Potensi Manusia

Bismillahirrahmanirrahim
Segala puji hanya milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan sallam atas Rasulillah Shallallahu 'Alaihi Wa sallam, keluarga, dan para sahabatnya, serta pengikutnya yang selalu dirahmati-Nya

Berbeda dengan makhluk lainnya, manusia adalah ciptaan Allah yang paling potensial. Artinya potensi yang dibekali oleh Allah untuk manusia sangatlah lengkap dan sempurna. 

Hal ini menyebabkan manusia mampu mengembangkan dirinya melalui potensi-potensi (innate potentials atau innate tendencies) tersebut.

Secara fisik manusia terus tumbuh, secara mental manusia terus berkembang, mengalami kematangan dan perubahan. Kesemua itu adalah bagian dari potensi yang diberikan Allah kepada manusia sebagai ciptaan pilihan. 

Potensi yang diberikan kepada manusia itu sejalan dengan sifat-sifat Tuhan, dan dalam batas kadar dan kemampuannya sebagai manusia. 

Karena jika tidak demikian, menurut Hasan Langgulung, maka manusia akan mengaku dirinya Tuhan.

Jalaluddin mengatakan bahwa ada empat potensi yang utama yang merupakan fitrah dari Allah kepada manusia.

Potensi Manusia

1. Potensi Naluriah (Emosional) atau Hidayat al- Ghariziyyat

Potensi naluriah ini memiliki beberapa dorongan yang berasal dari dalam diri manusia. Dorongan-dorongan ini merupakan potensi atau fitrah yang diperoleh manusia tanpa melalui proses belajar. 

Makanya potensi ini disebut juga potensi instingtif, dan potensi ini siap pakai sesuai dengan kebutuhan manusia dan kematangan perkembangannya. 

Dorongan yang pertama adalah insting untuk kelangsungan hidup seperti kebutuhan akan makan, minum penyesuaian diri dengan lingkungan. Dorongan yang kedua adalah dorongan untuk

mempertahankan diri. Dorongan ini bisa berwujud emosi atau nafsu marah, dan mempertahankan diri dari berbagai macam ancaman dari luar dirinya, yang melahirkan kebutuhan akan perlindungan seprti senjata, rumah dan sebagainya.

Yang ketiga adalah dorongan untuk berkembang biak atau meneruskan keturunan, yaitu naluri seksual. Dengan dorongan ini manusia bisa tetap mengembangkan jenisnya dari generasi ke generasi.

2. Potensi Inderawi (Fisikal) atau Hidayat al- Hasiyyat

 Potensi fisik ini bisa dijabarkan atas anggota tubuh atau indra-indra yang dimiliki manusia seperti indra penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba dan perasa. 

Potensi ini difungsikan melalui indra-indra yang sudah siap pakai hidung, telinga, mata, lidah, kulit, otak dan sisten saraf manusia. 

Pada dasarnya potensi fisik ini digunakan manusia untuh mengetahui hal-hal yang ada di luar diri mereka, seperti warna, rasa, suara, bau, bentuk ataupun ukuran sesuatu. 

Jadi bisa dikatkan poetensi merupakan alat bantu atau media bagi manusia untuk mengenal hal-hal di luar dirinya. Potensi fisikal dan emosional ini terdapat juga pada binatang.

3. Potensi Akal (Intelektual) atau Hidayat al- Aqliyat

Potensi akal atau intelektual hanya diberikan Allah kepada manusia sehingga potensi inilah yang benar-benar membuat manusia menjadi makhluk sempurna dan membedakannya dengan binatang. Jalaluddin mengatakan bahwa:

“potensi akal memberi kemampuan kepada manusia untuk memahami simbolsimbol, hal-hal yang abstrak, menganalisa, membandingkan, maupun membuat kesimpulan yang akhirnya memilih dan memisahkan antara yang benar dengan yang salah. 

Kebenaran akal mendorong manusia berkreasi dan berinovasi dalam menciptakan kebudayaan serta peradaban. 

Manusia dengan kemampuan akalnya mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, mengubah serta merekayasa lingkungannya, menuju situasi kehidupan yang lebih baik, aman, dan nyaman.”

4. Potensi Agama (Spiritual) atau Hidayat al- Diniyyat

Selain potensi akal, sejak awal manusia telah dibekali dengan fitrah beragama atau kecenderungan pada agama. 

Fitrah ini akan mendorong manusia untuk mengakui dan mengabdi kepada sesuatu yang dianggapnya memiliki kelebihan dan kekuatan yang lebih besar dari manusia itu sendiri. 

Nantinya, pengakuan dan pengabdian ini akan melahirkan berbagai macam bentuk ritual atau upacara-upacara sakral yang merupakan wujud penyembahan manusia kepada Tuhannya. 

Dalam pandangan Islam kecenderungan kepada agama ini merupakan dorongan yang bersal dari dalam diri manusia sendiri yang merupakan anugerah dari Allah. Dalam al-Qur’an dijelaskan: 

فَØ£َقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ Ø­َنِيفًا ۚ فِØ·ْرَتَ ٱللَّهِ ٱلَّتِى فَØ·َرَ ٱلنَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَØšْدِيلَ لِØ®َلْقِ ٱللَّهِ ۚ Ø°َٰلِكَ ٱلدِّينُ ٱلْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ Ø£َكْØ«َرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,’ (QS: ar-RÅ«m:30).

Dari ayat di atas bisa dikatakan bahwa yang dimaksud dengan fitrah Allah adalah ciptaan Allah. Artinya Allah menciptakan manusia dengan memberinya potensi beragama yaitu agama tauhid sehingga apabila ada manusia yang tidak beragama tauhid maka itu tidak wajar. 

Dan bisa dipastikan bahwa keadaan seperti itu adalah karena pengaruh dari luar diri manusia. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Bukhari menyatakan bahwa setiap anak yang lahir itu sesuai dengan fitrah atau potensi beragama tauhid dari Allah, namun orang tuanya (lingkungannya) yang menyebabkan anak tersebut keluar dari fitrah Allah tersebut. 

Untuk mempertahankan fitrah tersebut, manusia juga dibekali dengan potensi emosi (seperti telah dijelaskan di atas), sehingga dengan emosi yang ada dalam dirinya manusia dapat merasakan bahwa Allah itu ada.

Dalam ayat lain dijelaskan bahwa:

وَØ¥ِØ°ْ Ø£َØ®َØ°َ رَØšُّكَ مِنۢ Øšَنِىٓ Ø¡َادَمَ مِن Øžُهُورِهِمْ Ø°ُرِّيَّتَهُمْ وَØ£َØŽْهَدَهُمْ عَلَىٰٓ Ø£َنفُسِهِمْ Ø£َلَسْتُ ØšِرَØšِّكُمْ ۖ قَالُوا۟ Øšَلَىٰ ۛ ØŽَهِدْنَآ ۛ Ø£َن تَقُولُوا۟ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَØ©ِ Ø¥ِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰØ°َا غَٰفِلِينَ

 “Dan ingatlah ketika Tuhan-mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka, dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka dan berfirman, ‘Bukankah Aku ini Tuhan mu?’ Mereka menjawab, ‘Betul, Engkau adalah Tuhan kami, kami menjadi saksi.” (QS: al-A’raf;172).

Dari ayat di atas bisa kita simpulkan bahwa potensi beragama tauhid ini telah ada jauh sebelum manusia lahir. 

Potensi positif ini harus dipupuk dan dibimbing melalui proses pendidikan agar tidak menyimpang dari esensi potensi tersebut.

Dalam menjalani hidup di dunia ini manusia memang membutuhkan agama. Selain potensi atau fitrah dari Allah tersebut, Abuddin Nata mengatakan ada dua hal lain lagi mengapa manusia membutuhkan agama. 

Manusia memang makhluk sempurna, namun meskipun memiliki banyak potensi tetap saja manusia mempunyai banyak kelemahan dan kekurangan. 

Hal ini menyebabkan manusia membutuhkan sesuatu yang lain yang lebih hebat dari dirinya sendiri, yang dalam hal ini adalah Tuhan. 

Hal lain adalah tantangan dalam hidup yang berupaya menjauhkan atau melencengkan manusia dari potensi beragama ini. 

Tantangan ini bisa berasal dari dalam diri manusia, seperti dorongan hawa nafsu dan bisikan  setan ataupun dari luar diri manusia yaitu lingkungan atau manusia lain yang ingin menjauhkannya dari agama tauhid. 

0 Response to "Potensi Manusia"

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak