Definisi Qanaah

Bismillahirrahmanirrahim
Segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah Shallallahu 'Alaihi Wassallam, keluarga, dan para sahabatnya, serta pengikutnya yang selalu setia dan Istiqomah.

Menurut bahasa qanaah adalah menerima apa adanya atau tidak serakah. Qanaah  sebagaimana diriwayatkan oleh Jabir bin Abdallah bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassallam telah bersabda: “ qanaah (menerima pemberian Allah) adalah harta yang tidak sirna.”(HR. Thabrani).

Qanaah adalah sikap merasa puas dengan segala yang ada. Dikatakan juga bahwa qanaah adalah sikap tenang dalam menghadapi hilangnya sesuatu yang biasa ada. 

Muhammad Ali at Tirmidzi menegaskan: “qanaah adalah suatu kepuasan jiwa atas rejeki yang dilimpahkan kepadanya”. Dikatakan qanaah adalah menemukan kecukupan didalamnya yang ada di tangan.

Rasulullah bersabda. Telah berkata, “bukanlah kekayaan itu lantaran banyak harta, kekayaan ialah kekayaan jiwa.” Yang artinya diri yang kenyang dengan apa yang ada, tidak terlalu cemburu, buskan orang yang meminta lebih terus-terusan.

Karena kalau masih meminta tambah, tandanya masih miskin Orang yang mempunyai sifat qanaah telah memagar hartanya sekedar apa yang ada didalam tangannya dan tidak menjalar pikirannya kepada yang lain.

Rasa cukup terhadap apa yang ada pada diri sendiri, merupakan ungkapan tentang kecukupan diri tetapi tidak berarti membuat seorang tidak mengerahkan kemampuan dan potensinya untuk memperoleh sesuatu yang diinginkan dan disukainya. 

Manusia tidak dilarang bekerja mencari penghasilan, tidak disuruh berpangku tangan dan malas lantaran harta yang telah ada, karena yang demikian bukanlah qanaah, yang demikian adalah kemalasan. 

Bekerjalah, karena manusia dikirim kedunia untuk bekerja, tetapi tenangkan hati, yakinlah bahwa yang didalam pekerjaan itu ada kalah ada menang. Jadi bekerja bukan lantaran memandang harta yang telah ada belum mencukupi, tetapi bekerja lantaran menjalankan perintah dari Allah Subhanahu wata'ala.

Hal ini kerap menimbulakan kesalahpahaman dalam kalangan mereka yang tidak paham agama. Mereka lemparkan kepada agama suatu tuduhan, bahwa dia memundurkan hati bergerak. 

Maksudnya membawa manusi untuk malas, sebab agama senantiasa mengajak umatnya membenci dunia, terima saja apa adanya, terima saja takdir, jangan berikhtiar dan berlepas dirilah kepada Allah Subhanahu wata'ala. Sebab itu bangsa yang tidak beragama memperoleh kekayaan, bangsa yang zuhud menjadi miskin.

Tuduhan demikian muncul lantaran salah pemahaman pemeluk agama itu sendiri. Mereka beranggapan bahwa yang bernama qanaah, ialah menerima saja  apa yang ada, sehingga mereka tidak berikhtiar lagi. 

Mereka menamai taqwa orang yang hanya karam dalam mihrab. Mereka katakana shaleh orang hanya menjungjung serban besar, tetapi tidak memperdulikan gerak-geriknya didunia.

Mengatur hidup, mengatur kepandaian, ilmu dunia, semuanya mereka beranggapan dilarang oleh agama, sebab kesalahan pemahaman pemeluk agama tersebut, salah juga prasangkaan orang yang tidak terdidik dengan agama.

Sejatinya pelajaran agama menyuruh qanaah itu, ialah qanaah hati bukan qanaah dalam hal ikhtiar. Sebab itu terdapat dalam masa sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wassallam.

Maksud qanaah sangat luas, menyuruh percaya yang benar-benar akan adanya kekuasaan yang melebihi kekuasaan manusia, menyuruh sabar menerima ketentuan illahi jika ketentuannya itu tidak menyenangkan diri, dan bersyukur jika dipinjamiNya nikmat, sebab selama nyawa masih dikandung badan, kewajiban belum berakhir. 

Manusia bekerja bukan lantaran meminta tambahan yang telah ada dan tidak merasa cukup pada apa yang telah didapat dari Allah, tetapi manusia bekerja sebab menjalani apa yang diperintahkan Allah kepadanya sesuai dengan firmanNya:

اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ نَصِيْبٌ مِّمَّا كَسَبُوْا ۗ وَاللّٰهُ سَرِيْعُ الْحِسَابِ

Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian daripada yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya ( Al Baqarah : 202)

Oleh sebab iu salah pemahaman orang yang mengatakan qanaah itu melemahkan hati, memalaskan pikiran dan mengajak untuk berpangku tangan.

Tetapi qanaah adalah modal yang paling tepat untuk menjalani kehidupan, menimbulkan kesungguhan hidup dalam mencari rezeki. Jangan takut, bertawakal kepada Allah, mengharapkan pertolonganNya, serta tidak merasa jengkel jika ada usaha yang tidak berhasil.

Apa gunanya ragu-ragu, padahal semuanya sudah tertulis lebih dahulu pada zaman azali, menurut jalan sebab dan musahab. 

Ada orang yang putus asa dan membuat bermacam-macam “boleh jadi” terhadap Allah. Dia berkata” boleh jadi saya telah ditentukan bernasib jelek, apa gunanya saya berikhtiar. Boleh jadi saya masuk neraka apa gunanya saya sembahyang.”

Ini namanya su’uzahan, jahat sangka terhadap Allah, bukan husnuzhan, baik sangka. Lebih baik merdekakan pikiran yang demikian dari ikatannya.

Paham demikian bukan dari pelajaran agama yang biasa diajarkan, tetapi dari pelajaran filsafat yang timbul setelah ulama-ulama islam bertengkar tentang takdir, tentang azali, tentang qadha dan qadar.

Maka kembali kepada qanaah, bahwa sebaik-baiknya obat untuk menghindari keraguan hidup, ialah berikhtiar dan percaya kepada takdir. Hingga apapun bahaya yang akan mendatang, tidak diberi keraguan. 

Tidak selalu mengharapkan untung, dan tidak cemas ketika rugi, siapa yang tidak percaykepada qanaah maka dia tidak percaya akan adanya takdir, tidak sabar, tidak tawakal.

Maka banyaklah orang yang setengah gila apabila jatuh miskin, ditimpa cobaan, masuk rumah sakit. Banyak orang melakukan bunuh diri, karena putus asa, tidak terbuka baginya jalan. 

Dan itu semua tidak akan terjadi apabila seseorang qanaah, bersyukur atas apa yang dia punya dan tidak lelah dalam berikhtiar dan tidak selalu mengharapkan untung.

0 Response to "Definisi Qanaah"

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak