Penyebab Dicabutnya Berkah

Ψ¨ِΨ³ْΩ…ِ Ψ§Ω„Ω„َّΩ‡ِ Ψ§Ω„Ψ±َّΨ­ْΩ…َΩ†ِ Ψ§Ω„Ψ±َّΨ­ِΩŠΩ…ِ
Segala puji hanya milik Allah Subhanahu wa ta’ala, kita memuji-Nya, memohon pertolongan dari-Nya, dan meminta ampunan-Nya. Kita berlindung kepada-Nya dari keburukan-keburukan jiwa kita, dan kejelekan-kejelekan perbuatan kita. 

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah atas diri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, keluarganya, para sahabatnya, dan orang orang yang setia meniti jalan petunjuknya hingga hari kiamat.

Berkah rejeki menjadi idaman setiap manusia, banyak rejeki belum tentu membawa berkah. Adapun makna barokah dalam Al Quran dan As Sunnah adalah langgengnya kebaikan, kadang pula bermakna bertambahnya kebaikan dan bahkan bisa bermakna kedua-duanya. 

Namun sebagian orang salah persepsi dalam memahami makna berkah hingga melakukan hal-hal keliru untuk meraihnya. 

Rezeki bukan sekadar uang, tapi juga ilmu, kesehatan, ketenteraman jiwa, pasangan hidup, keturunan, nama baik, persaudaraan, ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya termasuk pula rezeki, bahkan lebih tinggi nilainya dibanding uang dan lainnya.

Banyak penyebab hilangnya berkah atau dicabutnya berkah rejeki seseorang, antara lain :

1. Karena Dosa

Dosa bukan saja penghalang datangnya rejeki tapi juga keberkahan rejeki-pun dicabut. Dosa yang dilakukan manusia, tidak akan berhenti pada dosa itu sendiri, tetapi akan berdampak negatif kepada dirinya, orang lain dan lingkungannya, serta hubungan antara dirinya sama Tuhannya.

2. Karena Kurang Taqwakal

Mencari rejeki dengan mengesampingkan Allah, seakan rejeki datang atas usahanya sendiri. Padahal seluruh kebaikan berasal dariNYA

Setelah kita mengetahui pentingnya melakukan usaha, hendaknya setiap hamba tidak bergantung pada sebab yang telah dilakukan. 

Karena yang dapat mendatangkan rezeki, mendatangkan manfaat dan menolak bahaya bukanlah sebab tersebut tetapi Allah ta’ala semata.

3. Bermaksiat

Seringkali dalam mencari rejeki melakukan hal-hal yang dilanggar agama dan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, seperti korupsi, manipulasi, meskipun uang yang didapat berlimpah akan tetapi hilang keberkahannya.

Kita mengaku cinta kepada Allah tapi maksiat dan dosa masih terus-menerus kita lakukan tanpa adanya rasa takut kepada Allah bahkan istigfar dan  ampunan Allah pun jarang kita pinta, padahal Allah lah dzat maha pengampun yang sangat mendambakan taubat hambanya, yang sayang kepada hambanya melebihi sayangnya seorang ibu kepada bayinya.

4. Tidak Ikhlas dalam beramal

Melakukan kebaikan karena riya' dan takabur. Berbuat baik dan beramal shaleh bukan karena ikhlas, tapi mengharapkan imbalan dan pujian, dan akhirnya kebaikan dan amal dicabut keberkahannya.

Memang tidak mudah untuk ikhlas dalam ber’amal. Banyak ujian dan tekanan perasaan kadang bila kita tidak kuat iman. Contohnya saja amalan bersedekah dikala sempit, apalagi jika uang ditangan hanya cukup untuk makan hari ini, besok belum tahu apakah akan ada rezki yang dapat dimakan. 

Padahal sedekah di waktu kita sedang tidak berpunya ini lebih tinggi nilainya jika kita ikhlas karena Allah Subhanahu Wa Ta'ala, dibandingkan sedekah orang kaya yang berlimpah kekayaannya, sehingga ketika dia mengeluarkan sedekah. 

5. Lalai

Di dalam ajaran Islam dianjurkan agar antar sesama selalu saling berwasiat tentang kebenaran dan kesabaran. Juga disebutkan bahwa setiap orang selalu dalam keadaan merugi, kecuali orang yang beriman, beramal shaleh, dan mereka yang saling berwasiat tentang kebenaran dan kesabaran.

Akibat terlalu sibuk mencari rejeki sampai lupa mendirikan kewajiban, seperti sholat, lupa mendidik keluarga, lupa menuntut ilmu agama, lupa membaca Alquran, lalai terhadap kepentingan orang banyak sehingga banyak orang yang kecewa dan akibatnya pekerjaan serta hasil yang didapat tidak baik.

6. Tidak berbakti pada orang tua

Sadar atau tidak, manusia tidak akan pernah hidup bahagia tanpa berbakti kepada orang tua. Kesuksesan seseorang baik di dunia maupun akhirat tidak bisa dipisahkan dengan peran kedua orang tua. 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah menjadikan naluri manusia untuk menghormati, mengasihi, dan senantiasa berbakti pada kedua orang tua. Karena besarnya kewajiban berbakti kepada kedua orang tua tersebut, Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengiringkan perintah untuk bertauhid dengan perintah berbakti kepada kedua orang tua. 

7. Memutuskan tali kekeluargaan dan silaturahiim

Silaturahmi merupakan sebuah amalan dalam Islam yang banyak mengandung manfaat di dalamnya. Selain bisa lebih mengeratkan kembali persaudaraan, silaturahmi dapat memperbanyak rezeki. Nabi Muhammad Saw bersabda dalam sebuah haditsnya:

Ω…َΩ†ْ Ψ£َΨ­َΨ¨َّ Ψ£َΩ†ْ يُΨ¨ْΨ³َΨ·َ Ω„َΩ‡ُ فِي Ψ±ِΨ²ْΩ‚ِΩ‡ِ وَيُΩ†ْΨ³َΨ£َ Ω„َΩ‡ُ فِي Ψ£َΨ«َΨ±ِΩ‡ِ فَΩ„ْيَΨ΅ِΩ„ْ Ψ±َΨ­ِΩ…َΩ‡ُ   

Artinya: “Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan diakhirkan ajalnya (dipanjangkan umurnya) maka bersilaturrahimlah” (HR. Bukhari Muslim). 

Intinya, memutus tali silaturahmi adalah tidak lagi menjalin kekerabatan, hubungan, atau persaudaraan, yang didasari benci atau dendam. 

8. Pelit

Ketika seseorang memiliki sifat ini maka ia akan didorong untuk menumpuk harta tanpa pernah mau memperhatikan nasib saudaranya. 

Jangankan bersedekah, membantu pun tidak akan mau. Yang mereka perhatikan hanya diri mereka sendiri agar bisa bahagia, syukur-syukur mereka bisa kaya. Inilah artikel tentang akibat sifat pelit untuk sedekah

Dampak dari sifat kikir ini, ternyata sangat luas karena bisa menjerumuskan seseorang melakukan segala cara demi mendapatkan harta. Sekalipun cara yang digunakan tidak beretika dan bermoral. 

Sifat ini membuat seseorang cuek dan egois dengan kondisi kehidupan seseorang yang sedang mengalami musibah dan kesusahan. 

Bahkan enggan untuk mengeluarkan harta untuk membantunya meskipun jumlahnya sedikit. Karena hal inilah yang membuat orang di sekitarnya menjauh dan enggan menjalin hubungan.

9. Kurang Bersyukur

Banyak orang berpikir bahwa rezeki datang dikarenakan usaha keras mereka sendiri. Padahal sejatinya yang memberikan semua rezeki adalah Allah Ta’ala. Rezeki bukan hanya soal harta. 

Banyak hal yang dapat dikatakan sebagai rezeki. Mendapat nilai terbaik, mendapat pekerjaan yang nyaman, nikmat belajar, nikmat ibadah, nikmat untuk bernapas, memiliki badan ideal dan wajah yang rupawan punbisa dikatakan sebagai rezeki. 

Rezeki adalah bentuk kenikmatan, dan tentu semuanya tidak lepas dari maha baik AllahAzza Wa Jalla. Namun dengan segala kenikmatan yang kita dapatkan itu, apakah sebanding dengan rasa syukur kita terhadap apa yang sudah Allah beri? 

Untuk beberapa orang, ya, mereka mensyukuri segala nikmat yang telah Allah berikan kepadanya. Tapi beberapa orang pula merasa dirinya selalu kurang. Padahal ia sudah diberi segala bentuk kenikmatan yang mungkin beberapa orang tidak mendapatkannya. 

Rumah, kendaraan, sekolah tinggi, gaji besar, dan sebagainya sudah ia dapatkan. Merasa insecure dengan apa yang sudah ia punya. 

Insecure merupakan perasaan yang menggambarkan rasa tidak aman, malu, tidak percaya diri, gelisah yang didasari oleh faktor diri sendiri maupun orang lain.

10. Kurang Shodaqoh

Selalu merasa kurang dan kurang, berkeluh kesah, akibatnya rejeki semakin sulit didapat juga keberkahan rejeki semakin hilang

Seringkali manusia mengesampingkan keberkahan suatu rejeki dengan alasan yang penting kaya, hidup senang, bebas berbuat apa saja. 

Dari Beberapa penyebab dicabutnya berkah rejeki diatas, sangat berdampak pada kehidupan individu itu sendiri dan keluarganya

Banyak orang tidak menyadari akibat-akibat yang akan terjadi jika rejeki kurang berkah, yaitu:

1. Sakit atau menderita suatu penyakit
2. Anak - anak / anggota keluarga menjadi nakal tidak terkendali
3. Kehilangan
4. Selalu was-was atau gelisah
5. Datangnya bala' atau bencana
6. Umur menjadi tidak berkah
7. Dipersempitnya untuk mendapatkan kelapangan atau kemudahan

Boleh jadi Allah mengabulkan doa kita tersebut seketika itu juga. Sehingga hal tersebut menjadi bencana yang membuat kita menyesal. 

Banyaksekali jalan untuk meraih keberkahan rejeki, berkah hidup, hanya saja diri kita sendiri yang terkadang mempersulitnya. Maka marilah kita raih keberkahan tersebut dengan keistiqomahanya dalam menunaikan hak-hak NYA

Allah Subhanahu Wa Ta'ala itu Maha Pemberi Rezeki terbaik (ar-Razzaq, Khair ar-Raziqin). Rezeki Allah itu luas, takterbatas. Karena itu, rezeki tidak boleh dipahami sebatas harta benda, materi atau uang. 

Iman, ilmu, amal shalih, umur, harta, kesehatan, keluarga, sahabat, relasi, dan sebagainya merupakan rezeki yang harus disyukuri dan dimaknai agar menjadi berkah melimpah, sehingga dapat mengantarkan hamba meraih husnul khatimah dan ridha-Nya.

Puncak keberkahan rezeki yang sangat didambakan hamba adalah rezeki mulia (rizqun karim), yaitu kenikmatan surgawi. Rezeki mulia merupakan balasan paling indah bagi orang-orang beriman. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. 

Ψ§ُΩˆΩ„ٰۤΩ‰ِٕΩƒَ Ω‡ُΩ…ُ Ψ§Ω„ْΩ…ُΨ€ْΩ…ِΩ†ُوْΩ†َ Ψ­َΩ‚ًّΨ§ۗ Ω„َΩ‡ُΩ…ْ Ψ―َΨ±َΨ¬ٰΨͺٌ ΨΉِΩ†ْΨ―َ Ψ±َΨ¨ِّΩ‡ِΩ…ْ وَΩ…َΨΊْفِΨ±َΨ©ٌ وَّΨ±ِΨ²ْΩ‚ٌ ΩƒَΨ±ِيْΩ…ٌۚ

"Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat (tinggi) di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia".(Q. Al-Anfal:4)

Semoga penjelasan diatasa bermanfaat dan dapat mambantu untuk menambah dan memperluas ilmu yang sudah dimiliki.Terima kasih atas kunjungannya.

0 Response to "Penyebab Dicabutnya Berkah "

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak