Ingat Mati: Penawar Hati yang Keras

Salah satu kisah yang sering dibawakan dalam literatur tentang ulama salaf yang takut menghadapi kematian adalah kisah Imam Sufyan ats-Tsauri Ψ±Ψ­Ω…Ω‡ Ψ§Ω„Ω„Ω‡. Namun, untuk konten dakwah, sebaiknya tidak menambahkan dialog atau detail dramatis yang tidak memiliki sumber kuat.

Sufyan ats-Tsauri Ψ±Ψ­Ω…Ω‡ Ψ§Ω„Ω„Ω‡ dikenal sebagai ulama besar yang sangat kuat dalam ilmu, ibadah, dan kezuhudan. Salah satu sisi yang sangat menyentuh dari kehidupan beliau adalah rasa takut kepada Allah ο·» dan kesadaran bahwa setiap manusia akan kembali kepada-Nya.

Ilmu Tidak Membuatnya Merasa Aman

Orang yang mengenal Allah ο·» justru semakin takut kepada-Nya.

Bukan takut seperti orang yang tidak mengenal kasih sayang Allah.

Tetapi takut karena mengetahui betapa besar tanggung jawab seorang hamba atas setiap amalnya.

Allah ο·» berfirman:

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (QS. Ali 'Imran: 185)

Kematian tidak mengenal usia.

Tidak menunggu seseorang kaya.

Tidak menunggu seseorang selesai memperbaiki hidupnya.

Dan tidak menunggu seseorang merasa siap.

Mengapa Orang Saleh Takut kepada Kematian?

Karena mereka memahami bahwa kematian bukan sekadar berhentinya kehidupan dunia.

Setelah kematian ada alam barzakh, kemudian manusia akan dibangkitkan dan mempertanggungjawabkan amalnya.

Rasulullah ο·Ί bersabda:

“Orang yang cerdas adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian.”  (HR. Tirmidzi.)

Karena itu, orang beriman tidak hanya bertanya:

“Berapa lama lagi aku hidup?”

Tetapi:

“Apa yang sudah aku persiapkan jika hidupku berakhir hari ini?”

Ketika Dunia Mulai Terasa Tidak Berarti

Ketika seseorang menyadari bahwa kematian semakin dekat, banyak hal yang dahulu terlihat penting tiba-tiba terasa kecil.

Rumah yang dibanggakan akan ditinggalkan.

Harta yang dikumpulkan akan berpindah tangan.

Jabatan akan berakhir.

Popularitas akan hilang.

Orang-orang yang dahulu selalu berada di sekitar kita akhirnya akan mengantarkan kita sampai pemakaman.

Setelah itu, kita tinggal sendiri dengan amal.

Itulah sebabnya Rasulullah ο·Ί mengingatkan:

“Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian.” (HR. Tirmidzi, An-Nasa'i dan Ibnu Majah)

Jangan Menunggu Tua untuk Bertaubat

Kesalahan terbesar manusia adalah merasa masih mempunyai banyak waktu.

“Nanti kalau sudah tua aku akan berubah.”

“Nanti kalau sudah kaya aku akan bersedekah.”

“Nanti kalau sudah pensiun aku akan memperbanyak ibadah.”

Padahal tidak ada yang tahu apakah kita akan sampai pada usia tersebut.

Berapa banyak manusia yang tidur malam dengan rencana untuk bangun esok pagi, tetapi ternyata tidak pernah membuka mata lagi?

Maka jangan menunda taubat.

Kalau hari ini masih diberi kesempatan, gunakan kesempatan itu.

Jika Malam Ini Adalah Malam Terakhir

Bayangkan malam ini kita tidur.

Kemudian malaikat maut datang.

Semua rencana kita berhenti.

Ponsel tetap berada di samping tempat tidur.

Pekerjaan masih belum selesai.

Pesan masih belum dibalas.

Keinginan masih banyak.

Tetapi waktu sudah habis.

Apa yang paling kita sesali?

Bukan rumah yang kurang besar.

Bukan kendaraan yang kurang mahal.

Bukan jumlah pengikut yang sedikit.

Tetapi mungkin kita akan menyesal karena terlalu banyak waktu yang diberikan Allah ο·» namun terlalu sedikit digunakan untuk mendekat kepada-Nya.

Kisah-kisah tentang rasa takut para ulama terhadap kematian seharusnya tidak membuat kita putus asa.

Justru sebaliknya.

Rasa takut yang benar seharusnya membuat kita segera memperbaiki diri.

Takut kepada kematian bukan berarti membenci kehidupan.

Tetapi menyadari bahwa kehidupan ini memiliki batas

Maka selama masih hidup:

Perbaiki shalat.

Perbanyak istighfar.

Tinggalkan dosa

Minta maaf kepada orang yang pernah kita sakiti.

Bayar utang jika ada hutang

Perbanyak sedekah.

Baca Al-Qur'an

Perbaiki hubungan dengan Allah ο·».

Suatu hari nanti, nama kita mungkin disebut dalam doa jenazah.

Orang-orang akan berdiri mengelilingi tubuh kita.

Mereka akan membawa kita ke pemakaman.

Tanah akan ditutup di atas tubuh kita.

Kemudian semua orang akan pulang

0 Response to "Ingat Mati: Penawar Hati yang Keras"

Posting Komentar

Silahkan Berkomentar Dengan Bijak