Sejarah Bahasa Indonesia

Sejarah Bahasa Indonesia: Asal Usul, Perkembangan Ejaan, dan Perjuangan Menjadi Bahasa Persatuan
Sejarah bahasa Indonesia merupakan bagian penting dari perjalanan bangsa Indonesia dalam membangun identitas, persatuan, dan kebudayaan nasional. Bahasa Indonesia yang kita gunakan saat ini tidak terbentuk dalam semalam. Perkembangannya melewati perjalanan panjang bahasa Melayu, aktivitas perdagangan Nusantara, pergerakan nasional, Sumpah Pemuda 1928, kemerdekaan Indonesia, hingga pembaruan pedoman ejaan pada era modern.
Menariknya, bahasa Indonesia dipilih sebagai bahasa persatuan ketika masyarakat Nusantara memiliki ratusan bahasa daerah dengan sejarah dan kebudayaannya masing-masing. Pilihan tersebut menjadi salah satu langkah penting untuk membangun komunikasi lintas suku tanpa menghapus kekayaan bahasa daerah.
Lalu, bagaimana asal mula bahasa Indonesia? Mengapa bahasa Melayu menjadi dasarnya? Bagaimana perubahan ejaannya dari masa ke masa, dan apa peran Sumpah Pemuda dalam sejarah bahasa Indonesia? Artikel ini membahas perjalanan tersebut secara runtut, informatif, dan mudah dipahami.
1. Pengertian Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia adalah bahasa nasional sekaligus bahasa negara Republik Indonesia. Sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia berperan sebagai bahasa persatuan yang menghubungkan masyarakat dari berbagai suku, wilayah, dan latar belakang budaya. Sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia digunakan dalam penyelenggaraan pemerintahan, pendidikan, administrasi negara, serta berbagai urusan resmi sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Secara historis dan linguistik, bahasa Indonesia tumbuh dari bahasa Melayu. Bahasa Melayu telah digunakan selama berabad-abad sebagai bahasa komunikasi antarkelompok masyarakat di berbagai wilayah Nusantara. Setelah diikrarkan sebagai bahasa persatuan pada 28 Oktober 1928, bahasa Melayu yang berkembang dalam lingkungan pergerakan nasional itu semakin dikenal dengan nama bahasa Indonesia.
Bahasa Indonesia terus berkembang melalui pembentukan istilah, penyerapan kosakata, perubahan penggunaan, dan pembakuan kaidah. Kosakatanya diperkaya oleh bahasa daerah serta bahasa asing yang berinteraksi dengan masyarakat Indonesia sepanjang sejarah.
Bahasa Indonesia bukan sekadar alat komunikasi. Bahasa ini juga menjadi simbol persatuan nasional yang memungkinkan masyarakat dengan latar belakang bahasa berbeda membangun kehidupan bersama.
Perbedaan bahasa nasional dan bahasa negara
Kedua istilah tersebut saling berkaitan, tetapi menekankan fungsi yang berbeda.
- Bahasa nasional: bahasa yang menjadi lambang identitas dan persatuan bangsa Indonesia.
- Bahasa negara: bahasa yang digunakan dalam penyelenggaraan kehidupan bernegara dan memiliki kedudukan resmi berdasarkan konstitusi.
Dengan demikian, bahasa Indonesia mempunyai peran simbolis sekaligus praktis: memperkuat rasa kebangsaan dan memudahkan komunikasi dalam kehidupan nasional.
2. Asal Usul Bahasa Indonesia
Untuk memahami asal usul bahasa Indonesia, kita perlu melihat perkembangan bahasa Melayu dan jaringan komunikasi masyarakat di Nusantara. Bahasa tidak lahir dalam ruang kosong. Bahasa berkembang melalui interaksi manusia, perdagangan, perpindahan penduduk, pendidikan, sastra, dan perubahan sosial.
Bahasa Melayu sebagai dasar bahasa Indonesia
Bahasa Melayu telah digunakan di berbagai wilayah Asia Tenggara sejak masa lampau. Kedudukannya sebagai bahasa perhubungan didukung oleh mobilitas masyarakat dan hubungan antarpelabuhan. Pedagang, pelaut, penguasa, dan masyarakat dari latar belakang bahasa berbeda membutuhkan sarana komunikasi yang dapat dipahami bersama.
Bahasa Melayu kemudian berkembang dalam beragam bentuk. Ada ragam Melayu yang digunakan dalam lingkungan kerajaan dan karya tulis, serta ragam lisan yang tumbuh dalam perdagangan dan pergaulan sehari-hari. Keragaman ini menunjukkan bahwa bahasa Melayu bukan bahasa yang statis, melainkan bahasa yang terus menyesuaikan diri dengan kebutuhan penuturnya.
Mengapa bahasa Melayu dipilih menjadi dasar bahasa Indonesia?
Ada beberapa faktor historis yang membantu menjelaskan pilihan tersebut.
- Telah digunakan secara luas. Bahasa Melayu telah berfungsi sebagai bahasa perhubungan di berbagai wilayah Nusantara.
- Memiliki tradisi tulis. Bahasa Melayu digunakan dalam berbagai naskah, surat, karya sastra, dan dokumen pemerintahan.
- Mendukung komunikasi lintas kelompok. Bahasa ini dapat digunakan untuk berkomunikasi tanpa harus menjadikan bahasa salah satu kelompok etnis terbesar sebagai bahasa nasional.
- Diadopsi oleh pergerakan nasional. Para tokoh dan organisasi pergerakan menggunakan bahasa Melayu yang kemudian disebut bahasa Indonesia sebagai sarana menyebarkan gagasan kebangsaan.
Pemilihan bahasa Melayu bukan berarti bahasa daerah lain kurang bernilai. Keputusan tersebut merupakan pilihan historis dan politis yang membantu membangun bahasa bersama bagi bangsa yang majemuk.
3. Bahasa Melayu pada Masa Kerajaan Nusantara
Salah satu bukti penting keberadaan bahasa Melayu pada masa lampau adalah prasasti yang ditemukan di sejumlah wilayah Nusantara. Prasasti-prasasti tersebut menunjukkan bahwa bentuk awal bahasa Melayu telah digunakan dalam konteks kekuasaan, keagamaan, dan hubungan antardaerah.
3.1. Bahasa Melayu Kuno pada masa Sriwijaya
Pada abad ke-7 Masehi, bahasa Melayu Kuno digunakan dalam sejumlah prasasti yang berkaitan dengan Sriwijaya. Kerajaan maritim ini memiliki hubungan dengan jaringan perdagangan dan pelayaran di kawasan Asia Tenggara.
Beberapa prasasti penting yang menjadi bukti sejarah tersebut adalah:
- Prasasti Kedukan Bukit (683 M): ditemukan di kawasan Palembang dan berkaitan dengan perjalanan serta pendirian kekuasaan Sriwijaya.
- Prasasti Talang Tuwo (684 M): ditemukan di kawasan Palembang dan memuat pesan mengenai pembangunan taman serta harapan akan kesejahteraan makhluk hidup.
- Prasasti Kota Kapur (686 M): ditemukan di Pulau Bangka dan berkaitan dengan kekuasaan Sriwijaya.
- Prasasti Karang Brahi: ditemukan di wilayah Jambi dan menjadi bagian dari bukti penggunaan bahasa Melayu Kuno dalam lingkungan kekuasaan Sriwijaya.
Prasasti-prasasti tersebut memperlihatkan bahwa bahasa Melayu Kuno telah memiliki bentuk tertulis. Bahasa yang digunakan memperlihatkan pengaruh bahasa Sanskerta dan menggunakan aksara yang berhubungan dengan tradisi tulisan India.
Walaupun bahasa Melayu Kuno memiliki hubungan historis dengan bahasa Indonesia modern, keduanya tidak identik. Bahasa Indonesia berkembang melalui banyak perubahan dalam kosakata, tata bahasa, ejaan, dan fungsi sosial selama berabad-abad.
3.2. Penyebaran bahasa Melayu ke wilayah lain
Penggunaan bahasa Melayu tidak terbatas pada Sumatra. Bukti prasasti dan dokumen dari wilayah lain menunjukkan bahwa bahasa tersebut dikenal di berbagai kawasan yang terhubung melalui perdagangan, politik, dan kebudayaan.
Jaringan pelayaran membantu mempertemukan masyarakat yang berbicara dalam bahasa berbeda. Dalam keadaan seperti itu, bahasa yang dapat dipahami oleh banyak pihak menjadi sarana penting untuk berdagang, bernegosiasi, dan bertukar informasi.
Karena bahasa digunakan dalam beragam situasi, muncul variasi dalam pelafalan, kosakata, dan cara penggunaannya. Variasi tersebut merupakan hal yang wajar dalam perkembangan bahasa yang dipakai oleh masyarakat luas.
3.3. Peran perdagangan dan bahasa perhubungan
Bahasa Melayu semakin penting karena jaringan perdagangan di Nusantara melibatkan banyak kelompok masyarakat. Pedagang tidak selalu perlu menguasai bahasa daerah setiap tempat yang mereka kunjungi. Mereka dapat menggunakan bahasa perhubungan yang dipahami oleh mitra dagang mereka.
Dalam lingkungan perdagangan, berkembang berbagai ragam Melayu lisan yang lebih fleksibel dibandingkan ragam tulis resmi. Ragam tersebut sering dibahas dalam sejarah bahasa sebagai bagian dari perkembangan Melayu pasar dan ragam pergaulan.
Pengalaman ini menjadi salah satu landasan sosial bagi bahasa Melayu untuk kemudian diterima sebagai bahasa persatuan. Bahasa yang telah berfungsi lintas kelompok lebih mudah digunakan untuk menyampaikan gagasan kebangsaan kepada masyarakat yang beragam.
4. Perkembangan Bahasa Melayu pada Masa Kolonial
Pada masa kolonial, bahasa Melayu semakin luas digunakan dalam pendidikan, penerbitan, administrasi, dan komunikasi masyarakat. Perkembangan ini tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan pemerintah kolonial, kegiatan intelektual, serta munculnya ruang publik yang melibatkan pembaca dan penulis dari berbagai daerah.
4.1. Ejaan Van Ophuijsen tahun 1901
Pada 1901, Charles Adriaan van Ophuijsen menyusun sistem ejaan Latin untuk bahasa Melayu yang kemudian dikenal sebagai Ejaan Van Ophuijsen. Penyusunannya dibantu oleh Moehammad Taib Soetan Ibrahim dan Engku Nawawi gelar Soetan Ma’moer.
Sistem tersebut dimuat dalam Kitab Logat Melajoe dan menjadi salah satu tonggak penting pembakuan penulisan bahasa Melayu menggunakan huruf Latin di Hindia Belanda.
Dalam ejaan lama, sejumlah bunyi ditulis dengan gabungan huruf yang berbeda dari ejaan sekarang. Contohnya, bunyi /u/ ditulis dengan oe, sedangkan bunyi /c/ ditulis dengan tj.
| Ejaan lama | Ejaan sekarang |
|---|---|
| oemoer | umur |
| boekoe | buku |
| tjoetji | cuci |
| njawa | nyawa |
| djalan | jalan |
Perlu dicatat bahwa pada 1901, sistem yang dibakukan adalah ejaan bahasa Melayu. Kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional baru ditegaskan kemudian, terutama melalui Sumpah Pemuda tahun 1928.
4.2. Peran Commissie voor de Volkslectuur dan Balai Pustaka
Pada 1908, pemerintah kolonial membentuk Commissie voor de Volkslectuur, yang kemudian dikenal sebagai Komisi Bacaan Rakyat. Lembaga tersebut berkembang menjadi Balai Pustaka pada 1917.
Balai Pustaka menerbitkan berbagai buku dan karya sastra yang membantu memperluas kebiasaan membaca dalam bahasa Melayu. Karya seperti Siti Nurbaya karya Marah Rusli dan Salah Asuhan karya Abdoel Moeis menjadi bagian dari sejarah sastra yang ikut memperlihatkan perkembangan bahasa tulis pada masa itu.
Penerbitan buku, majalah, dan bahan bacaan membantu menyebarkan bentuk bahasa yang relatif seragam kepada pembaca dari berbagai daerah. Pada saat yang sama, perkembangan pers dan organisasi pergerakan turut membuka ruang penggunaan bahasa untuk membahas pendidikan, ketidakadilan, identitas, dan cita-cita kebangsaan.
4.3. Bahasa Melayu dalam pergerakan nasional
Bahasa menjadi sarana penting dalam penyebaran gagasan nasionalisme. Organisasi pergerakan, media cetak, dan kelompok pemuda membutuhkan bahasa yang dapat menjangkau masyarakat dari latar belakang etnis berbeda.
Dalam konteks inilah bahasa Melayu mengalami perubahan fungsi. Bahasa yang sebelumnya banyak digunakan sebagai bahasa perhubungan berkembang menjadi sarana untuk menyatakan cita-cita sebuah bangsa yang sedang membangun identitas nasional.
5. Sumpah Pemuda 1928 dan Lahirnya Bahasa Indonesia
Salah satu tonggak paling penting dalam sejarah bahasa Indonesia adalah Kongres Pemuda II yang berlangsung di Batavia pada 27–28 Oktober 1928. Dalam peristiwa tersebut, para pemuda menyatakan tekad untuk bertanah air satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Sumpah Pemuda tidak menciptakan bahasa Indonesia dari nol. Peristiwa itu memberikan kedudukan simbolis dan politis yang kuat kepada bahasa Melayu yang telah berkembang dalam masyarakat, lalu mengukuhkannya sebagai bahasa persatuan dengan nama bahasa Indonesia.
Isi ikrar ketiga Sumpah Pemuda:
“Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.”
Mengapa bahasa Indonesia menjadi pilihan?
Para pemuda menghadapi tantangan untuk menyatukan masyarakat yang memiliki banyak bahasa daerah. Pemilihan bahasa Indonesia membantu membangun identitas bersama tanpa mengharuskan satu bahasa daerah tertentu menjadi bahasa nasional seluruh bangsa.
Bahasa Indonesia juga memiliki manfaat praktis. Bahasa ini dapat digunakan dalam pidato, tulisan, surat kabar, organisasi, dan kegiatan pendidikan yang melibatkan anggota masyarakat dari wilayah berbeda.
Peran tokoh dan organisasi pemuda
Perkembangan bahasa Indonesia merupakan hasil dari proses kolektif. Banyak tokoh, penulis, wartawan, pendidik, dan organisasi pemuda berperan dalam menyebarkan serta mengembangkan bahasa tersebut.
Muhammad Yamin merupakan salah satu tokoh penting dalam Kongres Pemuda II. Namun, sejarah bahasa Indonesia tidak sepatutnya dipahami sebagai hasil kerja satu orang saja. Perkembangannya melibatkan jaringan luas masyarakat yang menggunakan bahasa sebagai alat perjuangan dan komunikasi.
Makna Sumpah Pemuda bagi bahasa Indonesia
Sumpah Pemuda memberikan dasar kebangsaan bagi bahasa Indonesia. Sejak saat itu, bahasa Indonesia semakin kuat dipakai sebagai bahasa organisasi, pendidikan, pers, dan komunikasi nasional.
Bahasa Indonesia kemudian berkembang bukan hanya sebagai sarana komunikasi, tetapi juga sebagai bahasa ilmu pengetahuan, sastra, pemerintahan, dan kehidupan publik. Perkembangan tersebut terus berlanjut setelah Indonesia merdeka.
6. Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Negara
Setelah Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, bahasa Indonesia memperoleh kedudukan konstitusional sebagai bahasa negara. Ketentuan tersebut tercantum dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Pasal 36 UUD 1945:
“Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia.”
Dengan ketentuan tersebut, bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi negara yang digunakan dalam berbagai urusan kenegaraan. Kedudukannya diperkuat melalui kebijakan pendidikan, administrasi, pembinaan bahasa, dan peraturan perundang-undangan.
6.1. Bahasa Indonesia dalam pendidikan
Bahasa Indonesia menjadi bahasa pengantar utama dalam pendidikan nasional, dengan pelaksanaan yang mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan dan memperhatikan konteks pendidikan serta bahasa daerah. Melalui pendidikan, bahasa Indonesia digunakan untuk menyampaikan pengetahuan, mengembangkan kemampuan berpikir, dan mendukung komunikasi antardaerah.
6.2. Bahasa Indonesia dalam pemerintahan
Bahasa Indonesia digunakan dalam berbagai dokumen resmi, komunikasi pemerintahan, peraturan, dan kegiatan kenegaraan. Penggunaan bahasa yang jelas dan tertib membantu masyarakat memahami informasi serta hak dan kewajiban mereka.
6.3. Bahasa Indonesia dalam sastra dan kebudayaan
Bahasa Indonesia menjadi sarana penting bagi perkembangan puisi, novel, cerpen, drama, esai, dan karya ilmiah. Para penulis memanfaatkan bahasa ini untuk menggambarkan kehidupan masyarakat, menyampaikan gagasan, serta mengolah pengalaman manusia menjadi karya sastra.
Bahasa Indonesia juga berinteraksi dengan bahasa daerah dan bahasa asing. Interaksi tersebut memperkaya pilihan kata dan cara pengungkapan, sekaligus menghadirkan tantangan dalam menjaga kejelasan dan ketepatan penggunaan bahasa.
7. Sejarah Perkembangan Ejaan Bahasa Indonesia
Ejaan adalah kaidah yang mengatur penulisan bahasa, termasuk penggunaan huruf, penulisan kata, unsur serapan, dan tanda baca. Ejaan membantu penutur menulis secara konsisten agar tulisan lebih mudah dibaca dan dipahami.
Perubahan ejaan bahasa Indonesia merupakan bagian dari usaha pembakuan bahasa. Seiring perkembangan masyarakat, sistem penulisan disesuaikan untuk meningkatkan keteraturan, kemudahan penggunaan, dan kebutuhan komunikasi modern.
7.1. Ejaan Van Ophuijsen (1901)
Ejaan Van Ophuijsen disusun untuk bahasa Melayu dengan huruf Latin dan diterbitkan pada 1901. Sistem ini menjadi tonggak penting dalam pembakuan ejaan Melayu di Hindia Belanda.
Beberapa bentuk penulisannya berbeda dari ejaan sekarang, misalnya oe untuk bunyi /u/, tj untuk bunyi /c/, dan dj untuk bunyi /j/ dalam bahasa Indonesia modern.
7.2. Ejaan Republik atau Ejaan Soewandi (1947)
Pada 19 Maret 1947, Ejaan Republik mulai diberlakukan sebagai penyederhanaan sistem ejaan sebelumnya. Ejaan ini dikenal pula sebagai Ejaan Soewandi, sesuai nama Menteri Pengajaran, Pendidikan, dan Kebudayaan saat itu.
Salah satu perubahan yang paling dikenal adalah penggantian oe menjadi u. Dengan perubahan tersebut, bentuk seperti boekoe menjadi buku dan oemoer menjadi umur.
Ejaan Republik juga menyederhanakan sejumlah penggunaan tanda dan penulisan. Sistem ini merupakan salah satu langkah awal setelah kemerdekaan untuk membangun standar tulis yang lebih praktis.
7.3. Ejaan Pembaharuan
Ejaan Pembaharuan merupakan salah satu rancangan untuk menyederhanakan sistem ejaan bahasa Indonesia. Pada 1950-an, panitia yang dipimpin oleh Prijono dan E. Katoppo merumuskan sejumlah gagasan pembaruan.
Rancangan ini mengusulkan penyederhanaan beberapa gabungan huruf menjadi lambang yang lebih ringkas. Meskipun menjadi bagian penting dalam sejarah perencanaan ejaan, rancangan tersebut tidak diberlakukan sebagai ejaan resmi nasional.
7.4. Ejaan Melindo (1959)
Ejaan Melindo merupakan gagasan penyelarasan ejaan Melayu dan bahasa Indonesia. Upaya ini muncul dalam konteks hubungan kebahasaan Indonesia dan Persekutuan Tanah Melayu yang kemudian menjadi Malaysia.
Rancangan tersebut bertujuan mengurangi perbedaan ejaan agar komunikasi tulis kedua bahasa semakin seragam. Namun, kondisi politik pada masa itu membuat rancangan Melindo tidak diterapkan secara resmi.
7.5. Ejaan Baru atau Ejaan LBK
Pada 1960-an, upaya penyempurnaan ejaan kembali dilakukan melalui kerja panitia yang dikenal dengan nama Ejaan LBK. Rancangan ini meneruskan usaha penyederhanaan dan penyelarasan sistem penulisan.
Sejumlah perubahan yang kemudian dikenal dalam ejaan modern telah dibahas dalam berbagai rancangan tersebut. Proses ini menunjukkan bahwa pembakuan ejaan merupakan pekerjaan bertahap yang membutuhkan pertimbangan linguistik dan kesepakatan kelembagaan.
7.6. Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) tahun 1972
Pada 16 Agustus 1972, Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan diresmikan melalui Keputusan Presiden Nomor 57 Tahun 1972. Ejaan ini menjadi tonggak besar dalam penyederhanaan dan penyeragaman penulisan bahasa Indonesia.
Beberapa contoh perubahan dari ejaan lama ke bentuk yang digunakan sekarang adalah sebagai berikut:
| Ejaan lama | Ejaan yang disempurnakan |
|---|---|
| djika | jika |
| tjakap | cakap |
| njata | nyata |
| sjarat | syarat |
| achir | akhir |
EYD mengatur berbagai aspek penulisan, termasuk huruf kapital, penulisan kata, tanda baca, singkatan, angka, dan unsur serapan. Ejaan ini kemudian mengalami pembaruan seiring perkembangan kebutuhan kebahasaan.
7.7. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI)
Pada 2015, pedoman ejaan dikenal sebagai Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia atau PUEBI, yang ditetapkan melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 50 Tahun 2015.
PUEBI melanjutkan pembakuan ejaan sebelumnya dengan sejumlah penyesuaian. Pedoman ini menjadi acuan penggunaan ejaan bagi masyarakat, dunia pendidikan, penerbitan, dan berbagai kegiatan tulis-menulis selama masa pemberlakuannya.
7.8. EYD Edisi V (2022)
Pada 16 Agustus 2022, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa menetapkan pemutakhiran pedoman dengan nama Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan Edisi V, yang lebih dikenal sebagai EYD Edisi V. Pemutakhiran ini menggantikan PUEBI sebagai pedoman ejaan yang berlaku.
EYD Edisi V memuat kaidah yang diperbarui dan ditambahkan untuk menyesuaikan kebutuhan penggunaan bahasa Indonesia. Pedoman tersebut mencakup penulisan huruf, kata, tanda baca, dan berbagai unsur kebahasaan lain.
Perubahan nama dari PUEBI kembali menjadi EYD bukan berarti bahasa Indonesia berhenti berkembang. Sebaliknya, pembaruan pedoman memperlihatkan bahwa bahasa Indonesia terus dikelola agar tetap dapat digunakan secara tertib di tengah perubahan sosial, pendidikan, dan teknologi.
Untuk memeriksa aturan terbaru, pembaca dapat mengakses laman resmi EYD Edisi V.
Ringkasan perkembangan ejaan
| Tahun | Nama ejaan atau pedoman | Keterangan |
|---|---|---|
| 1901 | Ejaan Van Ophuijsen | Pembakuan ejaan Latin bahasa Melayu. |
| 1947 | Ejaan Republik/Soewandi | Penyederhanaan sejumlah bentuk penulisan. |
| 1950-an | Ejaan Pembaharuan | Rancangan pembaruan yang tidak diberlakukan resmi. |
| 1959 | Ejaan Melindo | Rancangan penyelarasan ejaan Melayu dan Indonesia yang tidak diterapkan secara resmi. |
| 1960-an | Ejaan Baru/LBK | Rangkaian usaha pembaruan ejaan. |
| 1972 | EYD | Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan diresmikan. |
| 2015 | PUEBI | Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. |
| 2022 | EYD Edisi V | Pemutakhiran pedoman ejaan yang berlaku saat ini. |
8. Sejarah Kongres Bahasa Indonesia I–XII
Kongres Bahasa Indonesia merupakan forum penting untuk membahas pembinaan, pengembangan, penggunaan, dan masa depan bahasa serta sastra Indonesia. Kongres ini mempertemukan ahli bahasa, sastrawan, pendidik, peneliti, pemerintah, dan masyarakat yang memiliki perhatian terhadap perkembangan bahasa.
Kongres pertama berlangsung pada 1938. Sejak itu, kongres-kongres berikutnya menjadi ruang untuk mengevaluasi tantangan kebahasaan dan merumuskan rekomendasi bagi pengembangan bahasa Indonesia.
8.1. Kongres Bahasa Indonesia I (1938)
Kongres Bahasa Indonesia I diselenggarakan di Solo, Jawa Tengah, pada 25–28 Juni 1938. Kongres ini menjadi salah satu tanda tumbuhnya kesadaran para cendekiawan dan budayawan untuk membina serta mengembangkan bahasa Indonesia secara terencana.
Pembahasan kongres mencakup persoalan bahasa dan sastra serta upaya meningkatkan kedudukan bahasa Indonesia. Kongres ini berlangsung sepuluh tahun setelah Sumpah Pemuda, ketika bahasa Indonesia mulai menguat sebagai lambang persatuan.
8.2. Kongres Bahasa Indonesia II (1954)
Kongres Bahasa Indonesia II diselenggarakan di Medan, Sumatra Utara, pada 28 Oktober–2 November 1954. Kongres ini menunjukkan tekad bangsa Indonesia untuk menyempurnakan bahasa nasional setelah kemerdekaan.
Perhatian terhadap pembakuan bahasa, istilah, dan penggunaan bahasa Indonesia menjadi bagian dari upaya membangun sarana komunikasi yang mendukung kehidupan negara dan masyarakat.
8.3. Kongres Bahasa Indonesia III (1978)
Kongres Bahasa Indonesia III berlangsung di Jakarta pada 28 Oktober–2 November 1978, bertepatan dengan peringatan 50 tahun Sumpah Pemuda. Kongres ini meninjau kemajuan bahasa Indonesia dan membahas upaya memperkuat kedudukan serta fungsinya dalam kehidupan nasional.
8.4. Kongres Bahasa Indonesia IV (1983)
Kongres Bahasa Indonesia IV diselenggarakan di Jakarta pada 21–26 November 1983. Salah satu perhatian pentingnya adalah peningkatan pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia serta penggunaan bahasa yang baik dan benar dalam berbagai bidang.
8.5. Kongres Bahasa Indonesia V (1988)
Kongres Bahasa Indonesia V berlangsung di Jakarta pada 28 Oktober–3 November 1988. Kongres ini dihadiri para pakar bahasa dan sastra dari berbagai wilayah Indonesia serta sejumlah peserta dari luar negeri.
Pada periode ini, pengembangan sumber rujukan kebahasaan menjadi perhatian penting. Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia menjadi bagian dari upaya menyediakan acuan yang lebih sistematis bagi pengguna bahasa.
8.6. Kongres Bahasa Indonesia VI (1993)
Kongres Bahasa Indonesia VI dilaksanakan di Jakarta pada 28 Oktober–2 November 1993. Kongres ini membahas pengembangan bahasa dan sastra serta kebutuhan memperkuat lembaga dan kebijakan yang mendukung pembinaan bahasa Indonesia.
8.7. Kongres Bahasa Indonesia VII (1998)
Kongres Bahasa Indonesia VII berlangsung di Jakarta pada 26–30 Oktober 1998. Kongres ini menjadi bagian dari perjalanan pembinaan bahasa di tengah perubahan sosial dan politik yang terjadi menjelang akhir abad ke-20.
Pembahasan bahasa Indonesia terus berkaitan dengan pendidikan, penggunaan bahasa di ruang publik, pengembangan istilah, dan peran bahasa dalam membangun identitas bangsa.
8.8. Kongres Bahasa Indonesia VIII (2003)
Kongres Bahasa Indonesia VIII diselenggarakan di Jakarta pada 14–17 Oktober 2003. Kongres ini menegaskan kembali pentingnya bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan sekaligus mendorong pembinaan bahasa dan sastra dalam kehidupan masyarakat.
8.9. Kongres Bahasa Indonesia IX (2008)
Kongres Bahasa Indonesia IX berlangsung di Jakarta pada 28 Oktober–1 November 2008. Kegiatan ini menjadi bagian dari peringatan satu abad Kebangkitan Nasional dan 80 tahun Sumpah Pemuda.
Topik yang dibahas meliputi bahasa Indonesia, bahasa daerah, penggunaan bahasa asing, pengajaran bahasa dan sastra, serta bahasa di media massa. Pembahasan tersebut menunjukkan bahwa pengembangan bahasa nasional perlu berjalan seiring dengan pelindungan bahasa daerah dan pengelolaan bahasa asing secara tepat.
8.10. Kongres Bahasa Indonesia X (2013)
Kongres Bahasa Indonesia X diselenggarakan di Jakarta pada 28–31 Oktober 2013 dengan perhatian terhadap penguatan bahasa Indonesia di dunia internasional.
Peran bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu pengetahuan, pendidikan, kebudayaan, dan diplomasi menjadi bagian penting dalam pembahasan. Kongres ini juga menekankan perlunya kebijakan dan program yang mendukung penggunaan bahasa Indonesia secara bermutu.
8.11. Kongres Bahasa Indonesia XI (2018)
Kongres Bahasa Indonesia XI berlangsung di Jakarta pada 28–31 Oktober 2018 dengan tema “Menjayakan Bahasa dan Sastra Indonesia”.
Pembahasannya mencakup pendidikan bahasa dan sastra, penggunaan bahasa di ruang publik, bahasa dan teknologi informasi, ragam bahasa dalam kehidupan, pelindungan bahasa daerah, serta peran bahasa dan sastra dalam diplomasi dan kekuatan budaya bangsa.
8.12. Kongres Bahasa Indonesia XII (2023)
Kongres Bahasa Indonesia XII diselenggarakan pada 25–28 Oktober 2023 di Jakarta dengan tema “Literasi dalam Kebinekaan untuk Kemajuan Bangsa”.
Tema tersebut menekankan hubungan antara literasi dan keberagaman Indonesia. Bahasa Indonesia berperan sebagai sarana komunikasi bersama, sedangkan bahasa daerah menjadi bagian penting dari kekayaan budaya yang perlu dijaga dan diwariskan.
Kongres XII juga menjadi ruang untuk membahas perkembangan bahasa dan sastra Indonesia di tengah perubahan teknologi, tantangan literasi, dan kebutuhan memperkuat peran bahasa dalam kehidupan berbangsa.
Makna penting Kongres Bahasa Indonesia
Rangkaian kongres menunjukkan bahwa pengembangan bahasa bukan pekerjaan yang selesai sekali jadi. Bahasa perlu terus diteliti, diajarkan, digunakan, dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.
Kongres juga menjadi pengingat bahwa bahasa Indonesia dan bahasa daerah tidak harus dipertentangkan. Bahasa Indonesia mendukung komunikasi nasional, sedangkan bahasa daerah menyimpan pengetahuan, sejarah, dan identitas lokal yang menjadi bagian dari kekayaan bangsa.
9. Perkembangan Bahasa Indonesia pada Era Modern
Bahasa Indonesia terus berkembang seiring perubahan ilmu pengetahuan, teknologi, pendidikan, ekonomi, dan kebudayaan. Perkembangan tersebut tampak dalam bertambahnya kosakata, munculnya istilah baru, perubahan gaya komunikasi, serta semakin luasnya penggunaan bahasa Indonesia di ruang digital.
9.1. Penyerapan kosakata dari bahasa lain
Bahasa Indonesia menyerap kosakata dari berbagai bahasa melalui hubungan sejarah, perdagangan, agama, pendidikan, dan teknologi. Kosakata dari bahasa Sanskerta, Arab, Portugis, Belanda, Inggris, serta bahasa-bahasa daerah telah menjadi bagian dari perkembangan bahasa Indonesia.
Penyerapan kata dapat membantu bahasa Indonesia mengungkapkan konsep baru. Namun, pemilihan istilah tetap memerlukan pertimbangan agar maknanya jelas, bentuknya sesuai kaidah, dan penggunaannya konsisten.
9.2. Bahasa Indonesia di dunia digital
Media sosial, situs web, aplikasi pesan, dan platform video membuat bahasa Indonesia digunakan dalam berbagai ragam komunikasi. Bahasa percakapan digital sering kali lebih santai dan ringkas dibandingkan bahasa dalam dokumen resmi atau karya ilmiah.
Ragam informal tidak selalu salah. Penggunaannya bergantung pada tujuan, situasi, dan pembaca. Namun, dalam tulisan akademik, dokumen resmi, serta artikel informatif, penulis tetap perlu memperhatikan ketepatan istilah, ejaan, struktur kalimat, dan kejelasan makna.
9.3. Bahasa Indonesia dalam ilmu pengetahuan
Bahasa Indonesia berperan dalam pendidikan dan penyebaran pengetahuan melalui buku pelajaran, jurnal, artikel ilmiah populer, serta materi pembelajaran digital. Pengembangan istilah membantu masyarakat memahami konsep ilmiah dalam bahasa yang dapat diakses lebih luas.
Di sisi lain, penguasaan bahasa asing juga dapat mendukung akses terhadap sumber pengetahuan internasional. Kedua kemampuan tersebut dapat saling melengkapi: bahasa Indonesia memperluas akses pengetahuan di dalam negeri, sedangkan bahasa asing membantu membuka komunikasi dengan komunitas ilmiah global.
9.4. Bahasa Indonesia dan bahasa daerah
Indonesia memiliki keragaman bahasa daerah yang sangat besar. Bahasa-bahasa tersebut mengandung pengetahuan lokal, tradisi lisan, sastra, dan cara pandang masyarakat terhadap lingkungan.
Penguatan bahasa Indonesia sebaiknya berjalan bersama upaya menjaga bahasa daerah. Keluarga, sekolah, komunitas, dan pemerintah dapat mendukung pewarisan bahasa ibu, dokumentasi cerita rakyat, penerbitan karya sastra daerah, serta pembelajaran yang menghargai keragaman bahasa.
9.5. Ejaan dan perubahan bahasa
Perubahan ejaan tidak berarti semua bentuk bahasa yang digunakan masyarakat berubah secara serentak. Pedoman ejaan terutama mengatur bentuk tulis baku. Dalam percakapan, variasi pengucapan, pilihan kata, dan gaya bahasa tetap dapat berkembang sesuai dengan lingkungan sosial.
Karena itu, pengguna bahasa perlu memahami perbedaan antara ragam baku dan ragam informal. Keduanya memiliki fungsi, tetapi pemilihannya harus sesuai dengan konteks komunikasi.
10. Fungsi dan Kedudukan Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia memiliki berbagai fungsi yang mendukung kehidupan masyarakat. Fungsi tersebut tidak terbatas pada percakapan sehari-hari, tetapi juga mencakup pendidikan, kebudayaan, pemerintahan, dan hubungan antarkelompok.
10.1. Sebagai bahasa persatuan
Bahasa Indonesia memungkinkan masyarakat dari berbagai suku dan wilayah berkomunikasi tanpa harus menggunakan bahasa daerah masing-masing. Fungsi ini menjadi penting dalam masyarakat yang memiliki keragaman bahasa dan budaya.
10.2. Sebagai identitas nasional
Bahasa Indonesia menjadi salah satu lambang identitas bangsa. Penggunaannya dalam kegiatan nasional, pendidikan, sastra, dan komunikasi publik memperkuat rasa kebersamaan sebagai warga Indonesia.
10.3. Sebagai bahasa negara
Bahasa Indonesia digunakan dalam berbagai urusan resmi negara sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Bahasa yang tertib dan jelas membantu penyampaian peraturan, pelayanan publik, serta komunikasi kelembagaan.
10.4. Sebagai bahasa pendidikan dan ilmu pengetahuan
Bahasa Indonesia menjadi sarana pembelajaran di berbagai jenjang pendidikan. Pengembangan istilah dan bahan bacaan membantu masyarakat memahami ilmu pengetahuan serta mendiskusikan gagasan secara terstruktur.
10.5. Sebagai bahasa sastra dan kebudayaan
Melalui bahasa Indonesia, penulis dapat menyampaikan pengalaman sosial, gagasan filosofis, kritik, humor, dan imajinasi. Karya sastra dalam bahasa Indonesia turut merekam perubahan masyarakat serta memperkaya khazanah kebudayaan nasional.
11. Cara Melestarikan dan Mengembangkan Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia dapat terus berkembang apabila digunakan secara aktif dan dipelajari dengan baik. Pelestarian bahasa tidak berarti menolak semua perubahan, tetapi menjaga agar bahasa tetap mampu menyampaikan gagasan secara jelas sekaligus terbuka terhadap kebutuhan baru.
11.1. Menggunakan bahasa sesuai konteks
Gunakan ragam baku ketika menulis laporan, karya ilmiah, dokumen resmi, dan artikel edukatif. Dalam percakapan santai, ragam informal dapat digunakan selama sesuai dengan situasi dan tidak menimbulkan kesalahpahaman.
11.2. Membaca buku dan karya sastra
Membaca buku, esai, berita berkualitas, dan karya sastra dapat memperkaya kosakata serta membantu pembaca memahami struktur kalimat. Kebiasaan membaca juga meningkatkan kemampuan menyampaikan pendapat secara runtut.
11.3. Memeriksa pedoman ejaan
Ketika ragu tentang penulisan kata, tanda baca, atau huruf kapital, gunakan sumber resmi seperti EYD Edisi V dan Kamus Besar Bahasa Indonesia. Kebiasaan memeriksa rujukan membantu mengurangi kesalahan yang berulang.
11.4. Mengembangkan konten digital yang berkualitas
Penulis, guru, mahasiswa, dan pengelola situs web dapat ikut mengembangkan bahasa Indonesia melalui artikel edukatif, video pembelajaran, kamus tematik, dan materi literasi digital. Konten yang jelas dan dapat dipercaya membantu memperluas akses masyarakat terhadap pengetahuan.
11.5. Menjaga bahasa daerah
Pengembangan bahasa Indonesia tidak harus mengurangi penggunaan bahasa daerah. Keduanya dapat digunakan sesuai kebutuhan. Mengajarkan bahasa ibu kepada generasi muda dan mendokumentasikan sastra lisan merupakan langkah penting untuk menjaga keragaman bahasa Indonesia.
11.6. Bersikap terbuka terhadap perkembangan bahasa
Bahasa selalu berubah karena penuturnya menghadapi pengalaman dan kebutuhan baru. Sikap yang tepat adalah memahami perubahan tersebut, membedakan variasi informal dari kaidah baku, dan menggunakan sumber tepercaya ketika menentukan bentuk bahasa untuk keperluan resmi.
12. FAQ Sejarah Bahasa Indonesia
1. Dari bahasa apa bahasa Indonesia berasal?
Bahasa Indonesia berkembang dari bahasa Melayu yang telah digunakan selama berabad-abad sebagai bahasa perhubungan di Nusantara. Bahasa Melayu tersebut kemudian memperoleh kedudukan sebagai bahasa persatuan melalui Sumpah Pemuda 1928 dan berkembang menjadi bahasa nasional serta bahasa negara.
2. Kapan bahasa Indonesia ditetapkan sebagai bahasa persatuan?
Bahasa Indonesia diikrarkan sebagai bahasa persatuan dalam Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Peristiwa ini menjadi tonggak penting dalam pembentukan identitas kebangsaan Indonesia.
3. Kapan bahasa Indonesia menjadi bahasa negara?
Bahasa Indonesia ditetapkan sebagai bahasa negara melalui Pasal 36 Undang-Undang Dasar 1945, yang menyatakan bahwa bahasa negara ialah bahasa Indonesia.
4. Siapa yang menyusun Ejaan Van Ophuijsen?
Ejaan Van Ophuijsen disusun oleh Charles Adriaan van Ophuijsen dengan bantuan Moehammad Taib Soetan Ibrahim dan Engku Nawawi gelar Soetan Ma’moer. Sistem ejaan tersebut diterbitkan pada 1901 dalam Kitab Logat Melajoe.
5. Apa perbedaan EYD dan PUEBI?
EYD adalah singkatan dari Ejaan yang Disempurnakan, sedangkan PUEBI adalah Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia. PUEBI ditetapkan pada 2015, kemudian pedoman tersebut diperbarui kembali menjadi EYD Edisi V pada 2022. EYD Edisi V merupakan pedoman ejaan yang berlaku saat ini.
6. Apa saja tahapan penting perkembangan ejaan bahasa Indonesia?
Tahapan pentingnya meliputi Ejaan Van Ophuijsen (1901), Ejaan Republik atau Soewandi (1947), sejumlah rancangan pembaruan seperti Ejaan Pembaharuan dan Melindo, EYD (1972), PUEBI (2015), serta EYD Edisi V (2022).
7. Mengapa bahasa Melayu dipilih sebagai dasar bahasa Indonesia?
Bahasa Melayu telah digunakan secara luas sebagai bahasa perhubungan, memiliki tradisi tulis, dan dapat menjembatani komunikasi antarkelompok masyarakat. Pemilihannya membantu membangun bahasa persatuan tanpa mengutamakan satu bahasa daerah tertentu sebagai bahasa nasional.
8. Apa tujuan Kongres Bahasa Indonesia?
Kongres Bahasa Indonesia menjadi forum untuk membahas pembinaan, pengembangan, penggunaan, dan masa depan bahasa serta sastra Indonesia. Kongres juga membahas tantangan seperti pendidikan, bahasa daerah, teknologi, literasi, dan penggunaan bahasa di ruang publik.
9. Kapan Kongres Bahasa Indonesia XII dilaksanakan?
Kongres Bahasa Indonesia XII diselenggarakan pada 25–28 Oktober 2023 di Jakarta dengan tema “Literasi dalam Kebinekaan untuk Kemajuan Bangsa”.
10. Bagaimana cara mengetahui ejaan bahasa Indonesia yang benar?
Gunakan pedoman resmi EYD Edisi V dan Kamus Besar Bahasa Indonesia untuk memeriksa ejaan, bentuk kata, serta makna. Laman resmi EYD dapat diakses melalui ejaan.kemendikdasmen.go.id/eyd/.
13. Rangkuman dan Kesimpulan
Sejarah bahasa Indonesia memperlihatkan hubungan erat antara bahasa, kebudayaan, perdagangan, pendidikan, dan perjuangan kebangsaan. Bahasa Indonesia berkembang dari bahasa Melayu yang telah digunakan secara luas di Nusantara, kemudian memperoleh kedudukan sebagai bahasa persatuan melalui Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.
Setelah kemerdekaan, bahasa Indonesia ditetapkan sebagai bahasa negara melalui Pasal 36 UUD 1945. Sejak itu, pembinaan bahasa berlangsung melalui pendidikan, penerbitan, penelitian, penyusunan kamus, kongres bahasa, dan pembaruan ejaan.
Perjalanan ejaan dari Van Ophuijsen pada 1901 hingga EYD Edisi V pada 2022 menunjukkan bahwa bahasa Indonesia terus disempurnakan agar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Perkembangannya juga didukung oleh penggunaan bahasa Indonesia dalam sastra, ilmu pengetahuan, pemerintahan, dan ruang digital.
Bahasa Indonesia merupakan milik bersama seluruh bangsa. Karena itu, menjaga kualitas penggunaannya perlu berjalan seiring dengan penghargaan terhadap bahasa daerah dan keterbukaan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi.
Kesimpulan utama: Bahasa Indonesia tumbuh dari sejarah panjang bahasa Melayu, dikukuhkan sebagai bahasa persatuan pada 1928, dan ditetapkan sebagai bahasa negara setelah kemerdekaan. Menjaga bahasa Indonesia berarti merawat salah satu pengikat persatuan bangsa sekaligus terus mengembangkannya sebagai bahasa ilmu, sastra, dan komunikasi modern.
Artikel Terkait di Maznara.com
Untuk memperluas wawasan tentang bahasa, budaya, dan kehidupan masyarakat, Anda dapat membaca artikel lain di Maznara.com berikut:
- Mengenal Takhayul — artikel tentang kepercayaan dan tradisi yang berkembang dalam masyarakat.
- Penyebab Kepercayaan Masyarakat terhadap Dukun — pembahasan tentang faktor sosial dan budaya dalam kehidupan masyarakat.
14. Referensi
- Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Sejarah Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
- Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan Edisi V.
- Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Kongres Bahasa Indonesia.
- Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Kongres Bahasa Indonesia XII: Perkuat Peran Bahasa Indonesia dalam Kehidupan Berbangsa, 2023.
- Sudaryanto. “Dari Sumpah Pemuda (1928) sampai Kongres Bahasa Indonesia I (1938): Kajian Linguistik Historis Sekitar Masa-Masa Prakemerdekaan.” Kajian Linguistik dan Sastra, 2018.
- Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Pasal 36.
Posting Komentar untuk "Sejarah Bahasa Indonesia"
Silahkan Berkomentar Dengan Bijak