Amal Termasuk Bagian dari Iman

Amal Termasuk Bagian dari Iman: Dalil Al-Qur'an, Hadis, dan Penjelasan Ulama
Amal termasuk bagian dari iman merupakan salah satu prinsip penting dalam pembahasan akidah Islam. Iman bukan sekadar pengakuan di dalam hati atau ucapan melalui lisan, tetapi juga mencakup amalan hati, perkataan, dan perbuatan anggota badan. Karena itu, keimanan seorang Muslim tercermin dalam ketaatan kepada Allah, pelaksanaan ibadah, serta akhlak dalam kehidupan sehari-hari.
Al-Qur'an dan hadis menjelaskan bahwa iman dapat bertambah karena ketaatan dan berkurang akibat kemaksiatan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bahkan menerangkan bahwa iman memiliki banyak cabang, mulai dari kalimat tauhid hingga tindakan sederhana seperti menyingkirkan gangguan dari jalan. Lantas, bagaimana hubungan antara iman dan amal menurut penjelasan para ulama? Apa dalil yang menunjukkan bahwa amal merupakan bagian dari iman? Berikut pembahasan lengkapnya.
1. Pengertian Iman dalam Islam
Secara bahasa, iman berkaitan dengan makna membenarkan dan memberikan kepercayaan. Adapun dalam pembahasan akidah, iman mencakup keyakinan yang benar terhadap Allah dan segala perkara yang diberitakan oleh Rasul-Nya, disertai ketundukan dan konsekuensi yang tampak dalam kehidupan seorang Muslim.
Dalam penjelasan ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah, iman mencakup tiga unsur utama:
a. Keyakinan dan amalan hati
Iman berawal dari hati. Unsur ini mencakup pembenaran terhadap kebenaran yang dibawa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, keikhlasan, kecintaan kepada Allah, rasa takut kepada-Nya, harapan terhadap rahmat-Nya, tawakal, serta ketundukan kepada perintah-Nya.
Keyakinan hati bukan sekadar mengetahui suatu ajaran, melainkan membenarkannya dan menerima petunjuk tersebut dengan penuh ketundukan.
b. Ucapan lisan
Ucapan lisan merupakan bagian dari iman. Di antaranya adalah mengucapkan dua kalimat syahadat, membaca Al-Qur'an, berzikir, berdoa, mengucapkan perkataan yang baik, serta menyampaikan kebenaran dengan cara yang tepat.
Ucapan yang baik mencerminkan keimanan ketika disampaikan dengan niat yang benar dan tidak bertentangan dengan tuntunan agama.
c. Amalan anggota badan
Amalan anggota badan meliputi berbagai bentuk ketaatan yang dilakukan secara nyata. Contohnya adalah mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa, menunaikan ibadah haji bagi yang mampu, berbakti kepada orang tua, menjaga amanah, menolong sesama, dan menjauhi perbuatan yang dilarang Allah.
Iman bukan hanya sesuatu yang diyakini dan diucapkan. Iman juga memiliki konsekuensi berupa ketundukan, ketaatan, dan amal saleh.
Dengan demikian, ungkapan bahwa iman adalah keyakinan hati, ucapan lisan, dan amalan anggota badan merupakan penjelasan ringkas tentang unsur-unsur iman. Ketiganya memiliki hubungan yang erat dan tidak seharusnya dipahami secara terpisah.
2. Hubungan Iman dan Amal dalam Islam
Hubungan iman dan amal merupakan pembahasan mendasar dalam akidah. Iman menjadi landasan batin bagi seorang Muslim, sedangkan amal merupakan salah satu wujud ketaatan yang lahir dari keimanan tersebut.
Dalam pandangan Ahlus Sunnah wal Jamaah, amal bukan sekadar sesuatu yang sama sekali berada di luar pembahasan iman. Amal saleh termasuk dalam cakupan iman, sebagaimana ditunjukkan oleh berbagai ayat dan hadis.
a. Iman mendorong seseorang melakukan ketaatan
Orang yang beriman kepada Allah akan berusaha menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Keyakinan terhadap kewajiban shalat, misalnya, semestinya mendorong seorang Muslim untuk melaksanakannya.
Demikian pula keyakinan terhadap kewajiban bersikap jujur seharusnya tercermin dalam perkataan dan tindakan. Semakin seseorang memahami dan menghayati petunjuk agama, semakin besar dorongan untuk memperbaiki amalnya.
b. Amal menjadi bukti dan konsekuensi keimanan
Amal saleh merupakan salah satu bukti nyata bahwa keimanan memiliki pengaruh dalam kehidupan. Seseorang yang meyakini pentingnya amanah, misalnya, akan berusaha menjaga kepercayaan yang diberikan kepadanya.
Namun, perlu dipahami bahwa manusia tidak selalu mampu menjalankan seluruh kebaikan secara sempurna. Ada orang yang beriman tetapi melakukan dosa karena kelemahan, kelalaian, atau dorongan hawa nafsu. Keadaan tersebut harus dipahami berdasarkan ketentuan syariat dan tidak boleh menjadi alasan untuk sembarangan menghakimi keimanan seseorang.
c. Amal saleh menjadi sebab bertambahnya iman
Al-Qur'an menjelaskan bahwa keimanan orang-orang beriman dapat bertambah ketika mendengar dan memahami ayat-ayat Allah. Ketaatan, ibadah, dan amal saleh menjadi sebab yang menguatkan iman.
Sebaliknya, kemaksiatan dapat melemahkan keimanan. Oleh sebab itu, seorang Muslim perlu memperhatikan keadaan hati dan amalnya, bukan hanya merasa cukup dengan pengakuan keimanan.
3. Pelajaran dari Hadis Jariyah Mu'awiyah bin Al-Hakam
Salah satu hadis yang sering dibahas dalam pembahasan akidah adalah riwayat Mu'awiyah bin Al-Hakam As-Sulami radhiyallahu 'anhu mengenai seorang jariyah atau perempuan yang berada dalam tanggungannya.
Dalam riwayat panjang tersebut, Mu'awiyah menceritakan bahwa ia pernah menampar perempuan itu karena seekor serigala membawa lari kambing yang sedang digembalakannya. Setelah kejadian tersebut, ia merasa bersalah dan menghadap Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk menanyakan perkara tersebut.
Dalam riwayat yang tercantum dalam Shahih Muslim, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam meminta agar perempuan itu dihadirkan. Beliau kemudian mengajukan beberapa pertanyaan kepadanya.
a. Teks hadis tentang jariyah
أَيْنَ اللهُ؟ قَالَتْ: فِي السَّمَاءِ. قَالَ: مَنْ أَنَا؟ قَالَتْ: أَنْتَ رَسُولُ اللهِ. قَالَ: أَعْتِقْهَا فَإِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ
Artinya:
"Di manakah Allah?" Perempuan itu menjawab, "Di atas langit." Beliau bertanya, "Siapakah aku?" Ia menjawab, "Engkau adalah Rasulullah." Kemudian beliau bersabda, "Bebaskanlah dia, karena sesungguhnya dia seorang perempuan yang beriman."
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, no. 537 menurut penomoran yang umum digunakan. Riwayat tersebut juga terdapat dalam sejumlah kitab hadis lainnya dengan jalur dan redaksi yang perlu diperhatikan ketika dikaji.
b. Konteks hadis secara keseluruhan
Hadis ini merupakan bagian dari kisah yang lebih panjang. Sebelum peristiwa mengenai jariyah, Mu'awiyah bin Al-Hakam menceritakan pengalamannya ketika shalat bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Ketika salah seorang jamaah bersin, Mu'awiyah mengucapkan doa untuknya. Para sahabat yang berada di sekitarnya memberikan isyarat agar ia diam karena sedang shalat. Setelah shalat selesai, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan bahwa shalat tidak boleh diisi dengan percakapan manusia seperti percakapan biasa. Di dalam shalat terdapat bacaan dan zikir yang telah ditentukan.
Mu'awiyah kemudian menceritakan beberapa kebiasaan masyarakat sebelum Islam, termasuk mendatangi dukun dan mempercayai pertanda kesialan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan bimbingan mengenai perkara-perkara tersebut.
Dalam kisah yang sama, beliau juga memberikan arahan ketika Mu'awiyah menceritakan tindakan memukul jariyah. Peristiwa ini memperlihatkan pentingnya bertanya kepada Rasulullah, menerima bimbingan, dan memperbaiki tindakan yang telah dilakukan.
c. Apakah hadis tersebut berarti amal tidak termasuk iman?
Hadis jariyah tidak tepat dijadikan satu-satunya dasar untuk menyimpulkan bahwa iman cukup berupa pengakuan lisan tanpa amal. Pertanyaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadis tersebut berkaitan dengan pengenalan terhadap keyakinan dasar perempuan itu.
Hadis tersebut membicarakan penilaian terhadap keimanan seseorang berdasarkan tanda-tanda yang ditanyakan dalam konteks tertentu. Sementara itu, pembahasan mengenai hakikat iman secara menyeluruh harus dikembalikan kepada seluruh dalil Al-Qur'an dan Sunnah, bukan hanya satu potongan riwayat.
Dalam memahami hadis, para ulama menggabungkan berbagai riwayat dan dalil yang berkaitan. Mereka tidak mengambil satu teks secara terpisah lalu mengabaikan ayat dan hadis lain yang menjelaskan hubungan iman dengan amal.
Prinsip penting dalam memahami dalil adalah mengumpulkan seluruh keterangan yang berkaitan, memperhatikan konteksnya, dan merujuk kepada penjelasan ulama yang memiliki kompetensi.
4. Penjelasan Ulama tentang Iman dan Amal
Para ulama Ahlus Sunnah menjelaskan iman dengan ungkapan yang beragam. Ada yang menyebutnya sebagai ucapan dan perbuatan, ada yang menambahkan niat, dan ada pula yang menyebutkan mengikuti Sunnah. Perbedaan redaksi tersebut tidak selalu menunjukkan perbedaan hakikat, sebab masing-masing ungkapan menjelaskan unsur iman dari sudut yang berbeda.
a. Penjelasan Imam Ahmad bin Hanbal
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah dikenal dengan penjelasan bahwa iman adalah ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang.
Ketika ditanya tentang makna bertambah dan berkurangnya iman, beliau menjelaskan bahwa iman bertambah dengan adanya amal dan berkurang ketika seseorang meninggalkan amal. Contoh yang disebutkan dalam penjelasan tersebut adalah meninggalkan ibadah seperti shalat, zakat, dan haji yang telah menjadi kewajibannya.
Ungkapan ini menunjukkan bahwa amal memiliki kedudukan penting dalam pembahasan iman. Ketaatan menjadi sebab bertambahnya iman, sedangkan kemaksiatan dan meninggalkan ketaatan dapat menjadi sebab berkurangnya iman.
b. Penjelasan Imam Asy-Syafi'i
Imam Asy-Syafi'i rahimahullah juga dinukil menjelaskan bahwa iman merupakan ucapan dan amalan, serta dapat bertambah dan berkurang.
Dalam sejumlah riwayat dari beliau, dijelaskan bahwa iman bertambah karena ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan. Penjelasan ini sejalan dengan dalil Al-Qur'an yang menyebutkan bertambahnya iman ketika ayat-ayat Allah dibacakan kepada orang-orang beriman.
c. Penjelasan Imam Al-Bukhari
Imam Al-Bukhari rahimahullah menempatkan pembahasan iman secara khusus dalam kitab Shahih-nya. Dalam Kitabul Iman, beliau menyertakan dalil-dalil yang menunjukkan bahwa iman mencakup ucapan dan perbuatan serta dapat bertambah dan berkurang.
Di antara dalil yang dibahas adalah ayat tentang perubahan arah kiblat yang menyebut shalat kaum Muslimin terdahulu sebagai iman. Hal ini menunjukkan bahwa amal ibadah dapat disebut sebagai bagian dari iman dalam penggunaan istilah syariat.
d. Penjelasan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan bahwa para ulama Salaf menggunakan beberapa ungkapan ketika mendefinisikan iman, di antaranya:
- Iman adalah ucapan dan perbuatan.
- Iman adalah ucapan, perbuatan, dan niat.
- Iman adalah ucapan, perbuatan, niat, dan mengikuti Sunnah.
- Iman adalah keyakinan dalam hati, ucapan dengan lisan, serta amalan anggota badan.
Menurut penjelasan beliau, ungkapan-ungkapan tersebut dapat dipahami sebagai penjelasan yang saling melengkapi. Ucapan mencakup keyakinan hati dan perkataan lisan, sedangkan perbuatan mencakup amalan hati dan anggota badan.
Penjelasan mengenai hal ini dapat ditemukan dalam pembahasan Kitabul Iman dan Majmu' Fatawa, khususnya jilid 7, halaman 505–506 menurut edisi yang dirujuk dalam naskah asal.
e. Penjelasan tentang niat dan mengikuti Sunnah
Tambahan unsur niat dalam sebagian definisi iman menegaskan bahwa amal tidak hanya dinilai dari bentuk lahiriahnya. Niat memiliki kedudukan penting dalam menentukan nilai suatu perbuatan.
Adapun tambahan unsur mengikuti Sunnah mengingatkan bahwa ibadah dan bentuk ketaatan harus sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Niat yang baik saja tidak cukup apabila cara beramal bertentangan dengan petunjuk agama.
5. Dalil Al-Qur'an bahwa Amal Termasuk Bagian dari Iman
Al-Qur'an memberikan banyak keterangan mengenai hubungan iman dan amal. Beberapa ayat berikut menjadi landasan penting dalam memahami bahwa iman tidak terlepas dari ketaatan.
a. Surah Al-Baqarah ayat 143
وَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُضِيعَ إِيْمَانَكُمْ
"Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu."
QS. Al-Baqarah [2]: 143.
Ayat ini turun dalam konteks perubahan arah kiblat. Dalam penjelasan para ulama tafsir, kata iman pada ayat tersebut merujuk kepada shalat yang telah dilakukan kaum Muslimin sebelum perubahan arah kiblat.
Penggunaan kata iman untuk menyebut shalat menjadi salah satu dalil bahwa amal ibadah termasuk dalam cakupan iman. Shalat bukan hanya gerakan anggota badan, tetapi juga mencakup niat, keyakinan, dan ketundukan kepada Allah.
b. Surah Al-Anfal ayat 2–4
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا
Artinya:
"Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya. Hanya kepada Tuhannya mereka bertawakal. (Yaitu) orang-orang yang melaksanakan shalat dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman."
QS. Al-Anfal [8]: 2–4.
Ayat ini menjelaskan beberapa sifat orang beriman, yaitu:
- Hatinya memiliki rasa takut dan pengagungan kepada Allah.
- Imannya bertambah ketika mendengar ayat-ayat Allah.
- Bertawakal kepada Allah.
- Mendirikan shalat.
- Menginfakkan sebagian rezeki yang diberikan Allah.
Perhatikan bahwa ayat tersebut menggabungkan keadaan hati, peningkatan iman, tawakal, dan amal anggota badan. Seluruhnya menjadi gambaran karakter orang yang benar-benar beriman.
c. Surah Al-Mu'minun ayat 1–9
"Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khusyuk dalam shalatnya, orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tidak berguna, orang yang menunaikan zakat, orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki; sesungguhnya mereka tidak tercela. Barang siapa mencari di balik itu, mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya, serta orang-orang yang memelihara shalatnya."
QS. Al-Mu'minun [23]: 1–9.
Dalam ayat-ayat tersebut, Allah menyebutkan berbagai sifat orang beriman. Di antaranya adalah khusyuk dalam shalat, menjauhi perbuatan sia-sia, menunaikan zakat, menjaga kehormatan diri, memelihara amanah, dan menjaga shalat.
Hal ini memperlihatkan bahwa keimanan memiliki konsekuensi dalam perilaku. Seorang mukmin tidak hanya mengaku beriman, tetapi juga berusaha memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia.
d. Surah Al-Muddatsir ayat 31
وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آمَنُوا إِيمَانًا
"Dan agar orang-orang yang beriman bertambah imannya."
QS. Al-Muddatsir [74]: 31.
Potongan ayat ini secara jelas menyebutkan bahwa iman dapat bertambah. Dalam pembahasan para ulama, ayat tersebut menjadi salah satu dalil tentang peningkatan keimanan.
e. Surah Al-Hujurat ayat 15
"Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar."
QS. Al-Hujurat [49]: 15.
Ayat ini menghubungkan keyakinan yang tidak disertai keraguan dengan perjuangan menggunakan harta dan jiwa di jalan Allah. Dengan demikian, iman yang benar memiliki pengaruh terhadap tindakan dan pengorbanan seseorang.
6. Dalil Hadis tentang Cabang-Cabang Iman
Selain Al-Qur'an, hadis Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam secara jelas menerangkan bahwa iman memiliki banyak cabang. Salah satu hadis yang paling dikenal dalam pembahasan ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.
Hadis iman memiliki lebih dari tujuh puluh cabang
الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً، أَعْلَاهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ
Artinya:
"Iman memiliki lebih dari tujuh puluh cabang. Cabang yang paling tinggi adalah ucapan La ilaha illallah, sedangkan cabang yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan rasa malu merupakan salah satu cabang iman."
HR. Muslim, no. 35; juga diriwayatkan oleh Al-Bukhari dengan redaksi yang berkaitan.
Hadis ini memberikan gambaran luas tentang iman. Cabang iman tidak hanya berkaitan dengan keyakinan dan ucapan, tetapi juga tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi orang lain.
Contoh cabang-cabang iman
Berdasarkan hadis tersebut dan penjelasan para ulama, cabang iman dapat mencakup beberapa kelompok amalan berikut:
- Amalan hati: ikhlas, tawakal, cinta kepada Allah, takut kepada-Nya, dan berharap rahmat-Nya.
- Amalan lisan: mengucapkan kalimat tauhid, membaca Al-Qur'an, berzikir, berdoa, dan berkata jujur.
- Amalan anggota badan: shalat, puasa, zakat, membantu orang lain, menjaga amanah, serta menyingkirkan gangguan dari jalan.
Hadis tersebut juga mengajarkan bahwa perbuatan sederhana dapat memiliki nilai keimanan. Menyingkirkan benda berbahaya dari jalan, misalnya, merupakan tindakan yang melindungi orang lain dari bahaya.
7. Iman Dapat Bertambah dan Berkurang
Salah satu prinsip yang dijelaskan oleh para ulama Ahlus Sunnah adalah bahwa iman dapat bertambah karena ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan. Keadaan iman seseorang tidak selalu berada pada tingkat yang sama.
a. Penyebab bertambahnya iman
Beberapa hal yang dapat menjadi sebab bertambahnya iman antara lain:
- Mempelajari dan memahami Al-Qur'an.
- Merenungkan nama, sifat, dan kebesaran Allah sesuai tuntunan yang benar.
- Menjaga shalat wajib dan memperbanyak ibadah sunah.
- Memperbanyak zikir, doa, dan membaca Al-Qur'an.
- Mempelajari hadis dan sirah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
- Bergaul dengan orang-orang saleh dan lingkungan yang mengingatkan kepada kebaikan.
- Melakukan amal sosial seperti sedekah, membantu sesama, dan menjaga hubungan keluarga.
b. Hal-hal yang dapat melemahkan iman
Beberapa hal yang dapat menjadi sebab melemahnya iman antara lain:
- Melakukan kemaksiatan secara terus-menerus tanpa berusaha bertobat.
- Melalaikan kewajiban agama.
- Terbiasa melakukan perbuatan yang dilarang Allah.
- Mengabaikan nasihat dan peringatan agama.
- Mengikuti hawa nafsu tanpa mempertimbangkan tuntunan syariat.
- Berlebihan dalam perkara yang melalaikan hingga mengabaikan kewajiban.
Daftar tersebut bukan ukuran untuk menilai iman orang lain secara sembarangan. Setiap manusia memiliki keadaan, pengetahuan, kemampuan, dan ujian yang berbeda. Penilaian terhadap individu tertentu memerlukan kehati-hatian serta pemahaman terhadap ketentuan agama.
c. Cara menyikapi naik turunnya iman
Ketika merasa iman melemah, seorang Muslim hendaknya tidak berputus asa. Ia perlu kembali memperbaiki hubungan dengan Allah, menjaga ibadah wajib, bertobat, dan memperbanyak amal saleh.
Apabila melakukan kesalahan, jangan menjadikannya alasan untuk meninggalkan seluruh kebaikan. Segera bertobat dan berusaha memperbaiki diri. Pintu rahmat Allah terbuka bagi hamba yang kembali kepada-Nya.
8. Tingkatan Orang Beriman dalam Melakukan Amal
Al-Qur'an menjelaskan adanya kelompok-kelompok manusia dalam menerima dan mengamalkan petunjuk Allah. Salah satu ayat yang menjelaskan pembagian tersebut terdapat dalam Surah Fatir ayat 32.
"Kemudian, Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami. Lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan, dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Itulah karunia yang besar."
QS. Fatir [35]: 32.
Dalam penjelasan para ulama, tiga kelompok tersebut dikenal dengan istilah zhalim linafsih, muqtashid, dan sabiqun bil-khairat.
a. Sabiqun bil-khairat: orang yang berlomba dalam kebaikan
Sabiqun bil-khairat adalah orang-orang yang bersegera dalam melakukan kebaikan dengan izin Allah. Mereka berusaha melaksanakan kewajiban, memperbanyak amalan sunah, dan menjauhi larangan-Nya.
Kelompok ini berusaha memanfaatkan waktu dan kemampuan untuk mendekatkan diri kepada Allah serta memberikan manfaat kepada orang lain.
b. Muqtashid: orang yang berada di pertengahan
Muqtashid adalah orang yang menjalankan kewajiban dan meninggalkan perkara yang diharamkan. Ia tidak selalu memperbanyak amalan sunah, tetapi berusaha menjaga batas-batas yang telah ditetapkan agama.
c. Zhalim linafsih: orang yang menzalimi dirinya sendiri
Zhalim linafsih adalah orang yang mencampurkan amal kebaikan dengan perbuatan buruk. Ia masih memiliki kebaikan, tetapi juga melakukan dosa dan kelalaian.
Pembagian ini mengingatkan bahwa manusia memiliki tingkat ketaatan yang berbeda. Seorang Muslim hendaknya berusaha meningkatkan kualitas amal, bukan merasa puas dengan keadaan yang ada.
9. Memahami Perbedaan Pandangan tentang Iman
Dalam sejarah pembahasan akidah, terdapat perbedaan pandangan mengenai definisi iman dan hubungan antara iman dengan amal. Salah satu istilah yang muncul dalam pembahasan ini adalah Murji'ah.
a. Apa yang dimaksud dengan Murji'ah?
Murji'ah merupakan nama yang digunakan dalam literatur sejarah pemikiran Islam untuk kelompok atau pandangan yang memiliki pembahasan khusus mengenai iman dan status pelaku dosa. Dalam perkembangannya, kelompok-kelompok yang disebut Murji'ah tidak selalu memiliki satu rumusan yang seragam.
Dalam kritik ulama Ahlus Sunnah terhadap pandangan irja', salah satu persoalan yang dibahas adalah pemisahan amal dari hakikat iman. Sebagian rumusan Murji'ah memandang bahwa iman cukup berupa pembenaran hati atau pembenaran hati yang disertai pengucapan lisan, sedangkan amal tidak termasuk dalam definisi iman.
Namun, pembahasan sejarah dan klasifikasi kelompok tersebut cukup luas. Karena itu, tidak tepat menyamakan setiap orang yang melakukan dosa, memiliki kelemahan dalam ibadah, atau berbeda dalam istilah teologis sebagai pengikut satu kelompok tertentu.
b. Prinsip Ahlus Sunnah tentang iman
Dalam rumusan umum Ahlus Sunnah wal Jamaah, iman mencakup keyakinan hati, ucapan lisan, dan amalan anggota badan. Iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan.
Prinsip tersebut didasarkan pada gabungan dalil Al-Qur'an dan Sunnah, seperti Surah Al-Anfal ayat 2–4 dan hadis tentang cabang-cabang iman.
c. Apakah setiap pelaku dosa besar menjadi kafir?
Tidak. Dalam prinsip Ahlus Sunnah, melakukan dosa besar tidak secara otomatis menjadikan seseorang kafir. Pelaku dosa besar yang masih memiliki keimanan tidak disamakan begitu saja dengan orang yang keluar dari Islam.
Perbuatan dosa tetap merupakan perkara serius yang wajib ditinggalkan dan disertai tobat. Akan tetapi, penetapan status keimanan seseorang memiliki ketentuan dan syarat yang tidak boleh ditentukan berdasarkan penilaian pribadi tanpa ilmu.
Dalam perkara ini, Ahlus Sunnah berbeda dari pandangan Khawarij yang dikenal mengkafirkan pelaku dosa besar, serta berbeda dari sejumlah pandangan Mu'tazilah yang memiliki konsep tersendiri tentang kedudukan pelaku dosa besar.
d. Mengapa amal tidak boleh dianggap tidak penting?
Apabila amal dianggap tidak memiliki hubungan dengan iman, seseorang dapat salah memahami kedudukan ibadah dan kewajiban agama. Padahal, Al-Qur'an dan hadis berulang kali menghubungkan iman dengan shalat, zakat, amanah, akhlak, dan berbagai bentuk ketaatan.
Oleh sebab itu, seorang Muslim perlu menjaga keseimbangan pemahaman: tidak mengeluarkan amal dari pembahasan iman, tetapi juga tidak mudah menghakimi atau mengkafirkan orang yang melakukan dosa.
10. Cara Menjaga dan Meningkatkan Iman melalui Amal
Memahami bahwa amal termasuk bagian dari iman seharusnya mendorong seseorang untuk memperbaiki kehidupan sehari-hari. Keimanan tidak cukup hanya dibahas secara teori, tetapi perlu diwujudkan melalui tindakan nyata.
a. Menjaga shalat lima waktu
Shalat merupakan kewajiban utama seorang Muslim. Menjaganya tepat waktu dan berusaha melaksanakannya dengan khusyuk menjadi salah satu bentuk ketaatan yang penting.
b. Memperbanyak membaca dan memahami Al-Qur'an
Membaca Al-Qur'an, mempelajari maknanya, dan berusaha mengamalkannya dapat membantu memperkuat keimanan. Pelajari ayat dengan merujuk kepada tafsir dan penjelasan yang dapat dipercaya.
c. Menjaga lisan dan perilaku
Keimanan juga tercermin dalam cara seseorang berbicara dan memperlakukan orang lain. Hindari dusta, fitnah, ghibah, penghinaan, dan perkataan yang menyakiti tanpa alasan yang benar.
d. Menunaikan amanah
Menjaga amanah merupakan salah satu sifat orang beriman yang disebutkan dalam Al-Qur'an. Amanah dapat berupa tanggung jawab pekerjaan, janji, titipan, tugas belajar, maupun kepercayaan keluarga.
e. Membantu orang lain
Amal saleh tidak terbatas pada ibadah ritual. Membantu orang yang membutuhkan, memberikan nasihat yang baik, menjaga lingkungan, dan meringankan kesulitan sesama juga termasuk bentuk kebaikan.
f. Menjaga konsistensi dalam beramal
Jangan hanya bersemangat melakukan kebaikan dalam waktu singkat. Bangun kebiasaan baik secara bertahap dan terus-menerus. Amalan yang dilakukan dengan konsisten, meskipun sederhana, memiliki nilai penting dalam pembinaan diri.
g. Segera bertobat ketika melakukan kesalahan
Setiap manusia dapat melakukan kesalahan. Ketika terjatuh dalam dosa, seorang Muslim hendaknya segera bertobat, menyesali perbuatannya, berhenti dari dosa tersebut, dan bertekad untuk tidak mengulanginya.
11. Pertanyaan Umum tentang Iman dan Amal (FAQ)
1. Apakah benar amal termasuk bagian dari iman?
Ya. Dalam pemahaman Ahlus Sunnah wal Jamaah, iman mencakup keyakinan hati, ucapan lisan, dan amalan anggota badan. Dalilnya antara lain Surah Al-Baqarah ayat 143, Surah Al-Anfal ayat 2–4, serta hadis tentang iman yang memiliki lebih dari tujuh puluh cabang.
2. Apa maksud iman adalah ucapan dan perbuatan?
Maksudnya, iman mencakup keyakinan dan amalan hati, ucapan lisan, serta perbuatan anggota badan. Ketiga unsur tersebut saling berkaitan dan merupakan bagian dari pembahasan iman.
3. Apakah iman dapat bertambah dan berkurang?
Ya. Iman dapat bertambah karena ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan. Salah satu dalilnya adalah Surah Al-Anfal ayat 2 yang menjelaskan bahwa ayat-ayat Allah menambah keimanan orang-orang beriman.
4. Apa dalil bahwa shalat termasuk bagian dari iman?
Salah satu dalilnya adalah Surah Al-Baqarah ayat 143. Dalam ayat tersebut, Allah menyebut shalat kaum Muslimin sebelum perubahan arah kiblat sebagai iman.
5. Apa maksud hadis iman memiliki lebih dari tujuh puluh cabang?
Hadis tersebut menjelaskan bahwa iman memiliki banyak bentuk dan cabang. Cabang tertingginya adalah kalimat tauhid, sedangkan salah satu cabang yang paling sederhana adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Rasa malu juga disebut sebagai bagian dari iman.
6. Apakah orang yang melakukan dosa besar otomatis keluar dari Islam?
Tidak. Dalam prinsip Ahlus Sunnah, pelaku dosa besar tidak otomatis menjadi kafir hanya karena melakukan dosa tersebut. Namun, dosa besar tetap merupakan pelanggaran serius yang wajib ditinggalkan dan disertai tobat. Penilaian terhadap status seseorang harus mengikuti ketentuan syariat dan tidak dilakukan secara sembarangan.
7. Apakah pengakuan iman dengan lisan saja sudah cukup?
Pengakuan lisan memiliki kedudukan penting, tetapi pembahasan iman dalam Al-Qur'an dan Sunnah juga mencakup keyakinan hati serta amal. Karena itu, iman tidak seharusnya dipahami hanya sebagai ucapan yang terpisah dari ketundukan dan ketaatan.
8. Bagaimana cara meningkatkan iman?
Beberapa caranya adalah menjaga shalat, membaca dan memahami Al-Qur'an, memperbanyak zikir, mempelajari agama, bergaul dengan lingkungan yang baik, membantu sesama, dan menjauhi kemaksiatan.
9. Apa perbedaan iman dan amal saleh?
Iman merupakan keyakinan dan ketundukan yang mencakup hati, ucapan, serta amal. Amal saleh adalah perbuatan baik yang dilakukan sesuai tuntunan agama. Dalam pemahaman Ahlus Sunnah, amal saleh termasuk dalam cakupan iman, bukan sesuatu yang sama sekali terpisah darinya.
10. Mengapa amal saleh penting bagi seorang Muslim?
Amal saleh merupakan bentuk ketaatan kepada Allah dan salah satu wujud keimanan. Amal juga membawa manfaat bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat, serta menjadi bekal seorang Muslim dalam kehidupan akhirat.
12. Rangkuman dan Kesimpulan: Iman Harus Diwujudkan dalam Amal
Amal termasuk bagian dari iman merupakan prinsip penting dalam pemahaman Ahlus Sunnah wal Jamaah. Iman tidak hanya mencakup pembenaran di dalam hati atau pengakuan melalui lisan, tetapi juga meliputi amalan hati dan perbuatan anggota badan.
Al-Qur'an menjelaskan bahwa iman dapat bertambah, antara lain ketika seseorang mendengar ayat-ayat Allah. Al-Qur'an juga menyebut shalat sebagai iman dalam Surah Al-Baqarah ayat 143. Sementara itu, hadis tentang lebih dari tujuh puluh cabang iman menunjukkan bahwa keimanan mencakup berbagai bentuk ketaatan, baik berupa ucapan maupun perbuatan.
Rangkuman pembahasan
- Iman mencakup keyakinan hati, ucapan lisan, dan amalan anggota badan.
- Amal saleh termasuk dalam cakupan iman menurut pemahaman Ahlus Sunnah wal Jamaah.
- Iman dapat bertambah karena ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan.
- Surah Al-Baqarah ayat 143 menjadi salah satu dalil bahwa shalat disebut sebagai iman.
- Surah Al-Anfal ayat 2–4 menghubungkan iman dengan keadaan hati, tawakal, shalat, dan infak.
- Hadis tentang cabang-cabang iman menunjukkan luasnya bentuk ketaatan dalam Islam.
- Pelaku dosa besar tidak otomatis dihukumi kafir; perkara ini harus dipahami berdasarkan dalil dan penjelasan ulama.
- Seorang Muslim hendaknya menjaga iman dengan ilmu, ibadah, amal saleh, dan tobat.
Oleh karena itu, marilah kita berusaha memperkuat keimanan dengan mempelajari agama berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah, menjalankan kewajiban, memperbanyak amal saleh, serta menjauhi segala bentuk kemaksiatan. Jangan merasa cukup dengan pengakuan iman, tetapi berusahalah agar keyakinan tersebut membimbing seluruh perilaku dalam kehidupan.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala mengaruniakan kepada kita iman yang benar, ilmu yang bermanfaat, amal saleh yang diterima, dan keteguhan untuk istiqamah hingga akhir hayat.
Wallahu a'lam bish-shawab.
13. Referensi dan Sumber Bacaan
- Al-Qur'an Al-Karim: Surah Al-Baqarah [2]: 143; Al-Anfal [8]: 2–4; Al-Mu'minun [23]: 1–9; Al-Muddatsir [74]: 31; dan Al-Hujurat [49]: 15.
- Shahih Muslim, Kitabul Masajid, hadis Mu'awiyah bin Al-Hakam As-Sulami tentang jariyah, no. 537 menurut penomoran yang umum digunakan.
- Shahih Muslim, Kitabul Iman, hadis tentang cabang-cabang iman, no. 35.
- Imam Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, Kitabul Iman.
- Ibnu Taimiyah, Majmu' Fatawa, jilid 7, khususnya pembahasan iman, hlm. 505–506 menurut edisi yang dirujuk.
- Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim ibn Al-Hajjaj, penjelasan hadis Mu'awiyah bin Al-Hakam.
- Al-Lajnah Ad-Da'imah lil Buhuts Al-'Ilmiyyah wal Ifta', fatwa mengenai definisi iman dan hubungan iman dengan amal, sebagaimana dinukil dalam naskah sumber.
Artikel Terkait di Maznara
Untuk memperdalam pembahasan mengenai iman dan akidah Islam, silakan baca beberapa artikel terkait berikut:
Posting Komentar untuk "Amal Termasuk Bagian dari Iman"
Silahkan Berkomentar Dengan Bijak