HIKMAH DALAM PENDIDIKAN ISLAM

Pendidikan Islam
Bismillahirrahmanirrahim
Segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan sallam atas Rasulillah Shallallahu 'Alaihi Wa sallam, keluarga, dan para sahabatnya, serta pengikutnya yang selalu Istiqomah

Hikmah Dalam Pendidikan

Istilah-istilah dalam Al Qur’an yang berhubungan dengan obyek ilmu, akal dan hati adalah hikmah. 

Kata hikmah, telah disebutkan dalam pembahasan sebelumnya, baik dalam bentuk ma’rifat maupun nakiroh (khusus dan umum), sebanyak itu diantaranya dikandungkan dengan kata kitab.

Kemudian merujuk pada firman Allah yang berbunyi : 

ادع ا لى سبيل ر بّك با لحكمة وا لموعظة الحسة وجادلهم با لّتى هي احسن (النحل:١٢٥

Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik…” (An-Nahl: 125).

Perintah Allah dalam hal ini adalah kita mengajak kejalan yang benar dengan hikmah dan mauidhah yang baik dan membantah mereka dengan berdiskusi dengan cara paling baik.

Berkenaan dengan kata hikmah ini yang sudah dijelaskan di atas, dalam pendidikan yang berarti pengembangan pribadi dalam semua aspeknya, dengan penjelasan bahwa yang dimaksud pengembangan pribadi ialah yang mencakup pendidikan oleh diri sendiri, pendidikan oleh  lingkungan, dan pendidikan oleh orang lain (guru). Seluruh aspek mencakup jasmani, akal dan hati.

Dari keterangan tersebut dapat dimengerti, bahwa hikmah dalam pendidikan mengandung :

a. Nasehat

Pada umumnya, para orang tua, pendidikan muslim menjadikan Luqmanul Hakim sebagai contoh pendidikan, yang nasehatnya kepada sang anak terdapat dalam surah Luqman ayat 12-19.

Allah berfirman bahwa Luqman dikaruniai hikmah dan kebijaksanaan.

ولقد اتينا لقمان الحمة أن اشكرالله ومن يشكرفإنمايشكرلنفسه ومن آفرفإن آلله غني حميد  

Artinya : “Dan sesungguhnya telah kami berikan hikmah (kebijaksanaa) kepada Luqman, yaitu bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barang siapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Terpuji”. (QS. Luqman : 12)

Kebijaksanaan dan kecerdikan dari Luqman antara lain perkataannya kepada anaknya: 

“Wahai anakku sesungguhnya dunia itu adalah lautan yang dalam dan sesungguhnya banyak manusia yang tenggelam kedalamnya, maka jadikanlah taqwa kepada Allah Subhanahu wata'ala sebagai perahumu didunia, iman sebagai matanya dan tawaqal sebagai layarnya, sehingga kamu dapat selamat (tidak tenggelam di dalamnya), dan aku yakin kamu dapat selamat.

Dalam perkataan yang lain, Luqman mengatakan : “Barang siapa yang dapat menasehati dirinya sendiri, niscaya ia akan mendapat pemeliharaan dari Allah Subhanahu wata'ala. Barang siapa yang dapat menyadarkan orang-orang lain, niscaya Allah akan menambah kemuliaan baginya karena hal tersebut. Hina dalam rangka taat kepada Allah adalah lebih baik dari pada membangkang diri dalam kemaksiatan.

Luqmanul Hakim adalah seorang yang diangkat Allah Subhanahu wata'ala. sebagai contoh manusia dalam pendidikan anak, ia telah diberi oleh Allah dengan sifat terpuji, diantaranya syukur kepada Allah yang sudah pasti beriman dan bertaqwa kepada-Nya. 

Ajaran tersebut mengandung nasehat yang amat penting untuk pendidikan umat, agar menjadi hamba Allah yang saleh dan seluruh aspek kehidupan, perbuatan, pikiran dan perasaanya.

b. Faham atau Ilmu

Secara teori pendidikan Islam sebagai disiplin ilmu merupakan konsep pendidikan yang mengandung berbagai teori yang dapat dikembangkan dari teori yang bersumber dari Al-Qur’an maupun hadits baik dari segi sistem, proses, dan produk yang diharapkan mampu membudayakan umat manusia agar bahagia dan sejahtera dalam hidupnya.

Dari segi teori, pendidikan Islam dapat diartikan sebagai studi tentang proses kependidikan yang bersifat progresif menuju ke arah kemampuan optimal anak didik yang berlangsung di atas landasan nilainilai ajaran Islam.

Maka dalam kaitannya dengan pengembangan ilmu, pendidikan harus bisa membentuk manusia yang berkepribadian mulia, yang tidak hanya tahu dan bisa berperan sesuai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, tapi juga harus menghiasinya dengan moral yang tinggi. 

Dengan demikian, dalam sistem pendidikan Islam terkait erat dengan nilai-nilai kebaikan yang menjadi tujuannya. Persoalan manusia menjadi baik itu adalah masalah nilai.

Kebaikan ini tidak hanya berkenaan dengan fakta dan kebenaran ilmiah rasional, akan tetapi hal ini juga menyangkut penghayatan dan pembinaan yang lebih bersifat afektif. Titik tolak atau motivasi mencari ilmu dan tujuan akhir dari proses pendidikan harus karena Allah. 

Untuk itu, dalam penjelajahan dalam mencari ilmu harus disertai dengan bismi rabbik (diisi dengan nilai-nilai keTuhanan). Ilmu yang dianggap bebas nilai harus diisi dengan nilai-nilai Rabbani. 

Dalam kaitan ini, setiap diajarkan untuk menghindari ilmu yang tidak bermanfaat sesuai dengan do’a yang diajarkan Rasul. 

Maka pendidikan Islam dituntut untuk bisa mencetak manusia yang memiliki wawasan rasional-etis dan wawasan etis-religius. Artinya, ilmu yang diperoleh peserta didik dari lembaga pendidikan Islam harus mencerminkan nilai-nilai rasional (ilmiah) yang dibarengi dengan kebaikan moral yang didasarkan pada nilai-nilai keagamaan (Islam).

Untuk lebih jelasnya dalam mengembangkan ilmu pendidikan Islam, dapat digunakan filsafat sebagai landasan yang mampu menghasilkan pendapat bahwa:

1. Sumber pengetahuan ialah Allah. 

Eksistensi Tuhan sebagai hakim kemutlakan-Nya untuk menetapkan hukum atas hambanya. Namun demikian, kebijaksanaan-Nya dalam menetapkan sesuatu selalu fleksibel dan tidak memberatkan. Al-Qur’an sebagai rahmat seluruh alam raya ini didalamnya terakomodasi segala urusan-urusan hambaNya. 

Disamping keindahannya tata bahasanya juga terdapat isyarat-isyarat pengetahuan baik tentang dunia maupun ukhrowi. Pada titik finalnya harus diakui bahwasanya Al-Qur’an merupakan sumber pengetahuan yang sangat kongklusif dan Allah sebagai dzat pencipta merupakan sumber dari segala sumber.

2. Teori ilmu pendidikan Islam tidak boleh bertentangan dengan wahyu. 

Kedinamisan suatu ilmu sangat diperlukan sesuai dengan keadaan zamannya. Sebagai ilmu yang berlandaskan pada sesuatu yang bersifat aqli maupun naqli harus memiliki relevansi dengan kaidah-kaidah yang terdapat dalam wahyu dan akal manusia.

Sebagai salah satu konsep dalam proses yang dilakukan oleh pendidikan Islam, maka hikmah dalam pendidikan Islam terdapat multi paradigma yang kompleks yang meliputi dimensi intelektual, kultural, nilai-nilai trandesental, ketrampilan fisik/ jasmani dan dimensi pembinaan kepribadian. 

Konsep dan dimensi tersebut diterapkan secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan Islam. Yakni untuk mengembangakan potensi-potensi baik jasmaninya maupun rohaninya, emosional maupun entelektual serta keterampilan agar manusia mampu mengatasi problema hidup secara mandiri serta sadar dapat hidup menjadi manusia-manusia yang berpikir bebas.

c. Berfikir

Berfikir itu harus diketahui dengan stimulasi dan keragu-raguan. Keduanya sangat diperlukan dalam proses berfikir. Seluruh ahli berfikir berpendapat, bahwa kemajuan umat itu terletak terutama cara berfikir.

Dalam pendidikan, berfikir ini sangat diperlukan untuk kemajuan manusia baik dalam bidang agama maupun bidang dunia di tentukan oleh hasil pemikiran dan ilmu pengetahuan. 

Dengan ilmu pengetahuan, manusia berkembang maju, berbudaya dan mencapai sukses besar dalam kehidupannya, baik di dunia maupun di akhirat nanti.

d. Penyucian Jiwa

Telah disebutkan bahwa Rasulullah Shalallahu 'alaihi wassallam diutus menjadi muallim (guru), yaitu ketika beliau mengajarkan tilawatil Qur’an kepada kaum muslim. 

Rasulullah tidak terbatas pada membuat mereka sekedar dapat membaca saja, memberikan “Membaca dengan Perenungan” yang berisikan pemahaman, pengertian, tanggung jawab dan penanaman amanah. 

Dari membaca semacam ini Rasul membawa kepada tazkiah (penyucian), yaitu penyucian dan pembersihan diri manusia dari segala kotoran dan menjadikan diri itu berada dalam suatu kondisi yang memungkinkan untuk menerima al-Hikmah sertas mempelajari segala apa yang bermanfaat baginya dan yang tidak di ketahuinya.

Orang yang mensucikan itu sebagai kesempurnaan jiwa dengan metode kekuatan ilmiah dan kesempurnaan kekuatan penelitian. Sebagai hasil belajar yang baik untuk dibacanya, melainkan menjadi perantara antara membaca dan belajar yang tertib dan teratur.

Demikian Pengertian hikmah dalam Pendidikan Islam, semoga bermanfaat bagi kita dan menambah pengetahuan serta wawasan kita. Terimakasih atas kunjungannya.


0 Response to "HIKMAH DALAM PENDIDIKAN ISLAM"

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak