SALAH ILMU ATAU SALAH GURU

Kita tak hanya butuh ilmu dari ustadz Ahlussunnah, tapi kita juga butuh teladan dari akhlak mereka yang mulia; dari keikhlasan mereka, ketawadhuan, tutur kata mulia dan muamalah mereka yang penuh rahmat pada sesama mukmin -terlebih mukmin Ahlussunnah.

Kita butuh mereka sebagai cermin motivasi dalam akhlak dan adab, juga dalam amal; shalat malam, berdzikir, puasa nafilah, tilawah Al-Qur’an, infaq, dan amalan-amalan Sunnah lainnya. Dan itu kita raih dari ustadz yang tidak hanya berilmu dengan keilmuan di atas manhaj Salaf, tapi juga yang mengamalkan ilmunya, yang punya khosy-yah pada Allah ta’ala.

Karenanya, jika kita justru gembira ketika saudara mukmin Ahlussunnah tergelincir dalam kesalahan, nikmat ketika membicarakan aibnya, lisan begitu ringan berucap kotor demi menjatuhkan kehormatannya, bahkan senang dengan musibah yang menimpanya. 

Sementara di sisi lain ilmu dan amal kita justru tak bertambah, hati bertambah keras, banyak menyimpan dengki dan amarah pada sesama Ahlussunnah, serta nafsu untuk melampiaskannya, maka coba koreksi lagi; sebenarnya ilmu model apa yang telah kita pelajari, dan kepada siapa kita menimbanya.

Jangan-jangan, selama ini kita salah ilmu, atau salah guru.

Ψ±َΨ¨َّΩ†َΨ§ وَΩ±Ψ¨ۡΨΉَΨ«ۡ فِΩŠΩ‡ِΩ…ۡ Ψ±َΨ³ُΩˆΩ„ٗΨ§ Ω…ِّΩ†ۡΩ‡ُΩ…ۡ يَΨͺۡΩ„ُواْ ΨΉَΩ„َيۡΩ‡ِΩ…ۡ Ψ‘َايَٰΨͺِΩƒَ وَيُΨΉَΩ„ِّΩ…ُΩ‡ُΩ…ُ Ω±Ω„ۡΩƒِΨͺَٰΨ¨َ وَΩ±Ω„ۡΨ­ِΩƒۡΩ…َΨ©َ وَيُΨ²َΩƒِّΩŠΩ‡ِΩ…ۡۖ Ψ₯ِΩ†َّΩƒَ Ψ£َΩ†Ψͺَ Ω±Ω„ۡΨΉَΨ²ِيزُ Ω±Ω„ۡΨ­َΩƒِΩŠΩ…ُ

“Ya Rabb kami, utuslah di tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu dan mengajarkan Kitab dan Hikmah kepada mereka, dan menyucikan mereka. Sungguh, Engkaulah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.” (Surah Al-Baqarah: 129)

Jawaban atas pertanyaan "salah ilmu atau salah guru" tidak bisa dijawab secara hitam-putih. Keduanya bisa menjadi penyebab seseorang keliru dalam memahami suatu ilmu.

Salah ilmu dapat terjadi karena beberapa faktor, antara lain:

1. Ilmu yang disampaikan oleh guru atau sumber lain tidak akurat atau tidak lengkap.

2. Ilmu tersebut sudah usang dan tidak sesuai dengan perkembangan zaman.

3. Ilmu tersebut disampaikan dengan cara yang tidak tepat, sehingga sulit dipahami atau menimbulkan salah pengertian.

Salah guru* dapat terjadi karena beberapa faktor, antara lain:

1. Guru tidak memiliki kompetensi yang memadai dalam bidang ilmu yang diajarkannya.

2. Guru tidak memiliki metode mengajar yang tepat.

3. Guru memiliki bias atau kepentingan tertentu dalam menyampaikan ilmu.

Dalam beberapa kasus, salah ilmu dan salah guru bisa saling berkaitan. Misalnya, seorang guru yang tidak memiliki kompetensi yang memadai dalam bidang ilmu yang diajarkannya, maka ia akan lebih cenderung menyampaikan ilmu yang tidak akurat atau tidak lengkap.

Oleh karena itu, penting bagi kita untuk kritis dalam menerima suatu ilmu, baik dari guru maupun sumber lain. Kita harus selalu berusaha untuk mencari informasi dari berbagai sumber yang terpercaya, serta menganalisis informasi tersebut secara kritis sebelum menyimpulkannya.

Berikut adalah beberapa tips untuk menghindari salah ilmu atau salah guru:

1. Pilihlah guru yang memiliki kompetensi yang memadai dalam bidang ilmu yang diajarkannya.

2. Tanyakan kepada guru mengenai sumber-sumber yang digunakannya dalam mengajar.

3. Cari informasi dari berbagai sumber yang terpercaya, baik dari buku, jurnal, website, maupun sumber lain.

4. Lakukan analisis kritis terhadap informasi yang Anda terima.

Jika Anda menemukan kesalahan dalam suatu ilmu, jangan ragu untuk mengoreksinya. Anda bisa mengoreksinya kepada guru Anda, atau kepada sumber lain yang lebih terpercaya.

0 Response to "SALAH ILMU ATAU SALAH GURU "

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak