Etika Salam dalam Islam: Bacaan, Jawaban, Adab, dan Keutamaannya
Etika Salam dalam Islam: Bacaan, Jawaban, Adab, dan Keutamaannya
Etika salam dalam Islam merupakan bagian penting dari adab pergaulan yang mengajarkan umat Islam untuk saling mendoakan keselamatan, menghormati sesama, dan mempererat persaudaraan. Mengucapkan salam bukan sekadar kebiasaan ketika bertemu, melainkan juga bentuk doa dan kebaikan yang memiliki dasar dalam Al-Qur'an dan hadis. Lalu, bagaimana bacaan salam yang benar, bagaimana cara menjawabnya, dan apa saja adab serta keutamaannya?
Bismillahirrahmanirrahim.
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, keluarga, para sahabat, serta umat beliau yang mengikuti ajarannya dengan istiqamah.
Manusia merupakan makhluk sosial yang membutuhkan interaksi, kerja sama, dan bantuan dari orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari, hubungan tersebut dapat terjalin di lingkungan keluarga, sekolah, kampus, tempat kerja, maupun masyarakat luas. Agar hubungan sosial berlangsung dengan baik, setiap orang perlu memperhatikan etika dan adab ketika berinteraksi.
Salah satu bentuk adab yang sederhana tetapi memiliki makna mendalam adalah mengucapkan salam. Salam menjadi ungkapan penghormatan sekaligus doa agar orang yang disapa memperoleh keselamatan, rahmat, dan keberkahan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Islam mengajarkan umatnya untuk membiasakan salam, menjawab salam dengan baik, dan tidak menjadikannya sekadar formalitas. Dengan memahami etika salam, seorang Muslim dapat membangun hubungan yang lebih santun, hangat, dan penuh kepedulian.
Daftar Isi
- Pengertian Etika Salam
- Pengertian dan Makna Salam dalam Islam
- Dalil Al-Qur'an tentang Salam
- Lafaz Salam yang Dianjurkan
- Cara Menjawab Salam dengan Benar
- Hadis tentang Keutamaan Mengucapkan Salam
- Adab Mengucapkan dan Menyebarkan Salam
- Etika Salam dalam Kehidupan Sehari-hari
- Kesalahan yang Perlu Dihindari
- FAQ tentang Etika Salam
- Rangkuman dan Kesimpulan
1. Pengertian Etika Salam
Etika salam adalah tata cara dan adab dalam mengucapkan serta menjawab salam ketika berinteraksi dengan orang lain. Dalam konteks Islam, etika salam berpedoman pada Al-Qur'an, hadis, dan penjelasan para ulama mengenai adab pergaulan.
Etika sendiri berkaitan dengan nilai, prinsip, dan pertimbangan mengenai perilaku yang baik atau buruk. Dalam kehidupan bermasyarakat, etika membantu seseorang memahami bagaimana bersikap dengan sopan, menghormati hak orang lain, dan menjaga hubungan sosial.
Dalam ajaran Islam, pembahasan etika sangat berkaitan dengan adab dan akhlak. Akhlak mencakup perilaku yang mencerminkan nilai-nilai kebaikan, sedangkan adab mengacu pada tata cara bersikap yang patut dalam keadaan tertentu. Keduanya dapat terlihat ketika seseorang mengucapkan salam dengan ramah, menjawabnya dengan baik, dan memperhatikan keadaan orang yang disapa.
Mengapa etika salam penting?
Etika salam penting karena pertemuan dan percakapan merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Sapaan yang baik dapat menciptakan suasana yang ramah, mengurangi kecanggungan, serta menunjukkan bahwa seseorang menghargai orang lain.
Dalam Islam, salam juga mengandung doa. Ketika seseorang mengucapkan salam, ia tidak hanya menyampaikan sapaan, tetapi juga mendoakan keselamatan bagi orang yang disapa. Oleh karena itu, salam sebaiknya disampaikan dengan tulus, jelas, dan disertai sikap yang baik.
2. Pengertian dan Makna Salam dalam Islam
Kata salam berasal dari bahasa Arab yang berkaitan dengan makna keselamatan, kedamaian, dan keadaan yang terbebas dari bahaya. Dalam ungkapan Assalamu'alaikum, seorang Muslim mendoakan agar keselamatan tercurah kepada orang yang disapanya.
Kata As-Salam juga dikenal sebagai salah satu nama Allah yang indah atau Asmaul Husna. Makna nama tersebut berkaitan dengan kesempurnaan dan keselamatan yang berasal dari Allah. Namun, ketika digunakan sebagai salam antarmanusia, ungkapan tersebut berfungsi sebagai doa keselamatan bagi orang lain.
Makna salam sebagai doa
Ucapan Assalamu'alaikum berarti mendoakan keselamatan bagi orang yang disapa. Ketika ditambah dengan warahmatullah, doa tersebut mencakup permohonan rahmat Allah. Sementara itu, tambahan wabarakatuh mengandung doa agar keberkahan Allah tercurah kepada orang tersebut.
Dengan demikian, salam bukan sekadar ucapan pembuka percakapan. Di dalamnya terdapat harapan agar orang lain memperoleh kebaikan, ketenteraman, dan keberkahan.
Hubungan salam dengan persaudaraan
Islam menempatkan persaudaraan dan perdamaian sebagai nilai penting dalam kehidupan bersama. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 10 bahwa orang-orang beriman adalah bersaudara dan diperintahkan untuk mendamaikan pihak-pihak yang berselisih.
Salam dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk membangun hubungan yang baik. Kebiasaan menyapa, menjawab sapaan, dan menunjukkan keramahan membantu menciptakan lingkungan sosial yang lebih bersahabat.
3. Dalil Al-Qur'an tentang Salam
Etika salam memiliki dasar yang jelas dalam Al-Qur'an. Salah satu ayat yang secara langsung membahas cara menjawab salam adalah Surah An-Nisa ayat 86.
Surah An-Nisa ayat 86
َูุฅِุฐَุง ุญُِّููุชُู ْ ุจِุชَุญَِّูุฉٍ َูุญَُّููุง ุจِุฃَุญْุณََู ู َِْููุง ุฃَْู ุฑُุฏَُّููุง ۗ ุฅَِّู ุงََّููู َูุงَู ุนََٰูู ُِّูู ุดَْูุกٍ ุญَุณِูุจًุง
Artinya: "Apabila kamu diberi penghormatan dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya, atau balaslah penghormatan itu dengan yang sepadan dengannya. Sungguh, Allah memperhitungkan segala sesuatu."
(QS. An-Nisa: 86)
Ayat tersebut memberikan pedoman agar seseorang membalas penghormatan dengan cara yang setara atau lebih baik. Dalam konteks salam, hal ini mengajarkan bahwa orang yang menerima salam hendaknya menjawabnya dengan baik dan tidak mengabaikannya tanpa alasan.
Ayat ini juga menunjukkan bahwa Islam mendorong umatnya untuk membalas kebaikan dengan kebaikan. Jika seseorang menyampaikan salam yang singkat, penerimanya dapat membalas dengan salam yang setara atau menambahkan doa yang lebih lengkap sesuai tuntunan.
Surah Al-Hujurat ayat 10
ุฅَِّูู َุง ุงْูู ُุคْู َُِููู ุฅِุฎَْูุฉٌ َูุฃَุตِْูุญُูุง ุจََْูู ุฃَุฎََُْูููู ْ َูุงุชَُّููุง ุงََّููู َูุนََُّููู ْ ุชُุฑْุญَู َُูู
Artinya: "Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu yang berselisih dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat."
(QS. Al-Hujurat: 10)
Ayat ini menjelaskan pentingnya persaudaraan dan usaha mendamaikan orang-orang yang berselisih. Membiasakan salam tidak otomatis menyelesaikan setiap konflik, tetapi dapat menjadi langkah awal untuk membuka komunikasi dan membangun suasana yang lebih baik.
4. Lafaz Salam yang Dianjurkan
Dalam ajaran Islam, terdapat beberapa bentuk salam yang umum digunakan. Bentuk yang lebih lengkap mencakup doa keselamatan, rahmat, dan keberkahan Allah.
Salam singkat
ุงูุณََّูุงู ُ ุนََُْูููู ْ
Transliterasi: Assalamu'alaikum.
Artinya: "Semoga keselamatan tercurah kepada kalian."
Lafaz ini merupakan bentuk salam yang singkat dan dikenal luas di kalangan umat Islam.
Salam dengan tambahan rahmat Allah
ุงูุณََّูุงู ُ ุนََُْูููู ْ َูุฑَุญْู َุฉُ ุงَِّููู
Transliterasi: Assalamu'alaikum warahmatullah.
Artinya: "Semoga keselamatan dan rahmat Allah tercurah kepada kalian."
Dalam lafaz ini, salam dilengkapi dengan doa agar penerimanya memperoleh rahmat Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Salam lengkap
ุงูุณََّูุงู ُ ุนََُْูููู ْ َูุฑَุญْู َุฉُ ุงَِّููู َูุจَุฑََูุงุชُُู
Transliterasi: Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Artinya: "Semoga keselamatan, rahmat Allah, dan keberkahan-Nya tercurah kepada kalian."
Salam lengkap ini merupakan bentuk yang utama dalam riwayat tentang tingkatan salam yang akan dijelaskan pada bagian berikutnya. Pengucapannya hendaknya dilakukan dengan jelas dan tidak tergesa-gesa agar mudah dipahami oleh penerima.
Mengapa menggunakan kata ganti jamak?
Dalam bahasa Arab, bentuk 'alaikum secara umum digunakan untuk menyapa lebih dari satu orang, tetapi juga lazim dipakai sebagai bentuk sapaan dalam salam kepada satu orang. Karena itu, seseorang tetap dapat mengucapkan Assalamu'alaikum ketika bertemu dengan seorang Muslim saja.
5. Cara Menjawab Salam dengan Benar
Menjawab salam merupakan bagian penting dari etika salam. Al-Qur'an dalam Surah An-Nisa ayat 86 mengajarkan agar salam dibalas dengan penghormatan yang setara atau lebih baik.
Jika seseorang mengucapkan Assalamu'alaikum
َูุนََُْูููู ُ ุงูุณََّูุงู ُ
Transliterasi: Wa'alaikumussalam.
Artinya: "Semoga keselamatan juga tercurah kepada kalian."
Jawaban tersebut membalas doa keselamatan yang disampaikan oleh orang yang mengucapkan salam.
Jika seseorang mengucapkan Assalamu'alaikum warahmatullah
َูุนََُْูููู ُ ุงูุณََّูุงู ُ َูุฑَุญْู َุฉُ ุงَِّููู
Transliterasi: Wa'alaikumussalam warahmatullah.
Artinya: "Semoga keselamatan dan rahmat Allah juga tercurah kepada kalian."
Jawaban ini sepadan dengan salam yang disampaikan, karena sama-sama mencakup doa keselamatan dan rahmat Allah.
Jika seseorang mengucapkan Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
َูุนََُْูููู ُ ุงูุณََّูุงู ُ َูุฑَุญْู َุฉُ ุงَِّููู َูุจَุฑََูุงุชُُู
Transliterasi: Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
Artinya: "Semoga keselamatan, rahmat Allah, dan keberkahan-Nya juga tercurah kepada kalian."
Jawaban ini membalas salam lengkap dengan doa yang setara. Seseorang juga dapat menjawab dengan bentuk yang lebih baik sesuai petunjuk Surah An-Nisa ayat 86.
Apakah perlu menambahkan wa maghfiratuh wa ridwanuh?
Tambahan wa maghfiratuh yang berarti "dan ampunan-Nya" atau wa ridwanuh yang berarti "dan keridaan-Nya" tidak perlu dianggap sebagai bagian wajib dari salam. Riwayat yang dijadikan dasar untuk tambahan-tambahan tersebut dinilai lemah oleh sejumlah ulama hadis.
Karena itu, bentuk salam yang dikenal luas dan didukung oleh riwayat tentang tingkatan salam adalah Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Bentuk tersebut sudah lengkap dan tidak perlu ditambah agar dianggap sempurna.
6. Hadis tentang Keutamaan Mengucapkan Salam
Salah satu hadis yang terkenal tentang keutamaan salam diriwayatkan dari Imran bin Husain radhiyallahu 'anhu. Hadis ini tercantum dalam Sunan Abi Dawud, nomor 5195.
Ringkasan makna hadis: Seorang laki-laki datang kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam dan mengucapkan salam. Nabi menjawabnya, lalu menjelaskan bahwa orang tersebut memperoleh sepuluh. Orang berikutnya mengucapkan salam dengan tambahan doa rahmat, kemudian Nabi menjelaskan bahwa ia memperoleh dua puluh. Orang berikutnya mengucapkan salam lengkap dengan doa keberkahan, lalu Nabi menjelaskan bahwa ia memperoleh tiga puluh.
(HR. Abu Dawud, no. 5195; dinilai sahih oleh Al-Albani)
Hadis tersebut menjelaskan bahwa bentuk salam yang diucapkan memiliki tingkatan. Dalam riwayat ini, angka sepuluh, dua puluh, dan tiga puluh dipahami sebagai tingkatan ganjaran yang disebutkan dalam hadis ketika salam diucapkan dengan bentuk yang semakin lengkap.
Pelajaran dari hadis tentang salam
- Salam merupakan amal kebaikan. Mengucapkan salam bukan sekadar kebiasaan sosial, tetapi termasuk amalan yang memiliki keutamaan.
- Salam yang lebih lengkap mengandung doa yang lebih luas. Selain keselamatan, terdapat tambahan permohonan rahmat dan keberkahan Allah.
- Menjawab salam merupakan bagian dari adab Islam. Penerima salam hendaknya membalas dengan baik sesuai tuntunan.
- Amalan sederhana dapat bernilai besar. Ucapan singkat yang disampaikan dengan niat baik dapat menjadi sarana menumbuhkan hubungan yang harmonis.
Perlu diingat bahwa hadis tersebut tidak sebaiknya dijadikan dasar untuk menilai kualitas iman seseorang hanya dari panjang pendeknya salam. Keutamaan salam perlu dipahami bersama keikhlasan, kepatuhan terhadap tuntunan agama, dan akhlak yang baik.
7. Adab Mengucapkan dan Menyebarkan Salam
Selain mengetahui lafaz salam, seorang Muslim perlu memahami adab ketika mengucapkan dan menjawabnya. Berikut sejumlah kebiasaan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
1. Membiasakan mengucapkan salam ketika bertemu
Ketika bertemu sesama Muslim, biasakan memulai interaksi dengan salam. Jangan membatasi kebiasaan ini hanya kepada teman dekat atau orang yang sudah dikenal. Salam dapat menjadi cara untuk menunjukkan keramahan kepada orang lain dalam batas-batas adab yang berlaku.
2. Mengucapkan salam dengan jelas dan sopan
Ucapkan salam dengan suara yang dapat didengar oleh orang yang disapa. Hindari berteriak secara berlebihan, berbicara dengan nada mengejek, atau mengucapkan salam hanya sebagai candaan yang merendahkan.
3. Menjawab salam dengan baik
Ketika menerima salam, jawablah dengan lafaz yang benar dan sikap yang ramah. Jangan sengaja mengabaikan salam karena merasa lebih tinggi kedudukannya, kecuali terdapat keadaan tertentu yang memengaruhi tata cara menjawabnya.
4. Tidak mengucapkan salam dengan tujuan menyindir
Salam merupakan doa dan penghormatan. Karena itu, jangan menggunakannya sebagai sarana mengejek, mempermalukan, atau menyampaikan sindiran kepada orang lain. Makna salam seharusnya tercermin dalam perilaku yang santun.
5. Memperhatikan keadaan orang yang disapa
Etika berkomunikasi juga berarti memperhatikan keadaan orang lain. Jika seseorang sedang berbicara penting, beribadah, atau berada dalam situasi yang membutuhkan konsentrasi, sampaikan salam dengan cara yang tidak mengganggu. Dalam keadaan tertentu, terdapat pula pembahasan fikih mengenai waktu dan kondisi yang tepat untuk mengucapkan atau menjawab salam.
6. Tidak memaksakan interaksi
Mengucapkan salam adalah bentuk kebaikan, tetapi penyampaiannya tetap perlu memperhatikan situasi, keamanan, dan batasan yang berlaku. Jika salam tidak dijawab, hindari langsung berprasangka buruk atau memicu pertengkaran.
7. Menjadikan salam sebagai awal hubungan yang baik
Salam sebaiknya diikuti dengan perilaku yang sesuai dengan maknanya. Setelah mengucapkan salam, berbicaralah dengan jujur, hormati lawan bicara, dan hindari tindakan yang menyakiti orang lain.
8. Etika Salam dalam Kehidupan Sehari-hari
Etika salam dapat diterapkan dalam berbagai lingkungan. Kebiasaan ini membantu membentuk pribadi yang santun dan menciptakan suasana sosial yang lebih nyaman.
Etika salam di lingkungan keluarga
Biasakan mengucapkan salam ketika masuk rumah dan bertemu anggota keluarga, dengan memperhatikan adab yang diajarkan dalam Islam. Orang tua juga dapat menjadi teladan dengan membiasakan salam kepada anak-anak sehingga mereka memahami bahwa penghormatan dimulai dari rumah.
Etika salam di sekolah dan kampus
Pelajar dan mahasiswa dapat membiasakan salam ketika bertemu guru, dosen, teman, atau warga sekolah dan kampus lainnya. Salam hendaknya disampaikan dengan sopan dan tidak digunakan untuk mengganggu kegiatan belajar.
Etika salam di tempat kerja
Di tempat kerja, salam dapat menjadi pembuka komunikasi yang ramah. Ucapkan salam dengan menghormati rekan kerja, atasan, maupun orang yang baru dikenal. Setelah itu, lanjutkan komunikasi secara profesional dan sesuai situasi.
Etika salam dalam pertemuan masyarakat
Ketika menghadiri pengajian, rapat warga, atau kegiatan sosial, salam dapat membantu membangun suasana persaudaraan. Saat berada dalam kelompok, sampaikan salam dengan cara yang sesuai dan tidak mengganggu jalannya kegiatan.
Etika salam melalui pesan digital
Dalam komunikasi digital, salam juga dapat digunakan sebagai pembuka pesan, misalnya dalam percakapan pribadi atau grup. Perhatikan konteks, gunakan bahasa yang sopan, dan hindari mengirim pesan berulang kali jika penerima belum sempat membalas.
Jika salam dikirim melalui pesan tertulis, jawaban yang baik tetap menjadi bentuk penghormatan. Namun, waktu dan cara membalasnya dapat menyesuaikan keadaan, terutama jika penerima sedang bekerja atau tidak dapat segera mengakses perangkatnya.
9. Kesalahan yang Perlu Dihindari dalam Etika Salam
Beberapa kebiasaan berikut sebaiknya dihindari agar salam tetap mencerminkan adab yang baik.
- Sengaja mengabaikan salam tanpa alasan yang dapat dibenarkan.
- Mengucapkan salam dengan nada mengejek atau menjadikannya bahan olok-olok.
- Keliru menuliskan atau mengucapkan lafaz karena terlalu terburu-buru dan tidak memperhatikan maknanya.
- Menganggap tambahan tertentu wajib padahal tidak ada dasar kuat yang mewajibkannya.
- Menghakimi orang lain hanya dari panjang pendeknya salam tanpa mempertimbangkan niat, pengetahuan, dan keadaan orang tersebut.
- Menggunakan salam sebagai formalitas tetapi tidak menjaga sikap dan perkataan setelahnya.
Tujuan mempelajari etika salam bukan untuk mencari-cari kesalahan orang lain, melainkan untuk memperbaiki perilaku diri sendiri dan membiasakan kebaikan dalam interaksi sehari-hari.
10. FAQ tentang Etika Salam dalam Islam
Apa yang dimaksud dengan etika salam?
Etika salam adalah tata cara dan adab mengucapkan serta menjawab salam dengan baik sesuai ajaran Islam. Hal ini mencakup bacaan yang benar, sikap sopan, penghormatan kepada orang lain, dan pemahaman terhadap makna salam sebagai doa keselamatan.
Apa bacaan salam yang paling lengkap?
Bacaan salam yang lengkap adalah Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, yang berarti semoga keselamatan, rahmat Allah, dan keberkahan-Nya tercurah kepada kalian.
Bagaimana jawaban salam yang benar?
Jawaban salam yang umum adalah Wa'alaikumussalam. Jawaban dapat dilengkapi menjadi Wa'alaikumussalam warahmatullah atau Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, sesuai salam yang diterima dan tuntunan membalas dengan setara atau lebih baik.
Apa dalil Al-Qur'an tentang menjawab salam?
Dalil yang secara langsung menjelaskan hal ini terdapat dalam Surah An-Nisa ayat 86. Ayat tersebut memerintahkan agar penghormatan dibalas dengan yang lebih baik atau setara.
Berapa keutamaan salam menurut hadis Abu Dawud?
Dalam hadis riwayat Abu Dawud nomor 5195, disebutkan tingkatan sepuluh, dua puluh, dan tiga puluh untuk bentuk salam yang semakin lengkap. Riwayat ini dinilai sahih oleh Al-Albani.
Apakah salam harus diucapkan kepada orang yang sudah dikenal?
Tidak harus terbatas kepada orang yang dikenal. Dalam hadis sahih, Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam menganjurkan penyebaran salam, termasuk kepada orang yang dikenal maupun yang belum dikenal, dengan tetap memperhatikan adab dan keadaan.
Apakah tambahan wa maghfiratuh wa ridwanuh wajib diucapkan?
Tidak. Tambahan tersebut tidak wajib menjadi bagian dari salam. Karena riwayat yang dijadikan dasarnya dinilai lemah oleh sejumlah ulama, bentuk salam yang umum dan memiliki dasar riwayat yang kuat adalah salam yang berakhir dengan wabarakatuh.
Apa manfaat membiasakan salam?
Membiasakan salam dapat menjadi sarana mendoakan keselamatan, menunjukkan penghormatan, membangun keramahan, dan mempererat hubungan sosial. Nilai tersebut akan semakin kuat jika salam diikuti perilaku jujur, santun, dan menghargai orang lain.
11. Rangkuman dan Kesimpulan
Etika salam dalam Islam merupakan bagian dari adab pergaulan yang memiliki dasar dalam Al-Qur'an dan hadis. Salam mengandung doa keselamatan, rahmat, dan keberkahan bagi orang yang disapa. Karena itu, mengucapkan salam sebaiknya dilakukan dengan tulus, jelas, dan disertai sikap yang santun.
Surah An-Nisa ayat 86 mengajarkan agar salam dibalas dengan penghormatan yang setara atau lebih baik. Sementara itu, hadis riwayat Abu Dawud nomor 5195 menjelaskan tingkatan salam yang semakin lengkap. Bentuk salam yang lengkap adalah Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, sedangkan jawabannya adalah Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
Inti pelajaran: Salam bukan sekadar ucapan pembuka, melainkan doa dan bentuk penghormatan. Biasakan mengucapkan serta menjawab salam dengan baik, kemudian wujudkan maknanya melalui perilaku yang santun, jujur, dan menjaga hubungan baik dengan sesama.
Mari membiasakan salam di rumah, sekolah, kampus, tempat kerja, dan lingkungan masyarakat. Semoga kebiasaan sederhana ini menjadi jalan untuk memperkuat persaudaraan, menebarkan kebaikan, dan mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Posting Komentar untuk "Etika Salam dalam Islam: Bacaan, Jawaban, Adab, dan Keutamaannya"
Silahkan Berkomentar Dengan Bijak