saja, yaitu shirothol Mustaqim. Jalan Rosululloh shollallohu ’alaihi wasallam dan para shahabat beliau.

2. Sebagian shufiyah berdoa kepada selain Allah. 

Mereka berdoa kepada nabi dan wali mereka yang masih hidup maupun yang telah mati. Mereka panggil wali wali mereka yang sudah mati di saat sempit: 

“Wahai sayyid Badawi, Wahai sayyid rifa’i, wahai sayyid idrus, wahai syaikh abdul qodir jailani, bantu kami.“ Padahal doa adalah salah satu jenis ibadah, yang merupakan hak Alloh Ta’ala. 

Rasulullah shollallohu ’alaihi wasallam bersabda:

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

“Doa adalah ibadah.”

3. Shufiyah meyakini adanya badal dan quthub, yakni orang-orang yang mereka yakini sebagai wali dan diyakini ikut andil mengatur alam.

Ini bagian dari Syirik dalam rububiyyah. Alloh adalah satu satunya pencipta, pengatur dan pemberi rizki, tidak ada yang lain sebagaimana dalam firman Alloh yang maknanya:

Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, serta siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati serta mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah.” Maka katakanlah, “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” (Yunus: 31)

4. Sebagian shufiyah meyakini wihdatul wujud (manunggaling kawula gusti).

Menurut mereka, tidak ada Khalik dan makhluk (Pencipta dan yang dicipta), semuanya adalah makhluk dan semuanya adalah ilah.

5. Shufiyah membolehkan berjoget, bernyanyi sambil menabuh rebana dan berdzikir dengan suara keras.

Padahal Allah memerintahkan kita untuk berdoa dengan merendahkan suara kita dan berdzikir sesuai tuntunan Rosul bukan dengan tarian dan musik.

Asy-Syaikh Muqbil menerangkan, “Ibnul Qayyim pernah menerangkan bahwa beliau pernah melihat orang-orang shufiyah berjoget di Arafah. Beliau melihat mereka berjoget diiringi rebana. Juga melihat mereka berjoget di Masjid Khaif.” (Mushara’ah hal. 388 secara ringkas)

Asy-Syaikh Muqbil juga mengatakan: “Pernah satu hari aku naik ke Masjidil Haram bagian atas. Aku dapati sekelompok besar manusia dari Turki, Sudan, dan Yaman, mereka berjoget sambil berputar-putar2….” (Musharaah hal. 387)

6. Kaum shufi membuat dzikir dzikir bid’ah yang tidak dilakulan siapapun dari generasi terbaik.

Diantaranya mereka berdzikir dengan semata menyebut lafadz: اللهُ. Sebagian mereka hanya menyebut lafadz hu. Padahal Rasulullah shollallohu ’alaihi wasallam menyatakan:

أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ

“Dzikir yang paling utama adalah ucapan La ilaha illallah…” (HR. At-Tirmidzi)

7. Sebagian Shufiyah mengklaim mengetahui ilmu ghaib, yang mereka istilahkan dengan ilmu laduni atau kasysyaf.

Padahal pengetahuan ilmu ghaib adalah kekhususan Allah. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman yang maknanya:

Katakanlah: “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah.” (An-Naml: 65)

8. Shufiyah mengklaim bahwa Allah menciptakan Nabi Muhammad dari cahaya-Nya, kemudian Allah menciptakan segala sesuatu dari cahaya Nabi Muhammad Namun Al-Qur’an mendustakan mereka.

9. Mereka membagi manusia menjadi tiga tingkatan, syareat, makrifat dan hakekat.

Pada tingkatan hakekat seseorang tidak lagi terikat dengan syareat. Tidak lagi terikat dengan halal dan harom. Bebas berbuat.

Sekilas catatan di atas menunjukkan betapa jauh dan sesatnya shufiyyah dengan berbagai tarekat yang ada di dalamnya. Allohu a’lam.

0 Response to "Catatan Kelam Sufisme dan Tarekat"

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak